Pendapat Saya Tentang Fatwa MUI Kota Samarinda Terkait Polisi Tidur

 

Malam ini di timeline akun Line saya ramai beredar berita daur ulang tentang Fatwa MUI Kota Samarinda yg memakruhkan dan mengharamkan Polisi Tidur yang mereka keluarkan pada tahun 2013. Entah apa maksud pendaur-ulangan berita ini. Komentar negatif yg ditujukan kepada MUI pun bermunculan. Saya khawatir ada upaya untuk mendelegitimasi MUI, sebagai dampak dari ramai-ramai you know what yang terjadi baru-baru ini. Semoga ini hanya kekhawatiran saya semata saja. Bagi yang belum membaca fatwanya, silakan disimak fatwa yg saya kutip dari blog MUI Kota Samarinda ini:
_
Assalaamu’alaikum Wr Wb
Salam silaturrahim kami sampaikan semoga senantiasa mendapat rahmat dan Hidayah dari Allah SWT.
Sehubungan dengan banyaknya Speed Trap / Polisi Tidur dijalan-jalan umum Wilayah kota Samarinda, maka dengan ini disampaikan sebagai berikut :

a. Bahwa Polisi Tidur yang terletak di jalan umum, yang tidak sesuai dengan aturan Perundang-Undangan yang berlaku dan Qoidah-qoidah agama, merupakan gangguan yang menjadikan madhorot (bahaya) bagi umat/ pengguna jalan pada umumnya, apabila Polisi Tidur tersebut sampai membahayakan pengguna jalan maka hukumnya menjadi Harom.

b. Larangan berbuat madhorot/ mempersulit orang, dan anjuran berbuat baik telah diatur dalam agama demikian juga segala aktifitas dan tindakan masyarakat/warga negara termasuk pembuatan polisi tidur, telah diatur pemerintah melalui peraturan pemerintah/peraturan negara.

c. Kepada Pemerintah Kota Samarinda kiranya dapat menertibkan Polisi Tidur di wilayah Kota Samarinda yang tidak sesuai dengan Qoidah Agama dan Peraturan Perundang-Undangan yang berlaku, semoga Allah SWT merahmati kita semua.

d. Dasar Hukum:

o QS. Al-Qoshosh(28):77, QS. Al-A’raf(7):56

o Beberapa Hadits Riwayat Bukhori dan Muslim

o Kitab Arbain, Riyadhushsholihin

o Qoidah Ushul

o Permenhub: No:3 th 1994 tentang alat pengendalian dan pengamanan jalan.
Demikian kami sampaikan, atas kerjasamanya kearah ini diucapkan terimakasih.
Wassalaamu’alaikum Wr Wb [1]
_

Yang patut dicatat adalah pertama, yang menjadi objek fatwa dapat dilihat di poin a yaitu “Polisi Tidur yang terletak di jalan umum, yang tidak sesuai dengan aturan Perundang-Undangan yang berlaku dan Qoidah-qoidah agama”. Jadi, bukan polisi tidur secara keseluruhan tanpa terkecuali. Hanya yang tidak sesuai kaidah sajalah yg menjadi objek fatwa.

Yang ke dua, bahwa fatwa ini sifatnya tidak menyelisihi peraturan pemerintah tentang alat pengendalian dan pengamanan jalan, melainkan mendukung peraturan tersebut. Hal ini jelas dapat terlihat dari apa yang disebutkan pada poin a, b, dan c. Fatwa ini juga bisa dibilang menguatkan legitimasi peraturan pemerintah tersebut dengan memberikan pandangan keagamaan mengenai aturan tersebut. Hal ini tentu saja tidak ada salahnya, dan hal yang baik.

Yang ke tiga, fatwa ini berisi juga anjuran dan merupakan upaya kembali mengingatkan pemerintah untuk menertibkan polisi tidur yang tidak sesuai aturan yang dapat menimbulkan mudharat. Saling menasehati dan mengingatkan kepada yang baik adalah hal yang baik.

Fatwa sendiri dalam bahasa arab artinya nasihat, petuah, jawaban, atau pendapat [2]. Fatwa ini adalah _jawaban_ dari keluhan masyarakat dan Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Samarinda sebagaimana diberitakan di vivanews 3 tahun lalu [3] . Fatwa ini adalah juga _pendapat_ keagamaan dari MUI karena MUI melandaskan pendapatnya dari ayat Al-Quran, Hadist Riwayat Bukhari Muslim, Kitab karangan para salafus sholeh, dan kaidah ushul fiqh. Fatwa ini juga merupakan _nasihat_ dan _petuah_ yang kita bisa lihat nasihatnya pada poin c Fatwa.

Jadi, berhusnudzanlah kita kepada para ulama. Kalaupun ada ulama yang salah, nasihatilah dengan arif dan bijaksana, bukan dengan cacian durjana. Ingatlah juga nasihat Ustadz Yusuf Mansyur, sesalah-salahnya ulama adalah sebenar-benarnya kita. Mari bersandar kepada ulama yang sholeh. Mari kita muliakan mereka.

Al-Haafidh Ibnu Hajar rahimahullahu ta’ala berkata :

“Tidak melazimkan bagi orang yang mengeluarkan satu hukum atau fatwa jika ia berijtihad lalu keliru dipikulkan dosa atas hal itu. Bahkan, jika ia telah mengerahkan seluruh kemampuannya (untuk berijtihad), akan diberikan pahala. Jika ia benar, dilipatkan pahalanya. Akan tetapi seandainya ia berani menghukumi atau berfatwa tanpa dasar ilmu, maka ia berhak mendapatkan dosa”. [4]

Wallahu a’lam

catatan:

[1] mui-samarinda.blogspot.co.id/2013/02/polisi-tidur-speed-trap-wilayah-kota.html

[2] https://id.wikipedia.org/wiki/Fatwa

[3] http://nasional.news.viva.co.id/news/read/388497-mui-samarinda-haramkan-polisi-tidur

[4] Fathul-Baariy, 13/318-319

Ridwan

Advertisements

Pernyataan Ahok dan Sekilas Tentang Tafsir Al-Qur’an

Saya tertarik mengomentari pernyataan Ahok di sini. Ahok pada menit 0.38-0.45 terlihat mencoba menafsir surat Al-Maidah ayat 51 hanya dari terjemahannya saja. Apakah boleh begitu?

Memang bisa saja kita memahami sebuah ayat Al-Qur’an dari teks/terjemahannya semata saja. Dalam Al-Qur’an ada yang dinamakan nash atau ayat yang qath’iy, yang artinya nash yang pasti dan meyakinkan sehingga tidak ada lagi kemungkinan makna selainnya. Namun, tidak semua nash / ayat al-Qur’an adalah qath’iy, yaitu yang disebut Zhanny. Yang zhanny maksudnya adalah nash yg memungkinkan memiliki dua makna atau lebih. Imam Abu asy-Syathibi dalam Shihab menyebutkan bahwa tidak ada, atau jarang sekali ditemukan sesuatu yang sifatnya qath’iy dalam dalil-dalil syara. Singkatnya, untuk memahami makna yang terkandung dalam ayat-ayat Al-Qur’an atau hadist, dibutuhkan sebuah penafsiran dengan menggunakan kaidah tafsir Al Qur’an. Ilmu tafsir Al-Qur’an adalah ilmu yg sudah ada sejak setelah generasi pertama umat Islam, yaitu dirintis oleh syaikh Ibnu Taimiyah (661 -728M).  Ilmu tafsir Al-Qur’an itu betul ada, bukan hal yang baru. Jadi, kalau mau menafsirkan Al-Qur’an, ya harus pakai kaidah sesuai dengan ilmu tafsir Al-Qur’an, tidak bisa sembarangan.

Tidak semua orang juga bisa jadi penafsir Al-Qur’an yang bener-bener penafsir karena tentu saja kalau mau jadi bener-bener penafsir ada syaratnya. Yang pertama ya kudu bisa bahasa Arab karena Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab. Tidak hanya harus bisa bahasa Arab, tapi dia juga harus mengerti linguistik atau tata bahasa Arab, yang bahkan mungkin orang Arab pun tidak semuanya paham. Selain itu tentu saja penafsir harus punya pengetahuan yang luas tentang Al-Qur’an dan Islam, harus banyak tahu hadist, riwayat, dan hal-hal yang termasuk dalam rumusan atau kaidah tafsir Al-Qur’an. Intinya tidak mudah lah untuk bisa menjadi penafsir Al-Qur’an yang bener-bener penafsir.

Kalau kita cuma baca terjemahan versi Depag ya bisa aja sih disebut menafsir. Cuma ya kalo begitu paling level tafsirannya dapat dibilang ga seberapa. Kasarnya sih masih cetek lah. Jadi, tentang tafsir ini kalau mau lebih jelas bisa baca bukunya Prof. Quraish Shihab judulnya Kaidah Tafsir, harganya 99 ribu di Tisera, atau ada juga buku terjemahan Ilmu Tafsir karya Ibnu Taimiyah, harganya 15 ribu doang, coba cari di Tisera Jatos kalau masih ada. Oh iya, kaidah tafsir Al-Qur’an ini jangan disamakan dengan metode penafsiran ala hermeneutika ya soalnya antara ke dua cara metodelogi tafsir ini punya kekhasan/perbedaan satu sama lain.

Kembali lagi ke persoalan Ahok. Dalam Video tersebut Ahok, yang mengkomentari QS.Al Maidah:51,  bilang bahwa “konteksnya bukan itu. Konteksnya jangan pilih Nasrani, Yahudi, jadi temanmu, sahabatmu.. sesuai terjemahan asli.” Intinya Ahok ingin bilang bahwa QS.Al-Maidah:51 gak lagi ngomongin memilih pemimpin/gubernur. Untuk lebih meyakinkan tentang tafsirannya, Ahok bilang bahwa dia 9 tahun sekolah Islam SD-SMP. Mungkin dengan bilang begitu Ahok bisa saja merasa bahwa sekolah 9 tahun di sekolah Islam membuat dia bisa menafsirkan ayat tersebut dengan benar. Pertanyaan dari saya adalah: apakah sekolah Islam Ahok itu dulu mengajarkan ilmu tafsir Al-Qur’an? Kalau iya dan Ahok  mengikuti pelajaran itu dengan baik pasti dia akan tahu bahwa kegiatan tafsir yang betul itu tidak sekedar membaca terjemahan dari ayatnya saja.

Setelahnya Ahok bilang bahwa ada “orang rasis dan pengecut menggunakan ayat suci di dalam Al-Qur’an tidak maksudnya seperti itu diplesetin seperti itu.” Nah, pandangan Ahok yang inilah sebenarnya yg bisa bikin ribut lagi, apabila sekali lagi ujaran Ahok ini adalah dalam konteks membahas Qs.Al-Maidah:51. Ahok seolah ingin bilang bahwa QS.Al-Maidah:51 itu diplesetkan. Lalu, dia membandingkan dengan ISIS yang memplesetkan ayat-ayat suci. Kata Ahok, ayat-ayat Al-Qur’an tidak salah, yg salah yg memplesetkannya. Namun, pertanyaannya adalah apakah yang banyak disampaikan ulama tentang makna Al-Maidah ayat 51 bahwa tidak boleh memilih orang Nasrani / Yahudi sebagai pemimpin adalah sebuah bentuk pemlesetan ayat suci? Tentu kalau jawabannya adalah iya, ini akan menjadi tuduhan yang serius.

Jadi bagaimana? Coba simak surat MUI DKI Jakarta kepada Ahok. Dalam poin 3 surat tersebut ditulis bahwa “Para Ulama atau Pendakwah telah menyampaikan apa yang digariskan oleh Al Qur’an yang tafsirnya disepakati oleh mayoritas Ulama, sehingga tidak dapat dipandang sebagai pembohongan atau pembodohan serta bukan bentuk politisasi ayat, tetapi bagian dari tugas para ulama untuk menyampaikan kebenaran Alquran.” Inilah jawaban yang saya anggap tepat atas dugaan tuduhan Ahok bahwa Al-Maidah ayat 51 itu maknanya diplesetkan untuk kepentingan politik. Inilah juga menjadi jawaban dari pertanyaan “kalau gak semua orang bisa jadi penafsir yang benar-benar, terus harus bagaimana?”. Jawabannya ya kita ngikut sama ulama-ulama, baik yang dulu maupun yang sekarang. Banyak masalah hukum dalam Islam yg sebenarnya sudah dibahas, dan sudah ada hasilnya dari jaman dahulu kala. Jadi, untuk beberapa hal gak usah repot lagi ngeributinnya, karena dulu jg udh ada yg pernah ngeributin masalah yg sekarang diributin lagi.

Makanya kan dalam teguran MUI itu ditulis “tafsirnya disepakati oleh mayoritas Ulama” . Kesepakatan atau Ijma jumhur ulama itu sumber hukum juga dalam Islam, setelah Hadist. Kalo kamu awam, ya ngikut aja sama ulama, dan ini dibolehkan dalam Islam. Kenapa ada madzhab atau jamiyah dalam Islam juga kan itu untuk memudahkan umat dalam berIslam. Jadi gak usah kita cape-cape nafsir atau nentuin hukum suatu hal sendiri; pake aja dari yang udah ulama terdahulu tetapkan. Kalau kamu merasa tidak awam, coba cek lagi apa betul tidak awam? Sudah ngerti bahasa/linguistik Arab seberapa dalam? Sudah tahu berapa ribu ayat Al-Qur’an dan hadist? Bergurunya sama siapa? Sanad ilmunya gimana? Jangan-jangan kita cuma merasa so-soan tidak awam saja, padahal nyatanya awam. Anehnya lagi, sekarang ada kecenderungan apa-apa didekonstruksi. Biar sesuai dengan keadaan zaman katanya. Kalau mau dekon silakan aja, tapi ya kudu ngerti dulu ilmu tafsir. Banyaknya sekarang ilmu tafsir Al-Qur’an gak paham, udah pengen langsung ngedekonstruksi aja. Kan kebalik jadinya.

Intinya, lebih baik memang kita tidak membicarakan sesuatu yang kita tidak benar-benar paham. Dalam hal ini saya rasa Ahok tidak tepat mengomentari QS. Al-Maidah:51. Kalau Ahok sudah meminta maaf, ya kita maafkan sajalah, toh dia berbicara karena ketidaktahuannya, bukan karena ketahuannya. Kalau ada umat Muslim yang marah, ya harap maklum saja asal mereka marah karena ketahuannya, bukan ketidaktahuannya. Lalu, untuk umat Muslim, mari kita kembali lagi kepada para Ulama yg bersandar kepada Al-Qur’an dan Hadist. Jangan pernah alergi sama Ulama. Kalau ngaji kita aja masih alakadarnya, ya ga usah mencoba melampaui batas dengan berpikir bisa menafsir ayat-ayat Al-Qur’an.

Walaupun kayanya memang tentang Ahok, tapi sebenernya tulisan ini adalah autokritik terhadap banyak umat Muslim saat ini yang saya rasa sudah mulai jauh dari ulama, bahkan merasa lebih hebat dari ulama, lebih jago nafsir dari ulama. Banyak yang berpikir ga ngikut ulama gapapa, ulama kan juga bisa salah. Ulama aja bisa salah, apalagi kebanyakan kita yang belajar agama saja alakadarnya, tapi suka memfatwakan ini halal itu haram. Memang ada juga ulama yang keliru. Maka dari itu untuk mengetahuinya kita harus belajar ilmu agama, tentu saja nantinya dalam konteks saling nasehat-menasehati, bukan untuk saling menjatuhkan. Boleh kita belajar ilmu apa saja, namun tetap jangan lupakan yang wajib: belajar ilmu agama. Semoga kejadian kontroversi Ahok ini menjadi pelajaran untuk kita semua.
“…Bertanyalah kepada Ahli Zikir (Ulama) jika kamu tidak mengetahui” [An-Nahl 43]

Wallahu a’lam

Ridwan

http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/16/10/10/oeswdz320-mui-dki-jakarta-tegur-keras-ahok-begini-isi-tegurannya

Sedikit Pandangan Saya Tentang Praktek OSPEK

-Ini adalah tulisan dari respon saya atas apa yang ada di gambar di atas-

Dalam sebuah kegiatan, evaluasi harus dilakukan dari berbagai macam arah. Bisa jadi yang salah adalah panitia, bisa jadi mabanya, bisa jadi juga keduanya. Apabila ada kasus demikian, saya kira budaya dialogislah yang diperlukan. Sistem itu dibangun dari masukan-masukan agar bisa tambah baik tiap saat. Panitia, maba, dan birokrat adalah subsistem-subsistem yang harus saling mendukung (hal baik) agar sistem yang lebih besar (fakultas/universitas) bisa lebih baik. Semuanya ingin yang terbaik. Kalau panitia merasa apa yg dilakukan sudah benar, ya jelaskan saja alasannya secara rasional sebagai insan akademis. Saya yakin pihak birokrat selalu terbuka akan dialog (seharusnya). Pepatah Arab pernah bilang bahwa kebenaran harus diterima meski keluar dari pantat ayam sekalipun. Harus kita ingat bahwa kita semua bisa saja salah. Mengingatkan seseorang bahwa dia bisa salah adalah cara bagus untuk mengingatkan bahwa dia hanyalah manusia. Salah satu cara untuk mengingatkannya adalah mengkritiknya. Budaya kritik mengkritik adalah budaya akademis sebagai perwujudan dari sifat ilmu pengetahuan yaitu kritis. If you don’t want to be critized then do nothing, say nothing, and be nothing. Begitu kata bule-bule sih. Jadi, sekali lagi yang harus dikedepankan adalah dialog. Kritik yang baik salah satunya yang dapat diarahkan menjadi dialog. Kalau memang merasa benar jangan takut untuk mempertahankan argumennya. Tidak perlu merasa kebakaran jenggot.

Lalu, evaluasi diri juga penting bagi panitia. Ketika ada kasus (di manapun itu, tidak hanya di kampus komplek Teknik Undip tersebut) mabanya lebih memilih membicarakan permasalahanannya ke birokrat bukannya ke panitia, harusnya muncul juga pertanyaan “jangan-jangan mabanya takut kepada kating/seniornya?”. Apakah ketakutan maba terhadap kating adalah salah satu indikator keberhasilan kaderisasi? Kalau itu adalah bukan, dan maba benar takut kepada senior seperti yang dibilang Samuel, lalu ini tanggung jawab siapa? Kalau panitia hanya mencoba menyalahkan maba dengan bilang ini adalah salah mereka yang cengeng, manja, dll, saya yakin tidak akan banyak perbaikan yang bisa didapat. Cobalah evaluasi diri / internal panitia sendiri: jangan-jangan metode yang panitia gunakan salah, jangan-jangan yang sering muncul adalah kesan marah dan jahat, bukan kesan ramah yang patut dihormati.

Pengedepanan aspek dialog dan evaluasi diri tentu saja akan sulit untuk terwujud apabila ada pihak yang sudah merasa superior bahkan arogan dengan ilmu yang dimiliki. Mereka merasa paling tahu, mereka merasa paling benar. Ketika sudah merasa paling tahu dan paling benar, maka akan sulitlah bagi mereka untuk menerima kebenaran yang sesungguhnya yang mungkin saja sedang tidak ada pada pihaknya. “Maba gak tau apa-apa”. “Maba gak bakal paham kalau blabla”. Belum tentu. Bisa saja ternyata mereka para maba juga tahu bahkan lebih tahu, bisa saja ternyata mereka juga paham bahkan lebih paham. Kata Socrates, orang bijak adalah mereka yang tahu kalau mereka tidak tahu; the more you know, the more you know that you don’t know. Dengan perasaan begitu, orang tidak akan menjadi jumud, tidak fanatik dengan pendapat sendiri. Bisa jadi sayalah yang salah karena kurangnya pengetahuan saya.

Dengan begitu juga, orang-orang seperti bisa saja malah menjadi orang-orang yang malahan sok tahu. Mereka menganggap orang lain tidak tahu apa-apa karena itu adalah kewajiban mereka untuk mengisi maba dengan ilmu yang menurut mereka cocok dan paling tepat, padahal belum tentu. Pemosisian maba sebagai tabula rasa alias kertas kosong hanya akan menghasilkan metode pembelajaran yang pasif. Dengan begitu, maba hanya diperlakukan sebagai objek pembelajaran semata, bukan sebagai subjek juga. Metodenya akhirnya hanya naratif satu arah, panitia sebagai sang omniscient, yang paling tahu segalanya mencoba mengisi pengetahuan kepada maba saja. Dengan begitu, tingkat partisipasi dari peserta didik bisa jadi lebih rendah.

Padahal, metode yang menurut saya lebih baik adalah dengan menempatkan baik panitia maupun peserta didik atau maba sebagai sama-sama subjek pembelajaran. Mereka adalah dua entitas yang belajar bersama-sama. Panitia bisa membagikan ilmunya ke maba, mabapun bisa membagikan ilmunya ke panitia. Tidak hanya tentang bagi ilmu saja, melainkan juga tentang saling memberikan atau bertukar pendapat. Atmosphere pembelajaran seperti ini tentu akan lebih baik ketimbang pembelajaran naratif satu arah. Untuk memungkinkan ini terjadi, dibutuhkan sebuah konsep kaderisasi yang tidak kaku, melainkan yang bisa lebih fleksibel mengikuti perkembangan kegiatan. Fleksibel artinya dapat disesuaikan, tapi bukan gimana nanti juga. Tetap harus direncanakan dari awal. Fleksibel berarti panitia mampu berimprovisasi apabila ada konsep atau kegiatan yang harus diperbaharui, tentu saja diperbaharui atas dasar pertimbangan dan dialog dengan semua pihak: panitia, birokrat, dan maba.

Intinya sih, dalam kasus seperti ini, kalau ada something wrong jangan buru-buru menunjuk orang lain sebagai biang keroknya, bisa jadi masalahnya sebenernya ada di dalam diri kita. Ingatlah bahwa ketika kita menunjuk orang lain menggunakan jari telunjuk kita, ada 4 jari yang sedang mengarah kepada diri kita sendiri.

Ridwan

Kematian Game Pokemon-Go?

Baru saja kiranya dunia dihebohkan oleh munculnya game fenomenal Pokemon-Go. Baru 3 minggu saya kira. Sudah pada tahu ya pasti gamenya. Pro kontra tentang game inipun cukup banyak diberitakan. Mulai dari yang menyangkut masalah keamanan negara, sampai masalah keamanan pengguna game karena banyak kasus yang tidak terduga seperti kecelakaan yang diakibatkan terlalu asik bermain game ini. Di komplek rumah saya saja tiap sore saya tak jarang ngeliat ada anak2 smp sma yang lagi maen game ini sambil bawa motor. Iya, ngendarain motornya nunduk nunduk begitu sambil lihat layar hand phone-nya nyari pokemon. Sangat berbahaya sekali.

Saya juga akhirnya jadi penasaran sekali sama game ini. Bagaimana tidak, tiap saat game ini diberitakan terus. Akhirnya sekitar satu minggu lalu saya download juga gamenya. Memang belum rilis di Indonesia waktu itu, tapi file mentahannya sudah tersebar di mana-mana. Saya install gamenya di rumah saya. Sekilas permainannya kayanya sederhana sekali. Kerjaan kita itu ya nyari pokemon, kalau berhasil ditangkep nanti dapet experience buat naik level. Lalu kalau dapet pokemon yang bagus nanti kita bisa ngadu sama pokemon orang lain di poke gym. Namun, yang jadi tidak sederhana adalah mencari si pokemonnya itu. Jadi, kita bener2 harus ke luar ruangan dan menyusuri jalan-jalan buat nemu pokemon. Itu sih yang bikin game ini beda; kita harus ke luar rumah untuk memainkannya. Namun, ternyata di sekitar rumah sedikit sekali pokemon dan pokestopnya (pokestop itu tempat di mana kita bisa dapet bola untuk nangkep pokemon dan juga barang lain). Akhirnya aplikasi ini saya anggurin deh sekitar 2 hari karena saya emang mager ke luar.

Suatu ketika Jumat minggu lalu saya Jumatan di Masjid Agung di kota saya. Setelah beres Jumatan saya keingetan kalo katanya di Masjid itu suka banyak pokestop-nya. Akhirnya saya buka lah itu aplikasi Pokemon-Go. Ternyata benar. Ada sekitar 6 pokestop di sana. Saya pun akhirnya berhasil menangkap beberapa pokemon. Karena di dekat masjid saya lihat dari map ada pokestop lagi, akhirnya sayapun jalan kaki ke sana. Sayapun akhirnya jadi kaya orang-orang yg di berita itu, yang kalo maen pokemon go sebentar-sebentar jalannya sambil nunduk liat ke layar handphone dan kadang seketika berhenti mendadak lalu berdiri beberapa saat buat nangkep pokemon.

Saya bisa dibilang emang gamer juga dulu. Mulai dari kelas 1 SD saya udah dibeliin Sega, suka main nitendo juga. Kelas 2 main game di komputer. SD kelas 3 udah main PS1, kelas 6 SD mulai main PS2. SMP mulai kenal game Online dan juga game symbian dan java sampai SMA kelas 3. SMA kelas 3 mulai kenal sama web-based game dan pc game. Sekarang pun masih kadang-kadang main PES dan game lain di laptop dan juga di android. Pokemon-Go ini saya rasa emang benar-benar memberikan sensasi bermain game yang benar baru.

Seru juga ternyata, pikir saya. Namun saya tidak mau waktu dan tenaga saya banyak terbuang gara-gara game ini. Saya juga punya prinsip dalam bermain game yaitu game yang benar-benar seru adalah yang bisa kita akalin. Saya orang yang tidak keberatan untuk makai jalan pintas dalam bermain game. Jalan pintas ini bagi saya lebih menghemat waktu dan tenaga, namun kesenangan dari bermain game masih bisa saya dapat walaupun saya sadari juga itu melanggar aturan. Tiap orang memang seleranya beda. Ada yang bilang kalau pakai jalan pintas/curang/cheat itu gak asik. Ya silakan saja itu kembali ke selera masing-masing orang.

Akhirnya sayapun nyari cara buat ngakalin game ini. Saya tanyakan hal ini ke yang ahlinya, yaitu mbah google. Akhirnya saya nemu satu cara yg menarik, yaitu main Pokemon Go make GPS Palsu yg dikenal dengan teknik GPS Spoofing. Jadi, dengan makai trik ini kita bisa dianggap berada di belahan dunia manapun yang kita mau. Jadi gak usah repot-repot pindah duduk dari kursi rumah. Namun, cara ini tentu beresiko. Akun kita bisa kena hukum (banned) kalau ketahuan: baik yg temporal maupun permanen. Saya pikir gapapa lah. Sudah resikonya begitu.

Dengan aplikasi GPS Palsu, pertama-tama saya setel lokasi saya untuk berada di alun-alun dalam kota. Gak mau jauh-jauh dulu, takut di-banned soalnya. Karena dalam kota masih sepi pokemon, akhirnya saya mutusin buat mindahin lokasi ke area Monas, Jakarta. Ternyata di monas rame banget pokemon, pokestop, sama gymnya. Spot paling rame di Indonesia katanya sih. Kalau hari libur ratusan orang rela berpanas-panas ria nyari pokemon di Monas. Gak heran sih. Soalnya gak sampe sehari hunting di Monas saya juga bisa naik ke level 11 dari level 4. Kalau di Monas aja udah rame, sayapun penasaran dengan kondisi di luar negeri. Pasti lebih rame dong.

Akhirnya sayapun nyari pokemon-nya pindah ke Melbourne, Australia, tentu saja pakai aplikasi GPS palsu. Viola! Akun saya ternyata masih aman. Sayapun hunting di sini selama kurang lebih dua hari. Di sini memang lebih ramai daripada di Jakarta. Sayapun akhirnya berhasil mencapi level 15. Saya juga mencari cara gimana biar kita bisa melihat pokemon di map. Ternyata memang ada caranya. Jadi kita tinggal scan aja mapnya, nanti nongol deh lokasi pokemonnya dan kita tinggal lompat aja pakai GPS palsu. Dari sini saya mulai berpikir sepertinya masa depan game fenomenal ini terancam. Sekarang udah banyak yg pakai GPS palsu dan bisa lihat pokemon di map. Ditambah lagi kita juga bisa masang joystick virtual buat main game pokemon ini. Jadi karakter kita bisa dijalanin tanpa kita harus jalan kaki beneran. Kalau dikombinasiin sama GPS palsu jadi mantep banget. Cara begini jelas-jelas tidak akan sesuai dengan tujuan developer atas game ini dan tentu saja meresahkan mereka dan yang susah-susah bermain secara normal.

Meski demikian, tetap saja leveling terasa sangat melelahkan akhirnya. Makin tinggi level, makin butuh banyak exp juga. Untuk ke level 16 itu kalau tidak salah butuh sekitar 20ribu exp. Setiap pokemon yg kita tangkap itu kita cuma dapat 100exp, kalau nangkap pokemon baru dapatnya 600exp, sedangkan untuk mampir di pokestop kita cuma dapat 50 exp, kadang-kadang dapat 100exp. Bayangkan berapa banyak pokemon yg harus ditangkap dan pokestop yg harus dikunjungi untuk bisa naik satu level. Apalagi, setelah saya tau kalau buat nyampai level akhir yaitu level 40 kita butuh total 20 juta exp. Bayangkan saya itu kalau mainnya normal gak macem-macem, untuk sampai level 40 pasti kaki pemainnya bakal kaya batang pohon palem. Jangankan level 40 deh, sampai level 30 aja coba. Ribuan jam akan mereka butuhkan untuk sampai tahap itu.

Untuk mengakalinya akhirnya saya menemukan aplikasi yang menurut saya merupakan ancaman sangat-sangat besar bagi pokemon-go. Aplikasi tersebut adalah aplikasi bot, atau robot. Jadi aplikasi ini memungkinkan karakter kita untuk main secara otomatis. Jadi tinggal disetting dan dijalankan saja aplikasinya dan karakter kita akan nyari pokemon dan pokestop sendiri. Aplikasi bot ini emang sudah lumrah dalam dunia game online. Saya juga dulu waktu SMA pernah ngebot game Ragnarok Online dan memang hampir semua game online/mmorpg waktu itu ada botnya. Untuk bot pokemon ini saya awalnya tidak sampai kepikiran kok ternyata ada yang buat aplikasinya dan berfungsi dengan sangat-sangat baik.

Saya udah mencoba beberapa versi dari bot pokemon go ini. Kinerja masing-masing bot pun bermacam-macam. Jadi, biasanya untuk yang sedang leveling, yang dijadikan patokan itu adalah exp per jamnya. Bot yang pernah saya coba bisa menghasilkan mulai dari 20ribu exp per jam sampai 90ribu exp per jam. Bahkan, bot yg baru saja saya dapatkan dapat menjanjikan sampai 200ribu sampai 1 juta exp per jamnya. Gila. Bisa ancur ini game! Untuk gambaran saja, hunting 20 ribu exp itu kalau pake gps palsu bisa makan waktu sekitar 4 jam. Itupun plus sakit leher. Ini dengan make bot kita bisa dapet puluhan ribu bahkan ratusan ribu exp per jam. Itupun bisa sambil kita tinggal komputernya. Saya akhirnya buat beberapa akun baru. Alhasil dalam waktu kurang lebih ngebot selama sekitar beberapa jam saja, karakter saya sudah bisa sampai level 20an.

Resikonya pun ada yaitu kena banned. Yang banyak terjadi adalah orang-orang pada kena softbanned alias ban sementara (berkisar 2 jam). Belum ada laporan yang kena permanent banned. Namun, gilanya lagi, para hacker dan cheater yang cerdas-cerdas itu sekarang udah nemuin bot yang anti soft ban dan memang bekerja dengan baik. Parah abis emang. Belum sampai di situ, kemaren juga telah ditemukan bot buat nangkep pokemon dari jauh. Jadi, kita tinggal masukin nama pokemon dan kordinat gps dari pokemon yang mau kita tangkap. Alhasil dalam gak sampai setengah jam, saya aja sudah bisa dapet beberapa pokemon langka dengan mudahnya. Makin hancur saja deh ini game. Kata sesepuh programmer yang ada di forum tempat saya nemuin cheat sih katanya dalam dunia pemrograman hampir tidak ada yang tidak bisa diprogram. Kayanya down-nya server pokemon tadi malam sampai sekarang dan juga server google device login adalah akibat bot-bot ini. Ada juga yang bilang kalau pihak pokemon-go sedang siap-siap untuk melakukan banning permanet besar-besaran buat para cheater dan botter. Sayasih gak terlalu cemas karena dari awal juga gak ada effort yang lebih buat main game ini. Kena banned pun tidak masalah. Nothing to lose aja.

Akhirnya, pokemon-go yang menimbulkan keramaian di mana-mana ini makin menarik orang-orang untuk menemukan celah-celah dalam game ini. Developer Pokemon-Go agaknya harus mengeluarkan usaha yang lebih untuk berkompetisi dengan mereka-mereka itu kalau tidak mau game-nya jadi berantakan akibat ulah-ulah mereka (dan saya sebagai penikmat). Meski demikian, beberapa game online yang saya tahu banyak botnya saya kira juga masih tetap ramai penggunanya kok. Semoga Niantic sebagai developer game Pokemon-Go bisa terus mengembangkan fitur gameplay yang lebih menarik dari waktu ke waktu sehingga para penggunanya akan selalu memilih stay with the game walaupun banyak kekurangan di sana-sini.

Apa Yang Sedang Erdogan Lakukan Kepada Turki?

This slideshow requires JavaScript.

Sebenarnya apa sih yang sedang terjadi di Turki? Sejak kudeta Jumat kemarin, setidaknya pemerintah turki telah melakukan hal-hal berikut:

-More than 1,500 university deans have also been ordered to resign and the licences of 21,000 teachers working at private institutions revoked.
-6,000 military personnel have been arrested, with more than two dozen generals awaiting trial
-Nearly 9,000 police officers have been sacked
-Close to 3,000 judges have been suspended
-Some 1,500 employees of Turkey’s finance ministry have been dismissed
-492 have been fired from the Religious Affairs Directorate
-More than 250 staff in Mr Yildirim’s office have been removed
http://www.bbc.com/news/world-europe-36838347

bahkan, Erdogan masih akan “membersihkan” sampai 50.000 orang http://mobile.reuters.com/article/idUSKCN0ZX07S

Data di atas membuat saya heran. Kenapa? Karena:

1. Dari mana sebenarnya pemerintah Turki mendapat nama sebanyak puluhan ribu itu? PM Yildirin memang bilang bahwa mereka mempunyai dokumen detail terkait percobaan kudeta tapi tidak disebutkan sumbernya dari mana. Namun beberapa media menyebutkan bahwa dokumen tersebut ditemukan pemerintah setelah penangkapan Kolonel Kose sang tertuduh pemimpin kudeta.

2. Apabila pemerintah Turki mendapatkan dokumennya bukan sebelum melainkan setelah percobaan kudeta maka dipastikan bahwa pemerintah Turki gagal dalam menjaga keamanan dan ketahanan negaranya dalam kasus kudeta ini. Saya berkata demikian karena agaknya sangat aneh sekali bahwa pihak semacam badan keamanan atau intelejen Turki tidak bisa mengendus percobaan kudeta ini padahal orang yang diduga terlibat percobaan kudeta jumlahnya tidak sedikit, sampai puluhan ribu. Namun, saya yakin pihak keamanan dan intelejen Turki tidak sebodoh itu.

3. Dengan demikian, janggal sekali apabila kudeta yg melibatkan bukan satu dua orang ini tidak diketahui oleh pemerintah Turki sebelum terjadinya. Yang membuat heran lagi adalah apabila benar begitu, kenapa akhirnya kudeta ini dibiarkan meletus oleh pemerintah sampai timbul korban jiwa? Atau biar gak berlarut-larut yasudah lah anggap saja memang pemerintah Turki telah gagal mengamankan negaranya dalam kasus percobaan kudeta ini. Memang tidak bisa dibilang sepenuhnya gagal, karena pemerintah Turki bisa juga menggagalkan kudetanya. Yang mencoba mengkudeta tentu buruk, namun harus diingat juga bahwa pemerintah memiliki tugas untuk mengamankan negaranya dari segala ancaman dan gagal mendeteksi kudeta yg disokong belasan ribu orang sangatlah memalukan.

4. Pihak Gulen dan Erdogan saling menuduh satu sama lain sebagai dalang dari kudeta gagal ini. Hal ini tentu saja akan menimbulkan kekecewaan antara pendukung masing-masing tokoh. Erdogan dan Gullen adalah dua tokoh yang dielu-elukan oleh pengikutnya masing-masing sebagai tokoh yang berintegritas. Kedua tuduhan itu akan sangat kecil kemungkinannya benar dua-duanya. Saya rasa akan ada satu tuduhan yang salah, atau ke dua-duanya salah. Kalau ada satu tuduhan yang salah maka ada satu tokoh yang memfitnah tokoh lain. Kalau dua-duanya salah maka ke dua tokoh tersebut  pemfitnah. Tuduhan menjadi dalang pengkudeta adalah tuduhan yg sangat serius, bahkan dalam hukum Islam kudeta atau bhugot itu adalah sebuah kejahatan yang serius. Akhir dari kasus ini tak pelak akan menimbulkan kekecewaan bahwa ada yang berbohong di antara ke dua tokoh tersebut.

5. Keterlibatan belasan ribu orang dalam kudeta menimbulkan pertanyaan besar mengenai apa yang sebenarnya sudah pemerintahan Erdogan lakukan terhadap mereka sehingga mereka harus ikut terlibat kudeta. Tentu saja memang pendukung Erdogan jumlahnya banyak juga dan di Turki memang banyak faksi politiknya baik berdasar ideologi, agama, maupun suku. Namun tetap saja bikin heran, kok ada sih yang sampe ngebela-belain bikin kudeta? Udah diapain memangnya mereka oleh pemerintah? Kalau memang dibilang yang terlibat kudeta itu tidak sampai puluhan ribu, melainkan hanya segelintir elit-elit saja, yasudah tolong jangan sampai orang-orang yang katanya sampai berjumlah 50.000 orang itu jangan dikriminalisasi ya, Pak Erdogan.

Dan baru-baru ini WikiLeaks mengklaim punya dokumen email Erdogan terkait kudeta dan akan segera membukanya ke publik. Akan semakin menarik nih hehe

-Ridwan

 

Spekulasi Saya Tentang Kudeta Turki

turkey-coup

Sumber Gambar: Google Images

Kalau ada yg bilang kudeta ini adalah skenario erdogan untuk pencitraan saya rasa tidak begitu, karena melakukan kudeta itu gak gampang, sangatlah rumit. 29 kolonel dan 5 jenderal itupun kayanya mana mau berkorban dijadiin boneka bodo-bodoan cuma buat pencitraan erdogan saja. Siapa yang mau juga  dicatat dalam sejarah sebagai para penghianat negara? Apalagi, katanya pimpinan faksi militer ini dekat dengan kelompok gulen. Terlalu beresiko untuk berinvestasi merencanakan upaya drama kudeta pada diri sendiri hanya untuk meningkatkan popularitas dan menggebuk lawan politik.

Yang akhirnya jadi menarik bagi saya adalah keberadaan dari erdogan ketika kudeta terjadi yaitu sedang liburan. Sederhana sekali ya sepertinya: sedang liburan pada hari Jumat (ya suka2 presiden juga sih mau liburan hari apa juga). Saya memiliki spekulasi, yaitu bahwa bisa jadi sebenarnya kudeta ini sudah diketahui oleh erdogan dan intejelen turki. Kemudian erdogan diamankan dan dibawa jauh dari ibu kota dengan alasan berlibur karena akan sangat repot apabila sang presiden ditahan oleh pengkudeta.

Kalau spekulasi saya ini benar, maka ini menjukkan bahwa kerja intelejen turki sangat baik sehingga bisa mendapatkan informasi mengenai kudeta. Bahkan hanya dalam waktu beberapa jam saja setelah proses percobaan kudeta berlangsung pemerintah langsung bisa menyebutkan bahwa dalangnya adalah fethullah gullen, rival erdogan. Hal ini bisa saja menguatkan asumsi saya bahwa sebenarnya informasi kudeta ini sudah bocor sebelum dilakukan. Akan lebih aman kalau pemerintah menunjuk hidung kolonel kose yang jelas2 ada di lapangan ketimbang gulen yang jelas-jelas sedang di Amerika. Walaupun memang kose diketahui sebagai orang dekat gerakan gulen sehingga wajar apabila dikaitkan dengan gulen, tetap saja pemerintah pasti punya sumber lain dari intelejen yang menyebutkan keterlibatan gulen. Intelejen bekerja dengan baik dalam kasus ini.

Di samping itu, bisa jadi juga intelejen turki tidak bekerja dengan baik karena ternyata percobaan kudeta telah dilakukan dan menimbulkan korban jiwa. Seharusnya apabila informasi tentang kudeta bisa didapat mereka, bisa saja kudeta diberangus sebelum dieksekusi sehingga tidak akan menimbulkan korban jiwa.

Namun, bisa jadi juga seperti yang sudah saya sebut di atas kalau sebenarnya informasi kudeta sudah diketahui pemerintah namun pemerintah sengaja mendiamkannya dan membiarkannya terjadi karena beberapa alasan tertentu, misalnya ingin menangkap basah (karena sebelum dilaksanakan, kudeta bukti belum cukup), atau alasan-alasan yang sifatnya politis.

Yang saya heran adalah kok ini pengkudetanya sepertinya amatir sekali. Pengkudeta gagal mendapatkan informasi tentang ketiadaan erdogan di ibu kota. Erdogan yang bebas pun akhirnya bisa berbicara di depan media mempropagandakan presepsi bahwa kudeta telah gagal yang akhirnya jadi realita. Ini juga menandakan bahwa sepertinya tidak ada orang ring 1 erdogan yang terlibat kudeta karena ya tidak ada supply informasi tentang kepergian erdogan. Atau, bisa jadi ini adalah kudeta yang dipaksa pecah sebelum waktunya. Kalau disebut “dipaksa” lalu siapa aktor yang memaksanya? Apa motifnya?

Ya sekali lagi ini hanyalah spekulasi dari saya. You be the judge

Tentang Pelarangan Aktivitas HTI di ISI

rektor-isi-keluarkan-sk-pelarangan-ormas-di-kampus-fm4elndzsg

sumber gambar: news.okezone.com

Komentar saya atas isi berita di tautan http://news.okezone.com/amp/2016/06/18/65/1418784/rektor-isi-keluarkan-sk-pelarangan-ormas-di-kampus?=utm_source=br

Kalau tidak salah, UU No. 17 Tahun 2013 tentang Ormas sudah mengatur tentang mana ormas yang boleh ada dan tidak di Indonesia. Salah satu pasalnya menyebutkan bahwa Ormas tidak boleh memiliki ideologi / asas yang bertentangan dengan Pancasila, sesuai hasil constitutional review yang diajukan ke MK. Ideologi  Hizbut Tahrir Indonesia adalah Islam, dan menurut mereka Islam tidak bertentangan dengan Pancasila. Jadi, menurut mereka secara perundang-undangan tidak ada UU yang mereka langgar. Namun bagaimana tentang pandangan mereka tentang Khilafah? Khilafah itu bukan ideologi mereka, namun adalah cara pandang teknis terhadap sistem pemerintahan yang ideal. Bagaimana apabila dibilang bahwa konsep daulah Khilafah itu bertentangan dengan konsep NKRI? Sejauh hanya dalam tataran konsep, masih di pikiran belum kepada tataran tindakan saya rasa tidak ada unsur pidananya atas ancaman terhadap keamanan negara. Tapi, kan mereka sudah mengumpulkan massa, sudah buat seminar-seminar? Apakah yang demikian tidak dianggap sebagai sebuah tindakan nyata? Tenang saja, mereka tidak akan melakukan kudeta terhadap pemerintahan kok, mereka juga tidak akan masuk ke lembaga legislatif untuk mengubah UU/UUD yanh ada di Indonesia. Mereka organisasi yang tidak memakai kekerasan fisik. Jadi sebenarnya mereka bukan merupakan ancaman bagi NKRI.

Kalau memang ISI yang melarang penyebaran Ideologi lain selain pancasila di kampusnya, ISI harus konsisten bahwa tidak hanya penyebaran ideologi Islam saja yang dilarang, ideologi-ideologi/isme-isme lain juga harusnya dilarang. Pokoknya cuma boleh pancasila saja. Tapi, gelagatnya sih kayanya sebenernya ISI bukan alergi sama Islam. Mereka kayanya cuma sebel aja sama HTI, bukan Islamnya hehehe

Kira-kira para penyuara kebebasan berekspresi, berserikat dan berkumpul bakal pada bersuara gak ya?