Terjemahan Jurnal “Ideopolitical shifts and changes in moral education policy in China” karya Wing On Lee a & Chi Hang Ho

Pengantar

Di China , pendidikan moral merupakan aspek yang selalu dikaitkan dengan bidang politik. Pendidikan moral ini setidaknya wajib dipelajari oleh tiap pelajar di China hingga tingkat perguruan tinggi. Hal ini karena pendidikan moral juga digunakan oleh Negara sebagai sarana sosialisasi politik, yaitu untuk  menanamkan ideologi dan nilai politik Negara kepada pelajar, maupun masyarakat secara luas. Karenanya, jenis pendidikan moral yang diterapkan mempengaruhi perubahan politik dan dipandang sebagai perubahan keadaan politik. Makalah tersebut akan menggambarkan bagaimana keterkaitan antara perubahan situasi politik dengan pendidikan Moral di China.

Pergeseran ideologi di China sejak 1978

Memasuki tahun 1990an, dunia menjadi saksi bagaimana ideologi Komunisme perlahan tapi pasti mulai ditinggalkan oleh negara – negara di benua Eropa. Meski demikian, China tetap menjadi satu negara yang tetap teguh mempertahankan ideologi Komunisme sebagai ideologi negaranya. Namun, Komunisme sebagai ideologi negara juga mendapat tantangan dari dalam. Dimulai pada tahun 1978, diskusi dan perdebatan mengenai reformasi dan open policy tidak hanya merambah aspek kebijakan publik saja, melainkan juga menjadi persoalan moral yang sangat inheren dengan persoalan ideologi. Intensitas perdebatan pun makin waktu terus meningkat. Periode 1978-1979, dengan mengadaptasi kebijakan yang terbuka, Deng Xioaping menghidupkan kembali kaum cendekiawan sehingga mereka dapat mengkritik baik kaum ultra-kiri (birokratis konservatif) maupun kaum ultra-kanan (individualis). Namun, kecenderungan berganti pada periode 1980-1982. Partai Komunis China (PKC) mulai mengkampanyekan untuk menolak para penulis “realis kritis” yang mereka anggap terlalu menyerang penguasa partai dan membuat kegaduhan sosial-politik. PKC-pun akhirnya “merekrut” para seniman dan penulis untuk mendukung Empat Prinsip Dasar (Four Cardinal Principles) dan menyuarakan pandangan penyeimbang terhadap pandangan para penulis “realis kritis” tersebut.

Pada periode 1983-1984, perdebatan ideologis terjadi dalam bentuk kampanye melawan pencemaran terhadap masyarakat spiritual. Perdebatan mengenai  “Humanisme Marxist” muncul karena hal tersebut dianggap bentuk kontaminasi dari pengaruh Barat dan individualisme. Periode 1985-1987 juga menjadi saksi perjuangan ideologi Komunisme. Pada September 1986, PKC menerbitkan Pedoman pembangunan masyarakat sosialis yang  salah satunya menyatakan bahwa produktivitas masyarakat China masih kurang untuk memenuhi industrialisasi dan komersialisasi untuk melanjutkan reformasi dan kebijakan yang terbuka. Hal tersebut memicu munculnya  demonstrasi besar-besaran yang dilakukan oleh mahasiswa. Kampanye anti liberalisasi borjuis pun kemudian pecah pada 1987 yang membuat Hu Yaobang, Sekretaris Jenderal PKC, mundur dari jabatannya. Kemunduran Hu ini berdampak pada munculnya otoritarianisme baru yang menganggap bahwa China butuh kepemimpinan yang kuat, bukan demokrasi gaya Barat di mana sistem multi-partai diterapkan.

Periode 1988-1889 ditandai dengan tuntutan publik untuk kemerdekaan pers dan demokrasi. Demonstrasi mahasiswa pun kembali pecah pada April 1989 dan terus berlangsung selama beberapa bulan yang sehinggap meletus pada 4 Juni di mana terjadi penembakan terhadap demonstran di Lapangan Tiananmen Beijing yang pada akhirnya membuat Zaho Ziyang mundur dari jabatannya sebagai Sekretaris Jenderal PKC.

Periode 1989-1991 adalah periode di mana PKC menargetkan kestabilan negara. Setelah insiden 4 Juni, PKC mempropagandakan kampanye menentang evolusi anti-kekerasan (fan helping yanbian) yang dianggap sebagai biang kerok runtuhnya sosialisme di Eropa Timur. Deng berulang-ulang mempropagandakan pentingnya kembali ke pada Empat Prinsip Dasar. Pelatihan wajib militer selama 10 bulanpun diwajibkan kepada mahasiswa baru di semua universitas di Beijing. Meski demikian, untuk memperkuat legitimasinya, Negara mulai berfokus kepada kegiatan pengembangan ekonomi ketimbang kegiatan politik.

Periode 1992-1995 merupakan periode liberalisasi ekonomi yang ditandai dengan kunjungan Den Xiaoping ke China Selatan. Kebijakan ekonomi yang diambil sebagai respon dari demonstrasi mahasiswa 1989 ternyata malah menimbulkan resesi. Kunjungan Deng ke wilayah China Selatan yang intensitas ekonominya tinggi merupakan sebuah pendeklarasian secara simbolis dari bangkit kembalinya kebijakan liberalisasi ekonomi melalui pemberlakuan kembalinya praktek ekonomi pasar. Reformasi ekonomi Deng ini didukung juga oleh Kongres Partai ke Empat Belas yang kemudian dianggap sebagai kontribusi untuk membangun sosialisme dengan karakteristik China.

Istilah “Ekonomi Pasar Sosialis” akhirnya diperkenalkan pada 1992. Pada tahun yang sama, pembangunan infrastruktur besar-besaran dilakukan. Keran investasi dan perdagangan asing pun kemudian dibuka. Lampu hijau terhadap liberalisasi inipun memunculkan perdebatan. Kelompok “neo konservatif’ akhirnya bermunculan. Mereka menganggap adanya kekosongan ideologi dan moral di tengah proses modernisasi dan marketisasi ini. Mereka menganggap bahwa solusi permasalahan tersebut adalah dengan menggalakan kembali rasa nasionalisme juga kembali kepada identitas budaya orang China, salah satunya yaitu kebudayaan Konfusian. Oleh mereka, Konfusianisme secara resmi kembali dipropagandakan selama masa yang disebut Revolusi Budaya ini.

Pengembalian kedaulatan Hong Kong dan Macau ke negara China pada periode 1996-1999,  memiliki implikasi politik yang besar. Istilah satu negara dua system menunjukkan tensi politik pada saat itu. Pemerintahan China ingin menunjukkan keterbukaannya kepada dunia, terutama Taiwan salah satunya dengan  memperbolehkan eksistensi sistem politik yang berbeda dalam negara tersebut. Namun, di sisi lain dua sistem ini dinilai dapat menular sehingga membahayakan negara. Akhirnya pemerintah China membuat usaha-usaha untuk menunjukkan kekuatan Negara untuk tetap memegang kendali politik pada periode tersebut. Ketegangan antara keterbukaan dan keketatan akhirnya menemui puncaknya pada periode ini.

Periode 2000-2001 ditandai dengan gerakan ideologis baru yang muncul pada tahun 2000. Istilah Tiga Perwakilan pun dikenalkan yang berarti PKC mewakili kekuatan produktif sosial yang maju, peradaban yang maju, dan kepentingan dasar seluruh rakyat. Hal ini dilakukan untuk menarik lebih banyak lagi pengikut ideologisnya, juga untuk menancapkan pengaruh pada sector ekonomi yang sedang berkembang. Akhirnya pada Desember 2001, World trade Organization (WTO) pun memasuki China. Hadirnya WTO ini dinilai menjadi pemicu restruktirisasi sistem manajemen ekonomi China juga membantu tumbuhnya atmosfir ekonomi yang lebih baik dan profesional bagi China.

Implikasi pergeseran ideologi terhadap kebijakan pendidikan moral

Dalam bidang pendidikan, patut dicatat bahwa Komite Pusat PKC selalu menerbitkan dokumen panduan yang menekankan posisi dari pemerintah dan yang memberikan arahan agar para tenaga pengajar membangun perilaku moral dan sikap yang sesuai dengan ideologi pada saat itu. Selain itu pemerintah juga menekankan bagaimana pentingnya peranan dari kaum intelektual sosialis dalam membentuk perilaku moral dasar masyarakat. Tentu saja ini dalam konteks bahwa pendidikan moral tidaklah dapat dipisahkan dari pendidikan ideopolitis. Sejauh ini, penulis telah mengidentifkasi tiga arah perubahan dalam kebijakan pendidikan moral di China, yaitu: (1) Pendidikan moral yang berorientasi politik (1949-1978); (2) Pendidikan moral yang secara bertahap terbebas dari politik (1978-1993); dan (3) Pendidikan moral yang sudah tidak politis (sejak 1993).

Pada periode pendidikan moral pertama (1949-1978), kurikulum pendidikan moral diarahkan untuk menyokong tujuan nasional juga mendukung ideologi negara. Kritik terhadap ideologi negara sangatlah dilarang. Nilai-nilai untuk mencapai tujuan negara juga ditanamkan seperti kolektivisme, patriotism, nasionalisme, dan rela berkorban. Pendidikan moral pada era ini juga disebut dengan pendidikan politik.

Para periode pendidikan moral ke dua (1978-1993), tepatnya pada 1979, Negara mengadaptasi kebijakan reformasi dan keterbukaan pada bidang pendidikan moral dengan mengeluarkan “Kode berperilaku untuk pelajar sekolah dasar dan menengah”. Menurut Kode tersebut, tujuan pendidikan moral adalah untuk membentuk pelajar yang memiliki: (1) idealisme, kualitas moral, budaya dan kedisplinan; (2) rasa cinta tanah air, dan juga hal yang berbau sosialisme; (3) dedikasi terhadap perkembangan bangsa; (4) kecintaan menuntut ilmu; (5)  kemauan berpikir dan keberanian untuk menjadi insan kreatif. Pada tahun 1988, kurikulum pendidikan politik mengalami revisi yang mendasar yaitu pengenalan secara berturut-turut dan berjenjang pelajaran kewarganegaraan, sejarah sosial, konstruksi sosialisme China, diterapkan pada pelajar sekolah menengah; dan pelajaran ilmu pengetahuan alam, ekonomi, dan politik diterapkan pada pelajar sekolah menengah atas. Dari sana dapat dilihat bahwa politik mulai dianggap sebagai subjek yang terpisah; pendidikan lebih berfokus pada perilaku pelajar.

Perubahan orientasi pendidikan ini berlangsung mulus. Pada periode ini pemerintah sedang memerangi kapitalisme/liberalisme dan juga revolusi damai yang dianggap sebagai ancaman bagi ideologi sosialis. Namun, di sisi lain karena modernisasi dan kebijakan terbuka sedang dicanangkan, pemerintah tentu membutuhkan kualitas moral baru yang sesuai dengan keadaan. Sehingga, pada 1993 dan 1994, pemerintah merilis dua dokumen yang sangat penting yang mengubah arah dari pendidikan moral. Dua dokumen tersebut mengusung ide pendidikan “dua pelajaran”, di mana pendidikan pelajaran ideopolitik didefinisikan sebagai kombinasi dari pendidikan pelajaran teori Marxis dan pendidikan pelajaran ideopolitik. Istilah pendidikan ideopolitik di sini merujuk pada “penggalian kualitas ideomoral” yang terdiri atas penggalian ideologis dan juga filosofi hidup. Dengan begitu, dokumen tersebut secara resmi membentuk era baru dari pendidikan moral, yang dipisahkan dari pendidikan politik.

Pada periode depolitisasi pendidikan moral (sejak 1993), kebijakan “dua pelajaran” berkontribusi dalam melegitimasi pendidikan moral yang berdiri sendiri, terpisah dari politik. Pemerintah pada 1996 dan 2001 merilis dua dokumen terkait kurikulum pendidikan yang menekankan kepada pengembangan kesehatan psikologis tiap pelajar dan kemampuan penilaian moral. Dapat disimpulkan bahwa kurikulum pendidikan moral yang dikembangkan pada periode ini mengedepankan kebutuhan masyarakat China yang sedang menghadapi modernisasi dan mulai membuka diri terhadap dunia. Hasilnya, liberalisasi kurikulum ini menjadi terarah untuk fokus pada perkembangan individu ketimbang sebagai sarana sosialisasi politik.

Kesimpulan

Perubahan sosial-politik China dalam periode 20 tahun tersebut mengubah orientasi pendidikan moral negara yang termaktub dalam kurikulum pendidikannya. Dengan diluncurkannya kebijakan modernisasi yang dikaitkan dengan kebangkitan ekonomi pasar, masyarakat China menjadi sangat terbuka. China perlahan tapi pasti sedang berjalan pada track demokratisasi yang benar. Dampak dari perubahan politik, sosial, dan ekonomi ini sangat jelas terlihat dalam bidang pendidikan. Berdasarkan yang telah dipaparkan, sejarah perkembangan kurikulum kewarganegaraan terbagi ke dalam tiga periode besar yaitu, periode berorientasi politik, periode berorientasi moral dan politik secara parallel, dan periode berorientasi moral. Secara tematis, penulis menemukan bahwa kurikulum moral saat ini mengalami peningkatan pada tiga tema kunci, yaitu (1) pembahasan terhadap elemen pendidikan internasional dalam pendidikan nasionalistik, (2) peningkatan upaya pendidikan yang memperjuangkan demokrasi dan hukum dalam proses modernisasi dan marketisasi seiring masuknya WTO, dan juga  (3) penekanan pada pendidikan kesehatan psikologis yang berfokus pada pentingnya keunggulan skill individu dalam masyarakat. Perubahan fundamental sangatlah terlihat dalam kurikulum pendidikan moral. Imbuhan “ideo-“ telah dihapuskan dari deskripsi pendidikan moral,yang secara eksplisit menandai depolitisasi kurikulum pendidikan moral di China. Di tambah lagi, meskipun patriotisme dan kolektivisme masih dianggap sebagai komponen penting dalam pendidikan moral, kepribadian dan pengembangan karakter juga menjadi sangat ditekankan pada kurikulum pendidikan moral. Pemerintah China yang sekarang lebih terbuka akan memungkin meningkatnya partisipasi masyarakat dalam pengembangan bahan pendidikan moral ke depannya.

end.

 

Original Text: http://www.tandfonline.com/doi/abs/10.1080/03057240500410160

Sedikit Pandangan Saya Tentang Praktek OSPEK

-Ini adalah tulisan dari respon saya atas apa yang ada di gambar di atas-

Dalam sebuah kegiatan, evaluasi harus dilakukan dari berbagai macam arah. Bisa jadi yang salah adalah panitia, bisa jadi mabanya, bisa jadi juga keduanya. Apabila ada kasus demikian, saya kira budaya dialogislah yang diperlukan. Sistem itu dibangun dari masukan-masukan agar bisa tambah baik tiap saat. Panitia, maba, dan birokrat adalah subsistem-subsistem yang harus saling mendukung (hal baik) agar sistem yang lebih besar (fakultas/universitas) bisa lebih baik. Semuanya ingin yang terbaik. Kalau panitia merasa apa yg dilakukan sudah benar, ya jelaskan saja alasannya secara rasional sebagai insan akademis. Saya yakin pihak birokrat selalu terbuka akan dialog (seharusnya). Pepatah Arab pernah bilang bahwa kebenaran harus diterima meski keluar dari pantat ayam sekalipun. Harus kita ingat bahwa kita semua bisa saja salah. Mengingatkan seseorang bahwa dia bisa salah adalah cara bagus untuk mengingatkan bahwa dia hanyalah manusia. Salah satu cara untuk mengingatkannya adalah mengkritiknya. Budaya kritik mengkritik adalah budaya akademis sebagai perwujudan dari sifat ilmu pengetahuan yaitu kritis. If you don’t want to be critized then do nothing, say nothing, and be nothing. Begitu kata bule-bule sih. Jadi, sekali lagi yang harus dikedepankan adalah dialog. Kritik yang baik salah satunya yang dapat diarahkan menjadi dialog. Kalau memang merasa benar jangan takut untuk mempertahankan argumennya. Tidak perlu merasa kebakaran jenggot.

Lalu, evaluasi diri juga penting bagi panitia. Ketika ada kasus (di manapun itu, tidak hanya di kampus komplek Teknik Undip tersebut) mabanya lebih memilih membicarakan permasalahanannya ke birokrat bukannya ke panitia, harusnya muncul juga pertanyaan “jangan-jangan mabanya takut kepada kating/seniornya?”. Apakah ketakutan maba terhadap kating adalah salah satu indikator keberhasilan kaderisasi? Kalau itu adalah bukan, dan maba benar takut kepada senior seperti yang dibilang Samuel, lalu ini tanggung jawab siapa? Kalau panitia hanya mencoba menyalahkan maba dengan bilang ini adalah salah mereka yang cengeng, manja, dll, saya yakin tidak akan banyak perbaikan yang bisa didapat. Cobalah evaluasi diri / internal panitia sendiri: jangan-jangan metode yang panitia gunakan salah, jangan-jangan yang sering muncul adalah kesan marah dan jahat, bukan kesan ramah yang patut dihormati.

Pengedepanan aspek dialog dan evaluasi diri tentu saja akan sulit untuk terwujud apabila ada pihak yang sudah merasa superior bahkan arogan dengan ilmu yang dimiliki. Mereka merasa paling tahu, mereka merasa paling benar. Ketika sudah merasa paling tahu dan paling benar, maka akan sulitlah bagi mereka untuk menerima kebenaran yang sesungguhnya yang mungkin saja sedang tidak ada pada pihaknya. “Maba gak tau apa-apa”. “Maba gak bakal paham kalau blabla”. Belum tentu. Bisa saja ternyata mereka para maba juga tahu bahkan lebih tahu, bisa saja ternyata mereka juga paham bahkan lebih paham. Kata Socrates, orang bijak adalah mereka yang tahu kalau mereka tidak tahu; the more you know, the more you know that you don’t know. Dengan perasaan begitu, orang tidak akan menjadi jumud, tidak fanatik dengan pendapat sendiri. Bisa jadi sayalah yang salah karena kurangnya pengetahuan saya.

Dengan begitu juga, orang-orang seperti bisa saja malah menjadi orang-orang yang malahan sok tahu. Mereka menganggap orang lain tidak tahu apa-apa karena itu adalah kewajiban mereka untuk mengisi maba dengan ilmu yang menurut mereka cocok dan paling tepat, padahal belum tentu. Pemosisian maba sebagai tabula rasa alias kertas kosong hanya akan menghasilkan metode pembelajaran yang pasif. Dengan begitu, maba hanya diperlakukan sebagai objek pembelajaran semata, bukan sebagai subjek juga. Metodenya akhirnya hanya naratif satu arah, panitia sebagai sang omniscient, yang paling tahu segalanya mencoba mengisi pengetahuan kepada maba saja. Dengan begitu, tingkat partisipasi dari peserta didik bisa jadi lebih rendah.

Padahal, metode yang menurut saya lebih baik adalah dengan menempatkan baik panitia maupun peserta didik atau maba sebagai sama-sama subjek pembelajaran. Mereka adalah dua entitas yang belajar bersama-sama. Panitia bisa membagikan ilmunya ke maba, mabapun bisa membagikan ilmunya ke panitia. Tidak hanya tentang bagi ilmu saja, melainkan juga tentang saling memberikan atau bertukar pendapat. Atmosphere pembelajaran seperti ini tentu akan lebih baik ketimbang pembelajaran naratif satu arah. Untuk memungkinkan ini terjadi, dibutuhkan sebuah konsep kaderisasi yang tidak kaku, melainkan yang bisa lebih fleksibel mengikuti perkembangan kegiatan. Fleksibel artinya dapat disesuaikan, tapi bukan gimana nanti juga. Tetap harus direncanakan dari awal. Fleksibel berarti panitia mampu berimprovisasi apabila ada konsep atau kegiatan yang harus diperbaharui, tentu saja diperbaharui atas dasar pertimbangan dan dialog dengan semua pihak: panitia, birokrat, dan maba.

Intinya sih, dalam kasus seperti ini, kalau ada something wrong jangan buru-buru menunjuk orang lain sebagai biang keroknya, bisa jadi masalahnya sebenernya ada di dalam diri kita. Ingatlah bahwa ketika kita menunjuk orang lain menggunakan jari telunjuk kita, ada 4 jari yang sedang mengarah kepada diri kita sendiri.

Ridwan

Biaya Kuliah di Berbagai Negara di Dunia

college-education

sumber gambar: google images

Belakangan ini saya sering dengar para mahasiswa bicara tentang biaya kuliah/Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang katanya banyak masalah di sana sini. Ada yang bilang UKT yang diterapkan di beberapa universitas kenamaan di Indonesia tidak terjangkau oleh khususnya kalangan menengah dan menengah ke bawah (mahal). Saya akhirnya jadi penasaran sebenernya kalau di negara lain itu “biaya kuliahnya berapaan sih?”. Yasudah saya cari saja data yang kira-kira bisa saya dapat dengan gak susah susah amat. Ini dia rata-rata biaya kuliah (SPP/tuition) Undergraduate Program/Bachelor Degree (S1) di beberapa negara di dunia untuk warga negaranya (domestic citizens) bukan international students (karena untuk int. students biasanya tuition nya lebih mahal):

Amerika Serikat (GDP per capita US$56,300): Besaran rata-rata tuition di universitas-universitas negeri (public) di AS adalah sekitar $9,139 per tahun. http://www.topuniversities.com/student-info/student-finance/how-much-does-it-cost-study-us

Kanada (GDP per capita US$45,900): Biaya kuliah di universitas negeri di Kanada berkisar CA$6,000 (~US$4,534) per tahun. http://www.topuniversities.com/student-info/student-finance/how-much-does-it-cost-study-canada

Argentina (GDP per capita US$22,400): Biaya kuliah di universitas negeri di Argentina gratis. http://www.thecompleteuniversityguide.co.uk/international/central-and-south-america/argentina/

Brazil (GDP per capita US$15,800): Biaya kuliah di universitas negeri di Brazil gratis. http://www.topuniversities.com/where-to-study/latin-america/brazil/guide#tab=2

Jerman (GDP per capita US$47,400): Gratis biaya kuliah di universitas-universitas negeri namun biasanya ada biaya administrasi per semester dengan kisaran sampai dengan EUR 250  http://www.topuniversities.com/student-info/university-news/undergraduate-tuition-fees-axed-all-universities-germany

Belanda (GDP per capita US$49,300): Rata-rata biaya kuliah di universitas negeri di Belanda adalah EUR 1,984 per tahun. http://www.studyinholland.co.uk/tuition_fees.html

UK (GDP per capita US$41,200): Biaya kuliah di universitas negeri di Inggris dan Wales maksimal sebesar £9,000 per tahun. Namun, Biaya kuliah beberapa universitas negeri sekitar £6,000 per tahun. http://www.topuniversities.com/student-info/student-finance/how-much-does-it-cost-study-uk

Austria (GDP per capita US$47,500): Biaya kuliahnya gratis. http://www.mastersportal.eu/articles/405/tuition-fees-at-universities-in-europe-overview-and-comparison.html

Finlandia (GDP per capita US$41,200): Biaya kuliahnya gratis. (ibid.)

Norwegia (GDP per capita US$68,400): Gratis biaya kuliah di universitas negeri. Namun tiap semester mahasiswa harus membayar biaya administrasi sebesar NOK 300-600 (32 – 64 EUR approx.) (ibid.)

Swiss (GDP per capita US$59,300): Biaya kuliah di universitas negeri di Swiss berkisar pada 580 CHF (535 EUR) per semester. (ibid.)

Spanyol (GDP per capita US$35,200): Biaya kuliah di Universitas negeri di Spanyol berkisar antara 680 – 1,400 EUR per academic year. (ibid.)

Perancis (GDP per capita US$41,400): Biaya kuliah di universitas negeri di Perancis berkisar antara 200-600 EUR per tahun. (ibid.)

Italia (GDP per capita US$35,800): Biaya kuliah di universitas negeri di Italia berkisar antara 850-1000 EUR per tahun. (ibid.)

Jepang (GDP per capita US$38,200) : Rata-rata biaya kuliah di Universitas negeri di Jepang berkisar antara ¥500,000 sampai ¥1,000,000 (US$4,140-8,280) per tahun. http://www.topuniversities.com/where-to-study/asia/japan/guide#tab=2

Korea Selatan (GDP per capita US$ 36,700): Rata-rata biaya kuliah di Universitas negeri di Korea Selatan berkisar antara US$2,000 sampai US$4,500 per semester. http://www.topuniversities.com/where-to-study/asia/south-korea/guide#tab=2

Australia (GDP per capita US$65,400): Rata-rata biaya kuliah di universitas negeri di Australia berkisar antara AU$6,152 (US$4,770) sampai AU$10,266 (US$7,960) per tahun. http://www.topuniversities.com/student-info/student-finance/how-much-does-it-cost-study-australia

China (GDP per capita US$14,300): Rata-rata biaya kuliah di universitas negeri di China sebesar US$3,500 per tahun. http://www.topuniversities.com/where-to-study/asia/china/guide#tab=2

Arab Saudi  (GDP per capita US$55,400): Pemerintah Arab Saudi memberikan banyak beasiswa kepada mahasiswa sehingga biaya kuliah di sana relatif gratis. http://www.studyoverseas.com/studying-abroad/study-in-middle-east/study-in-saudi-arabia/#h2

India (GDP per capita US$6,100): Biaya kuliah di universitas ternama di India rata-rata Rs50.000 (USD736) per tahun.  http://www.studyabroaduniversities.com/Cost-of-Study-and-Living-in-India.aspx

Singapura (GDP per capita US$85,700) : Rata-rata biaya kuliah di universitas negeri di Singapura S$14,000 (~US$10,000). http://www.topuniversities.com/where-to-study/asia/singapore/singapore/guide#tab=2

Malaysia (GDP per capita US$26,600): Rata-rata biaya kuliah di universitas negeri di Malaysia adalah US$3,985 per tahun. http://www.topuniversities.com/where-to-study/asia/malaysia/guide#tab=2

Brunei Darussalam (GDP per capita US$79,700): Hanya ada 12 universitas negeri di Brunei. Biaya kuliah di Universiti Brunei Darussalam berkisar antara B$3,000 (non laboratory based) sampai B$10,000 (laboratory based/medical/engineering) (US$2,228 – US$7,429) per tahun. http://www.ubd.edu.bn/governance/administrative-services/bursar-office/tuition-fees/undergraduate-programmes/

Filipina (GDP per capita US$7,500): Biaya kuliah di the 4 top universities di FIlipina berkisar antara P50,000 (Uni. Of the Phillipines) sampai P178,241 (Ateneo De Manila Uni.) (US$1,064 – US$3,793) (http://www.imoney.ph/articles/cost-college-top-schools-philippines-world/

Indonesia (GDP per capita US$11,300): Biaya kuliah di PTN berkisar antara 0 sampai belasan juta per semester.

Silakan tarik kesimpulan sendiri aja….

Catatan:
-Sumber yang dipakai rata-rata berasal dari tahun 2015 dan 2016

-GDP per capita tercantum adalah GDP per capita tahun 2015 https://en.wikipedia.org/wiki/List_of_countries_by_GDP_(PPP)_per_capita

-Kurs BCA 24 Juni 2016
USD1 = IDR13.380,00
EUR1 = IDR14.913,68
GBP1= IDR 18.607,05
Kurs BCA 24 Juni 2016 http://www.bca.co.id/Individu/Sarana/Kurs-dan-Suku-Bunga/Kurs-dan-Kalkulator

Catatan Untuk Kegiatan Ospek di Unpad

ospekunpad

http://jabar.tribunnews.com/2015/07/11/masuk-unpad-bakal-dipelonco-senior-rektor-jamin-tidak-akan-terjadi

Ketika Rektor menjamin bahwa tidak akan ada perpeloncoan berarti beliau mempunyai semangat dan komitmen untuk mewujudkan visi unpad ngahiji, unpad ka hiji dan menganggap bahwa perpeloncoan tidaklah relevan untuk menjadi sarana mewujudkan visi tersebut. Rektor berarti percaya bahwa ada cara lain yang bisa dilakukan agar kita bersatu dan menjadi yang ke satu, dan yang jelas cara itu bukanlah perpeloncoan. Pada kesempatan rapat kerja masjid kampus Unpad, Rektor berkomitmen bahwa PMB Unpad harusnya Islami. Karena perpeloncoan tidaklah Islami, maka saya berkesimpulan bahwa perpeloncoan tidak boleh ada di PMB Universitas kita tercinta ini, dan ternyata akur dengan isi berita yang kamu bagikan itu.

Masalahnya, menurut pengalaman saya dari yang sudah-sudah, yang mempelonco itu merasa mereka tidak mempelonco. Dalihnya macam2. Ingin melatih mental lah, rasa disiplin, rasa saling menghormati, rasa kekeluargaan dan lain-lain. Ada yg melakukan perbuatan tersebut secara tertutup, ada juga yg terbuka. Namun, banyak pihak yang menganggapnya wajar, tidak mau ambil pusing. Asal yang tidak ada yang tersakiti dan/atau mati tidaklah masalah. Tentu saja kalau seperti tidak mencerminkan sebuah tindakan yang preventif, melainkan reaktif saja terhadap apa yang sudah (nantinya) terlanjur terjadi.

Ketika Rektor menjamin bahwa tidak akan ada perpeloncoan dalam PMB Unpad, maka hal tersebut (perpeloncoan) tidak akan hilang begitu saja dengan seketika. Perlu ada penerjemahan dari perkataan tersebut, yaitu dengan sebuah tindakan, sebuah kebijakan. Siapa yang harus mengeksekusinya? Tentu saja bawahan dan rekan kerja beliau. Kita semua. Saya tidak bermaksud untuk menggurui. Saya ingin mengingatkan kembali saja. Teman-teman sebagai petinggi organisasi pasti lebih paham daripada saya.

Ketika Rektor sudah berkata bahwa tidak akan tidak ada perpeloncoan dalam PMB di Unpad, itu bagi saya belumlah cukup karena masih sebatas perkataan saja. Bagi saya, komitmen tersebut harus juga dibuat dalam bentuk tulisan. Ada pepatah Latin yang berbunyi “Verba volant, scripta manent” yang artinya kurang lebih adalah “Kata-kata yang terucap akan lenyap tak berbekas, namun kata-kata yang dituliskan akan abadi.” Jadi, tidak ada salahnya kita menulis komitmen tersebut untuk kemudian dideklarasikan. Tentu saja bukan dalam arti kita tidak mempercayai beliau, melainkan untuk lebih menegaskan kembali komitmen tersebut, dan juga sebagai pembiasaan bagi kita semua untuk mulai menerapkan tidak hanya sekedar budaya lisan, melainkan budaya tulisan.

Deklarasi PMB Unpad Tanpa Perpeloncoan sebagai bentuk dari penerjemahan kita atas komitmen Rektor ini dapat juga kita gunakan sebagai branding tersendiri. Maksudnya, kita semua tahu bahwa masih banyak oknum Perguruan Tinggi baik Swasta maupun Negeri yang masih didapati melakukan perpeloncoan dalam prosesi Penerimaan Mahasiswa Baru/Ospek mereka. Nah, dengan deklarasi tersebut, Unpad dapat muncul sebagai Universitas yang berani secara tegas dan terbuka menolak praktek perpeloncoan tersebut. PMB Unpad menjadi PMB yang beda dengan PMB PTN lain dengan inovasi-inovasi yang dilakukan oleh panitia, dan yang terpenting tentu saja dengan tanpa adanya perpeloncoan. Sudahmah berinovasi, ditambah tanpa perpeloncoan. Wah, pasti akan harum sekali nama Unpad, juga akan menambah lagi kecintaan mahasiswanya terhadap almamater.

Selain diadakannya Deklarasi, bagi saya (seperti yang sudah saya ceritakan kepada beberapa kawan) penting juga bagi Rektor untuk membuat sebuah wadah/kepanitiaan kecil untuk memastikan bahwa PMB di Unpad bebas perpeloncoan. Memang sudah ada P2K2M di tiap-tiap fakultas, tapi saya rasa P2K2M pun pada satu dan beberapa kesempatan  akan sangat terbatas untuk melakukan pengawasan: seperti ketika PMB dilakukan malam hari, di luar kampus, atau berbentrokan dengan agenda ybs, atau ketika perpeloncoan biasanya terjadi tidak di depan mata para pejabat kampus, melainkan dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Maka dari itu, nanti P2K2M akan dibantu oleh panitia kecil ini. Dibantu dalam hal apa? Saya akan jelaskan di sini.

Rektor ingin bahwa PMB Unpad tanpa perpeloncoan. Kita semua pasti sepakat bahwa tindak kekerasan fisik dan psikologis masuk dalam kategori tindak perpeloncoan. Kekerasan fisik kiranya cukup jelas lah, dapat nampak dan terlihat ketika dilakukan visum. Nah, yang rada sulit ini adalah kekerasan psikologis. Kekerasan psikologis termasuk kepada perbuatan tidak menyenangkan, dan dulu merupakan tindak pidana sebagai termaktub dalam pasal 335 KUHP. Deliknya adalah delik aduan, jadi sifatnya subjektif. Ketika saya didandani seperti badut dan dibentak-bentak dalam sebuah lingkungan akademik, tentu saja saya akan menganggap hal tersebut adalah suatu perbuatan yang tidak menyenangkan. Pelakunya bisa saja saya laporkan ke polisi dan pelakunya bisa dijerat dengan pasal 335 KUHP tersebut. Namun, ada juga yang merasa bahwa pembadutan dan pembentakan bukanlah sebuah tindakan yang tidak menyenangkan bagi dia, yang tentunya ketika ada model yang seperti ini kita semua jadi heran: kok ada ya yang tidak masalah apabila diperlakukan secara tidak baik? Namun, ketika ada kasus seperti itu, maka bukan berarti pembadutan dan pembentakan dalam lingkungan akademik bagi saya bukanlah sebuah tindakan yang haq melainkan perbuatan tersebut tetaplah perbuatan yang bathil. Jadi, walau secara hukum pembadutan dan pembentakan (perbuatan tidak menyenangkan) deliknya adalah aduan (subjektif), secara hakiki tetap saja hal itu merupakan perbuatan bathil.

Namun, pada Januari 2014, Mahkamah Konstitusi sudah menghapus frasa “perbuatan tidak menyenangkan” dari pasal 335 KUHP. MK menganggap bahwa frasa tersebut sangatlah subjektif dan membuat pasal 335 KUHP menjadi seperti pasal karet yang tidak dapat mewujudkan kepastian hukum yang sehingga melanggar konstitusi dan harus dihapus. Meskipun begitu, yang saya coba tangkap dari putusan MK ini adalah bahwa karena perbuatan tidak menyenangkan ini subjektif, sehingga apabila dibawa ke ranah hukum akan sangat memakan waktu dan tenaga sekali. Jadi, ketika seseorang diperlakukan dengan tidak menyenangkan, maka seyogianya kasus tersebut diselesaikan secara internal saja, tidak usah dibawa ke ranah hukum formal.

Dengan demikian, karena perbuatan tidak menyenangkan itu subjektif, dan dulu dalam hukum pidana deliknya aduan, lalu sekarang kasusnya harus diselesaikan secara internal saja, panitia kecil, seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya, harus menyediakan semacam Portal Pengaduan Perpeloncoan PMB Unpad. Jadi, mahasiswa baru yang menganggap bahwa dirinya atau temannya ataubsiapa saja yang dia lihat dipelonco atau diperlakukan dengan tidak menyenangkan oleh panitia PMB/Mabim dapat melaporkan dan mengadukan perbuatan itu kepada panitia kecil tersebut. Formulir pengaduannya dibuat secara online saja dengan menggunakan fitur Googledocs (atau yang sejenis) sehingga dapat mudah dijangkau oleh mahasiswa baru karena mereka bisa melaporkannya dari mana saja dan kapan saja, tidak terbatas harus melaporkannya dari kampus saja. Tentu saja nanti kerahasiaan identitas pelapor harus dijaga oleh panitia kecil tersebut.

Karena pelaporannya dilakukan secara online, nah, dalam Deklarasi PMB Unpad kita dapat bagikan link/tautan formulir pengaduan perpeloncoan tersebut kepada seluruh pihak khususnya mahasiswa baru. Seluruh pihak, terutama mahasiswa baru, nantinya diharapkan dapat berpartisipasi aktif dalam mengawasi pelaksanaan PMB di Unpad. Link tersebut juga harus disosialisasikan dan terus diinformasikan oleh panitia PMB Unpad sebagai bentuk komitmen bahwa kita semua sangat menolak dan tidak bisa mentolerir oknum yang melakukan perpeloncoan kepada mahasiswa.

Dua hal inilah (Deklarasi dan Portal Pengaduan) yang menurut saya dapat dilakukan sebagai bentuk penerjemahan dari komitmen Rektor yang tidak ingin ada perpeloncoan pada PMB Unpad. Silakan teman-teman pertimbangkan. Semoga PMB di Unpad di bawah kepemimpinan Rektor yang baru dapat lebih baik lagi, dapat dilaksanakan tanpa perpeloncoan. Saya kira ini cita-cita kita bersama. Semoga.

Bicara Tentang Ospek dan Senioritas

ospksin

Dalam surat Al-A’raf ayat 11-18 diceritakan bahwa Allah swt. memerintahkan malaikat dan jin untuk sujud kepada nabi Adam as.. Seluruh malaikatpun bersujud tapi Iblis yang menolak untuk sujud (memberi penghormatan) kepada Adam as.. Iblis tidak mau sujud karena kesombongannya. Ia merasa bahwa dia lebih mulia karena tercipta dari api, sedangkan manusia dari tanah. Allah swt. pun marah kepada Iblis sehingga Iblis diusir diminta turun.

Dari firman-firman Allah swt di atas saya berpendapat bahwa Allah swt. tidak sedang mengajarkan konsep senioritas (senior selalu benar dan harus selalu dituruti dan dihormati). Malaikat lebih dulu diciptakan daripada jin (iblis) dan jin lebih dulu diciptakan daripada manusia. Kalau dilihat dari urutan dan usianya, manusia itu lebih junior daripada jin dan malaikat. Tapi kenapa kok Allah swt. menyuruh malaikat dan iblis yang lebih senior untuk memberi penghormatannya kepada Adam as.? Tentu saja jawabannya bukanlah karena faktor senioritas. Kalau jawabannya karena faktor senioritas pasti kejadiannya akan terbalik, Adam as. dan Jin lah yang diminta memberi sujud penghormatannya kepada malaikat.

Buya Hamka dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Allah swt. memerintahkan malaikat dan Iblis untuk bersujud kepada Adam as. adalah untuk menguji ketaatan dan ketakwaan dari malaikat dan Iblis. Allah swt. ingin menguji seberapa takwa malaikat dan jin (iblis) kepada dirinya. Malaikat mau bersujud yang berarti mereka bertakwa. Namun, Iblis dengan kesombongannya menolak untuk sujud. Penolakan dan kesombongan Iblis adalah wujud dari ketidaktakwaan Iblis sehingga Allah swt. pun marah lalu mengusir Iblis dan akan memasukannya ke Jahannam.

Pelajaran yang dapat kita ambil adalah pertama bahwa Allah swt. mengajarkan kita bahwa merupakan hal yang baik bagi kita untuk menghormati mereka lebih muda dari kita. Ke dua, bahwa kesombongan adalah dosa besar yang mengundang murka Allah swt.. Bahkan apabila dalam hati kita ada kesombongan sebesar biji sawi saja maka tidak akan masuk surgalah kita. Ke tiga dan yang terakhir adalah sebaik-baiknya makhluk atau manusia adalah bukan dia yang paling senior, bukan juga dia yang paling junior, melainkan dia yang paling bertakwa kepada Allah swt.

Takwa berarti menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah swt.. Menghormati sesama manusia, bahkan menghormati yang katanya diaangap keluarga, tentu saja merupakan perbuatan mulia dan merupakan perintah Allah swt.. Maka dari itu, perlu dicermati juga bahwa jangan sampai kita melaksanakan perintah Allah swt dengan cara yang dilarang Allah swt karena ya itu tadi, takwa bukan hanya sekedar menjalankan perintah, tapi juga menjauhi larangannya (satu paket). Hormatilah dan bimbinglah keluarga baru kalian itu dengan cara yang Allah swt. ridha. Semoga Allah swt. selalu melindungi para panitia dan peserta Ospek  (PMB/Mabim) di Indonesia, Kanada, Afghanistan, Banglades, Pantai Gading, Amerika, Jepang dan negara-negara lain. Semoga kita semua senantiasa mendapat hidayah-Nya.

Wallahu a’lam.

Tentang Slogan Pendidikan

popong

Kemaren setelah acara diskusi memperingati hari pendidikan nasional yang diselenggarakan HmI saya nanya ke, anggota DPR RI Komisi 10 tentang pendidikan, Ceu Popong “Ceu, kan slogan pendidikan kita itu ‘Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani’. Kenapa kok itu pakai bahasa Jawa? Bukankah dulu sumpah pemuda kita berkomitmen berbahasa yang satu, bahasa Indonesia? Mengapa bahasa yg dipakai untuk slogan pendidikan nasional adalah bahasa daerah yang tidak semuanya paham?”

Beliau menjawab kurang lebih begini “Ga apa-apa. Bahasa daerah itu kan kearifan lokal. Kalau kita ditanya tentang kebudayaan nasional kita apa, kita pasti bingung. Kebudayaan nasional itu kan kumpulan dari kebudayaan-kebudayaan lokal. Slogan tersebut merupakan merupakan kearifan lokal yg diangkat sebagai kebudayaan nasional. Secara filosofis, slogan itu juga sangat luar biasa. Kalau banyak yang tidak mengerti, kan sekarang sudah banyak yg menerjemahkan. Jadi, tidak masalah. Toh, slogan itu sebenarnya berasal dari bahasa Kawi, bahasa kuno. Jadi, tidak apa-apa ya.”

Setelah mendengar jawaban tersebut, sayapun mengucapkan terima kasih dan salim ke beliau. Terus, beliau pulang deh dianter sama cucunya yg anak Unpad. Ceu Popong itu pemain lama di DPR RI. Udah ngejabat dari tahun 1987. Sudah 7 periode beliau di DPR RI, sudah kurang lebih 28 tahun. Bayangin tuh, 28 tahun jadi dewan hahaha. Usianya sendiri udah 76 tahun dan kalau kata orang Sunda mah masih jagjag, masih seger. Beliau bilang salah satu alasan beliau kenapa mau jadi anggota DPR adalah biar bisa marahin menteri katanya hehe. Yu para pemuda kita siap-siap untuk menggantikan generasi tua, siap-siap menggantikan beliau-beliau buat marahin menteri 🙂

Kamu Mahasiswa Tipe Apa?

Halo, apa kabar?

Sekarang saya lagi di rumahnya si Akim nih. Nah, sambill nunggu adzan Dzuhur ceritanya saya baca-baca makalah salah seorang mahasiswanya Babehnya si Akim. Salah satu makalah yang saya baca adalah makalah dari Ahmad Gunawan yang judulnya Pandangan Jurgen Habermas Terhadap Ilmu Pengetahuan. Nah, di salah satu bagian makalah, tepatnya di bagian tokoh-tokoh teori belajar humanistik, ada tulisan yang kayanya bagus nih untuk dibagikan di sini. Di sana ditulis bahwa berdasarkan teori Kolb, Honey, dan Mumfrod, siswa (mahasiswa) dapat digolongkan atas empat tipe, yaitu:

Yang pertama adalah tipe aktivis. Mahasiswa tipe ini suka melibatkan diri pada pengalaman-pengalaman baru, cenderung berpikir terbuka dan mudah diajak berdialog. Namun, mahasiswa tipe aktivis ini biasanya kurang skeptis terhadap sesuatu, atau identik dengan sikap mudah percaya. Mahasiswa tipe ini menyukai metode yang mampu menemukan hal-hal baru.

Yang ke dua adalah tipe reflector. Mahasiswa tipe ini cenderung sangat hati-hati mengambil langkah. Mahasiswa tipe reflector, dalam proses mengambil keputusan, cenderung konservatif, dalam arti suka menimbang-nimbang secara cermat baik buruknya suatu keputusan.

Yang ke tiga adalah tipe teoris. Mahasiswa tipe ini biasanya sangat kritis, senang menganalisis dan tidak menyukai pendapat atau penilaian yang bersifat subjektif. Bagi mahasiswa tipe teoris, berpikir rasional adalah sesuatu yang sangat penting. Mahasiswa tipe ini juga sangat skeptis dan tidak menyukai hal-hal yang bersifat spekulatif.

Yang ke empat adalah tipe pragmatis. Mahasiswa tipe ini menaruh perhatian besar pada aspek-aspek praktis dalam segala hal. Mahasiswa tipe pragmatis tidak suka bertele-tele membahas aspek teoritis-filosofis dari sesuatu. Bagi mahasiswa tipe ini, sesuatu dikatakan tidak ada gunanya dan baik hanya jika dipraktekkan.

Nah, kamu mahasiswa tipe yang mana?