Pendapat Saya Tentang Fatwa MUI Kota Samarinda Terkait Polisi Tidur

 

Malam ini di timeline akun Line saya ramai beredar berita daur ulang tentang Fatwa MUI Kota Samarinda yg memakruhkan dan mengharamkan Polisi Tidur yang mereka keluarkan pada tahun 2013. Entah apa maksud pendaur-ulangan berita ini. Komentar negatif yg ditujukan kepada MUI pun bermunculan. Saya khawatir ada upaya untuk mendelegitimasi MUI, sebagai dampak dari ramai-ramai you know what yang terjadi baru-baru ini. Semoga ini hanya kekhawatiran saya semata saja. Bagi yang belum membaca fatwanya, silakan disimak fatwa yg saya kutip dari blog MUI Kota Samarinda ini:
_
Assalaamu’alaikum Wr Wb
Salam silaturrahim kami sampaikan semoga senantiasa mendapat rahmat dan Hidayah dari Allah SWT.
Sehubungan dengan banyaknya Speed Trap / Polisi Tidur dijalan-jalan umum Wilayah kota Samarinda, maka dengan ini disampaikan sebagai berikut :

a. Bahwa Polisi Tidur yang terletak di jalan umum, yang tidak sesuai dengan aturan Perundang-Undangan yang berlaku dan Qoidah-qoidah agama, merupakan gangguan yang menjadikan madhorot (bahaya) bagi umat/ pengguna jalan pada umumnya, apabila Polisi Tidur tersebut sampai membahayakan pengguna jalan maka hukumnya menjadi Harom.

b. Larangan berbuat madhorot/ mempersulit orang, dan anjuran berbuat baik telah diatur dalam agama demikian juga segala aktifitas dan tindakan masyarakat/warga negara termasuk pembuatan polisi tidur, telah diatur pemerintah melalui peraturan pemerintah/peraturan negara.

c. Kepada Pemerintah Kota Samarinda kiranya dapat menertibkan Polisi Tidur di wilayah Kota Samarinda yang tidak sesuai dengan Qoidah Agama dan Peraturan Perundang-Undangan yang berlaku, semoga Allah SWT merahmati kita semua.

d. Dasar Hukum:

o QS. Al-Qoshosh(28):77, QS. Al-A’raf(7):56

o Beberapa Hadits Riwayat Bukhori dan Muslim

o Kitab Arbain, Riyadhushsholihin

o Qoidah Ushul

o Permenhub: No:3 th 1994 tentang alat pengendalian dan pengamanan jalan.
Demikian kami sampaikan, atas kerjasamanya kearah ini diucapkan terimakasih.
Wassalaamu’alaikum Wr Wb [1]
_

Yang patut dicatat adalah pertama, yang menjadi objek fatwa dapat dilihat di poin a yaitu “Polisi Tidur yang terletak di jalan umum, yang tidak sesuai dengan aturan Perundang-Undangan yang berlaku dan Qoidah-qoidah agama”. Jadi, bukan polisi tidur secara keseluruhan tanpa terkecuali. Hanya yang tidak sesuai kaidah sajalah yg menjadi objek fatwa.

Yang ke dua, bahwa fatwa ini sifatnya tidak menyelisihi peraturan pemerintah tentang alat pengendalian dan pengamanan jalan, melainkan mendukung peraturan tersebut. Hal ini jelas dapat terlihat dari apa yang disebutkan pada poin a, b, dan c. Fatwa ini juga bisa dibilang menguatkan legitimasi peraturan pemerintah tersebut dengan memberikan pandangan keagamaan mengenai aturan tersebut. Hal ini tentu saja tidak ada salahnya, dan hal yang baik.

Yang ke tiga, fatwa ini berisi juga anjuran dan merupakan upaya kembali mengingatkan pemerintah untuk menertibkan polisi tidur yang tidak sesuai aturan yang dapat menimbulkan mudharat. Saling menasehati dan mengingatkan kepada yang baik adalah hal yang baik.

Fatwa sendiri dalam bahasa arab artinya nasihat, petuah, jawaban, atau pendapat [2]. Fatwa ini adalah _jawaban_ dari keluhan masyarakat dan Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Samarinda sebagaimana diberitakan di vivanews 3 tahun lalu [3] . Fatwa ini adalah juga _pendapat_ keagamaan dari MUI karena MUI melandaskan pendapatnya dari ayat Al-Quran, Hadist Riwayat Bukhari Muslim, Kitab karangan para salafus sholeh, dan kaidah ushul fiqh. Fatwa ini juga merupakan _nasihat_ dan _petuah_ yang kita bisa lihat nasihatnya pada poin c Fatwa.

Jadi, berhusnudzanlah kita kepada para ulama. Kalaupun ada ulama yang salah, nasihatilah dengan arif dan bijaksana, bukan dengan cacian durjana. Ingatlah juga nasihat Ustadz Yusuf Mansyur, sesalah-salahnya ulama adalah sebenar-benarnya kita. Mari bersandar kepada ulama yang sholeh. Mari kita muliakan mereka.

Al-Haafidh Ibnu Hajar rahimahullahu ta’ala berkata :

“Tidak melazimkan bagi orang yang mengeluarkan satu hukum atau fatwa jika ia berijtihad lalu keliru dipikulkan dosa atas hal itu. Bahkan, jika ia telah mengerahkan seluruh kemampuannya (untuk berijtihad), akan diberikan pahala. Jika ia benar, dilipatkan pahalanya. Akan tetapi seandainya ia berani menghukumi atau berfatwa tanpa dasar ilmu, maka ia berhak mendapatkan dosa”. [4]

Wallahu a’lam

catatan:

[1] mui-samarinda.blogspot.co.id/2013/02/polisi-tidur-speed-trap-wilayah-kota.html

[2] https://id.wikipedia.org/wiki/Fatwa

[3] http://nasional.news.viva.co.id/news/read/388497-mui-samarinda-haramkan-polisi-tidur

[4] Fathul-Baariy, 13/318-319

Ridwan

Advertisements

Pernyataan Ahok dan Sekilas Tentang Tafsir Al-Qur’an

Saya tertarik mengomentari pernyataan Ahok di sini. Ahok pada menit 0.38-0.45 terlihat mencoba menafsir surat Al-Maidah ayat 51 hanya dari terjemahannya saja. Apakah boleh begitu?

Memang bisa saja kita memahami sebuah ayat Al-Qur’an dari teks/terjemahannya semata saja. Dalam Al-Qur’an ada yang dinamakan nash atau ayat yang qath’iy, yang artinya nash yang pasti dan meyakinkan sehingga tidak ada lagi kemungkinan makna selainnya. Namun, tidak semua nash / ayat al-Qur’an adalah qath’iy, yaitu yang disebut Zhanny. Yang zhanny maksudnya adalah nash yg memungkinkan memiliki dua makna atau lebih. Imam Abu asy-Syathibi dalam Shihab menyebutkan bahwa tidak ada, atau jarang sekali ditemukan sesuatu yang sifatnya qath’iy dalam dalil-dalil syara. Singkatnya, untuk memahami makna yang terkandung dalam ayat-ayat Al-Qur’an atau hadist, dibutuhkan sebuah penafsiran dengan menggunakan kaidah tafsir Al Qur’an. Ilmu tafsir Al-Qur’an adalah ilmu yg sudah ada sejak setelah generasi pertama umat Islam, yaitu dirintis oleh syaikh Ibnu Taimiyah (661 -728M).  Ilmu tafsir Al-Qur’an itu betul ada, bukan hal yang baru. Jadi, kalau mau menafsirkan Al-Qur’an, ya harus pakai kaidah sesuai dengan ilmu tafsir Al-Qur’an, tidak bisa sembarangan.

Tidak semua orang juga bisa jadi penafsir Al-Qur’an yang bener-bener penafsir karena tentu saja kalau mau jadi bener-bener penafsir ada syaratnya. Yang pertama ya kudu bisa bahasa Arab karena Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab. Tidak hanya harus bisa bahasa Arab, tapi dia juga harus mengerti linguistik atau tata bahasa Arab, yang bahkan mungkin orang Arab pun tidak semuanya paham. Selain itu tentu saja penafsir harus punya pengetahuan yang luas tentang Al-Qur’an dan Islam, harus banyak tahu hadist, riwayat, dan hal-hal yang termasuk dalam rumusan atau kaidah tafsir Al-Qur’an. Intinya tidak mudah lah untuk bisa menjadi penafsir Al-Qur’an yang bener-bener penafsir.

Kalau kita cuma baca terjemahan versi Depag ya bisa aja sih disebut menafsir. Cuma ya kalo begitu paling level tafsirannya dapat dibilang ga seberapa. Kasarnya sih masih cetek lah. Jadi, tentang tafsir ini kalau mau lebih jelas bisa baca bukunya Prof. Quraish Shihab judulnya Kaidah Tafsir, harganya 99 ribu di Tisera, atau ada juga buku terjemahan Ilmu Tafsir karya Ibnu Taimiyah, harganya 15 ribu doang, coba cari di Tisera Jatos kalau masih ada. Oh iya, kaidah tafsir Al-Qur’an ini jangan disamakan dengan metode penafsiran ala hermeneutika ya soalnya antara ke dua cara metodelogi tafsir ini punya kekhasan/perbedaan satu sama lain.

Kembali lagi ke persoalan Ahok. Dalam Video tersebut Ahok, yang mengkomentari QS.Al Maidah:51,  bilang bahwa “konteksnya bukan itu. Konteksnya jangan pilih Nasrani, Yahudi, jadi temanmu, sahabatmu.. sesuai terjemahan asli.” Intinya Ahok ingin bilang bahwa QS.Al-Maidah:51 gak lagi ngomongin memilih pemimpin/gubernur. Untuk lebih meyakinkan tentang tafsirannya, Ahok bilang bahwa dia 9 tahun sekolah Islam SD-SMP. Mungkin dengan bilang begitu Ahok bisa saja merasa bahwa sekolah 9 tahun di sekolah Islam membuat dia bisa menafsirkan ayat tersebut dengan benar. Pertanyaan dari saya adalah: apakah sekolah Islam Ahok itu dulu mengajarkan ilmu tafsir Al-Qur’an? Kalau iya dan Ahok  mengikuti pelajaran itu dengan baik pasti dia akan tahu bahwa kegiatan tafsir yang betul itu tidak sekedar membaca terjemahan dari ayatnya saja.

Setelahnya Ahok bilang bahwa ada “orang rasis dan pengecut menggunakan ayat suci di dalam Al-Qur’an tidak maksudnya seperti itu diplesetin seperti itu.” Nah, pandangan Ahok yang inilah sebenarnya yg bisa bikin ribut lagi, apabila sekali lagi ujaran Ahok ini adalah dalam konteks membahas Qs.Al-Maidah:51. Ahok seolah ingin bilang bahwa QS.Al-Maidah:51 itu diplesetkan. Lalu, dia membandingkan dengan ISIS yang memplesetkan ayat-ayat suci. Kata Ahok, ayat-ayat Al-Qur’an tidak salah, yg salah yg memplesetkannya. Namun, pertanyaannya adalah apakah yang banyak disampaikan ulama tentang makna Al-Maidah ayat 51 bahwa tidak boleh memilih orang Nasrani / Yahudi sebagai pemimpin adalah sebuah bentuk pemlesetan ayat suci? Tentu kalau jawabannya adalah iya, ini akan menjadi tuduhan yang serius.

Jadi bagaimana? Coba simak surat MUI DKI Jakarta kepada Ahok. Dalam poin 3 surat tersebut ditulis bahwa “Para Ulama atau Pendakwah telah menyampaikan apa yang digariskan oleh Al Qur’an yang tafsirnya disepakati oleh mayoritas Ulama, sehingga tidak dapat dipandang sebagai pembohongan atau pembodohan serta bukan bentuk politisasi ayat, tetapi bagian dari tugas para ulama untuk menyampaikan kebenaran Alquran.” Inilah jawaban yang saya anggap tepat atas dugaan tuduhan Ahok bahwa Al-Maidah ayat 51 itu maknanya diplesetkan untuk kepentingan politik. Inilah juga menjadi jawaban dari pertanyaan “kalau gak semua orang bisa jadi penafsir yang benar-benar, terus harus bagaimana?”. Jawabannya ya kita ngikut sama ulama-ulama, baik yang dulu maupun yang sekarang. Banyak masalah hukum dalam Islam yg sebenarnya sudah dibahas, dan sudah ada hasilnya dari jaman dahulu kala. Jadi, untuk beberapa hal gak usah repot lagi ngeributinnya, karena dulu jg udh ada yg pernah ngeributin masalah yg sekarang diributin lagi.

Makanya kan dalam teguran MUI itu ditulis “tafsirnya disepakati oleh mayoritas Ulama” . Kesepakatan atau Ijma jumhur ulama itu sumber hukum juga dalam Islam, setelah Hadist. Kalo kamu awam, ya ngikut aja sama ulama, dan ini dibolehkan dalam Islam. Kenapa ada madzhab atau jamiyah dalam Islam juga kan itu untuk memudahkan umat dalam berIslam. Jadi gak usah kita cape-cape nafsir atau nentuin hukum suatu hal sendiri; pake aja dari yang udah ulama terdahulu tetapkan. Kalau kamu merasa tidak awam, coba cek lagi apa betul tidak awam? Sudah ngerti bahasa/linguistik Arab seberapa dalam? Sudah tahu berapa ribu ayat Al-Qur’an dan hadist? Bergurunya sama siapa? Sanad ilmunya gimana? Jangan-jangan kita cuma merasa so-soan tidak awam saja, padahal nyatanya awam. Anehnya lagi, sekarang ada kecenderungan apa-apa didekonstruksi. Biar sesuai dengan keadaan zaman katanya. Kalau mau dekon silakan aja, tapi ya kudu ngerti dulu ilmu tafsir. Banyaknya sekarang ilmu tafsir Al-Qur’an gak paham, udah pengen langsung ngedekonstruksi aja. Kan kebalik jadinya.

Intinya, lebih baik memang kita tidak membicarakan sesuatu yang kita tidak benar-benar paham. Dalam hal ini saya rasa Ahok tidak tepat mengomentari QS. Al-Maidah:51. Kalau Ahok sudah meminta maaf, ya kita maafkan sajalah, toh dia berbicara karena ketidaktahuannya, bukan karena ketahuannya. Kalau ada umat Muslim yang marah, ya harap maklum saja asal mereka marah karena ketahuannya, bukan ketidaktahuannya. Lalu, untuk umat Muslim, mari kita kembali lagi kepada para Ulama yg bersandar kepada Al-Qur’an dan Hadist. Jangan pernah alergi sama Ulama. Kalau ngaji kita aja masih alakadarnya, ya ga usah mencoba melampaui batas dengan berpikir bisa menafsir ayat-ayat Al-Qur’an.

Walaupun kayanya memang tentang Ahok, tapi sebenernya tulisan ini adalah autokritik terhadap banyak umat Muslim saat ini yang saya rasa sudah mulai jauh dari ulama, bahkan merasa lebih hebat dari ulama, lebih jago nafsir dari ulama. Banyak yang berpikir ga ngikut ulama gapapa, ulama kan juga bisa salah. Ulama aja bisa salah, apalagi kebanyakan kita yang belajar agama saja alakadarnya, tapi suka memfatwakan ini halal itu haram. Memang ada juga ulama yang keliru. Maka dari itu untuk mengetahuinya kita harus belajar ilmu agama, tentu saja nantinya dalam konteks saling nasehat-menasehati, bukan untuk saling menjatuhkan. Boleh kita belajar ilmu apa saja, namun tetap jangan lupakan yang wajib: belajar ilmu agama. Semoga kejadian kontroversi Ahok ini menjadi pelajaran untuk kita semua.
“…Bertanyalah kepada Ahli Zikir (Ulama) jika kamu tidak mengetahui” [An-Nahl 43]

Wallahu a’lam

Ridwan

http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/16/10/10/oeswdz320-mui-dki-jakarta-tegur-keras-ahok-begini-isi-tegurannya

Tentang Pelarangan Aktivitas HTI di ISI

rektor-isi-keluarkan-sk-pelarangan-ormas-di-kampus-fm4elndzsg

sumber gambar: news.okezone.com

Komentar saya atas isi berita di tautan http://news.okezone.com/amp/2016/06/18/65/1418784/rektor-isi-keluarkan-sk-pelarangan-ormas-di-kampus?=utm_source=br

Kalau tidak salah, UU No. 17 Tahun 2013 tentang Ormas sudah mengatur tentang mana ormas yang boleh ada dan tidak di Indonesia. Salah satu pasalnya menyebutkan bahwa Ormas tidak boleh memiliki ideologi / asas yang bertentangan dengan Pancasila, sesuai hasil constitutional review yang diajukan ke MK. Ideologi  Hizbut Tahrir Indonesia adalah Islam, dan menurut mereka Islam tidak bertentangan dengan Pancasila. Jadi, menurut mereka secara perundang-undangan tidak ada UU yang mereka langgar. Namun bagaimana tentang pandangan mereka tentang Khilafah? Khilafah itu bukan ideologi mereka, namun adalah cara pandang teknis terhadap sistem pemerintahan yang ideal. Bagaimana apabila dibilang bahwa konsep daulah Khilafah itu bertentangan dengan konsep NKRI? Sejauh hanya dalam tataran konsep, masih di pikiran belum kepada tataran tindakan saya rasa tidak ada unsur pidananya atas ancaman terhadap keamanan negara. Tapi, kan mereka sudah mengumpulkan massa, sudah buat seminar-seminar? Apakah yang demikian tidak dianggap sebagai sebuah tindakan nyata? Tenang saja, mereka tidak akan melakukan kudeta terhadap pemerintahan kok, mereka juga tidak akan masuk ke lembaga legislatif untuk mengubah UU/UUD yanh ada di Indonesia. Mereka organisasi yang tidak memakai kekerasan fisik. Jadi sebenarnya mereka bukan merupakan ancaman bagi NKRI.

Kalau memang ISI yang melarang penyebaran Ideologi lain selain pancasila di kampusnya, ISI harus konsisten bahwa tidak hanya penyebaran ideologi Islam saja yang dilarang, ideologi-ideologi/isme-isme lain juga harusnya dilarang. Pokoknya cuma boleh pancasila saja. Tapi, gelagatnya sih kayanya sebenernya ISI bukan alergi sama Islam. Mereka kayanya cuma sebel aja sama HTI, bukan Islamnya hehehe

Kira-kira para penyuara kebebasan berekspresi, berserikat dan berkumpul bakal pada bersuara gak ya?

Tanggapan Saya Atas Adanya Penutupan Warung Makan Pada Siang Hari Selama Bulan Ramadhan

warung
Allah swt mewajibkan kita untuk beramar ma’ruf dan bernahi munkar “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan Ummat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; mereka adalah orang-orang yang beruntung.” (Q.S. Ali Imron:104). Amar ma’ruf artinya adalah menyeru kepada kebaikan, sedangkan nahi munkar adalah mencegah terhadap terjadinya kemunkaran (keburukan). Jumhur ulama menghukumi amar maruf nahi munkar ini fardhu, baik fardhu ain, maupun fardhu kifayah.

Wajibnya bagi umat Islam untuk beramar ma’ruf nahi munkar ini juga menjadi konsekuensi logis bagi ummat Islam untuk berdakwah. Dakwah itu artinya menyampaikan dan sebaik-baiknya perkataan adalah yang menyeru menuju Allah. “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru menuju Allah, mengerjakan amal yang shalih dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”. [Fushshilat:33]. Jadi, dalam Islam itu gak ada ceritanya ummat Muslim cuek terhadap sesama atau sekitarnya. Tidak ada istilah masalah keimanan, masalah ibadah adalah urusan masing-masing sehingga kita tidak berhak ikut campur. Saya resah dengan pemikiran yang mengatakan beragama itu janganlah manja. Sebagian dari kita berdalih bahwa tidak usah lah ummat Islam itu dilarang melakukan ini dan itu. Biar saja mereka yg memutuskan sendiri, mereka yg akan menanggung konsekuensinya. Kalau yang imannya kuat pasti tidak akan tergoda. Jadi, tidak usahlah itu harus dilarang-larang, disensor-sensor, atau ditutup-tutup.
Beragama kok manja sekali. Begitu katanya.

Pernyataan tersebut menurut saya adalah manis namun berpotensi menyesatkan. Sesama muslim itu harus saling mengingatkan. Tidak bisa kita cuek kalau ada muslim lain yang berniat bermaksiat sembari mengatakan “ah biarkan saja kalau imannya kuat juga dia gak bakal ngelakuin maksiat tersebut kok”. Yang benar adalah kita harus saling menasihati dalam kebenaran, tawa saubil haq. Harus kita cegah lah saudara kita yg mau bermaksiat itu, bukan malah dibiarkan dan diserahkan kepada imannya saja. Jadi, bentuk pelarangan, penyensoran, penutupan sesuatu yang dapat menimbulkan maksiat harus kita pandang sebagai upaya dari seseorang/pemerintah untuk beramar ma’ruf nahi munkar. Yakinlah bahwa mereka sedang ber amar ma’ruf nahi munkar sesuai dengan kemampuan mereka.

Hal yang harus diingat juga adalah bahwa amar ma’ruf nahi munkar dan berdakwah harus dilakukan dengan cara-cara yang baik, dengan hikmah dan akhlaqul karimah. Memang sangat disayangkan bahwa masih banyak saudara-saudara kita yang berdakwah dengan cara-cara yg tidak dibenarkan seperti misalnya dengan menggunakan kekerasan. Yang seperti ini sebenarnya tidak perlu dicaci maki karena sudah baik mereka ada kemauan untuk berdakwah, tinggal dibenarkan saja caranya. Sekali lagi bahwa beramar maruf nahi munkar dan berdakwah itu wajib dan harus dilaksanakan. Seperti halnya shalat, ketika ada seseorang yg misalkan dalam bacaan shalatnya salah, jangan larang dia untuk shalat, tetapi kita bantu dalam perbaiki shalatnya.

Bagaimana apabila ada yg sudah kita dakwahi tapi tetap saja dia melakukan maksiat? Hidayah memang Allah swt yang kasih, hak Allah swt. Meski demikian, tetep orang tersebut tidak boleh kita cuekin. Kalau ada yg demikian, kita doakan saja semoga Allah swt memberi taufiq dan hidayah-Nya kepada dia. Ummat Islam gak boleh cuek. Yang selama ini keliru kan, ada sebagian dari kita yang belum apa-apa sudah bilang yg seperti saya sebutkan sebelumnya: “kalau imannya kuat dia gak bakal maksiat kok. Dia sudah tahu mana yg benar mana yang salah”. Yang ini keliru karena kita harus mendakwahi orang tersebut itu sebelumnya. Masalah iman dia mah memang urusan dia, tapi masalah dakwah adalah lain lagi, adalah kewajiban kita. Walaupun dia sudah tahu mana yg benar dan yg salah, kan bukan berarti kita tidak wajib mengingatkan dia lagi. Masalah hasil mah biar Allah swt saja yg menentukan, asal kita ikhtiarkan dulu dengan mendakwahi orang tersebut.

Dalam konteks penutupan warung makan pada siang hari selama bulan ramadhan, saya sih melihatnya hal tersebut sah-sah saja dilakukan pemerintah dalam konteks mereka beramar ma’ruf nahi munkar dengan cara mereka. Ada pernyataan yang bilang bahwa kita kan ada muslim yang secara syariat diperbolehkan untuk tidak berpuasa jadi tidak perlu ditutup dong warung makannya, cukup dikasih tirai saja warungnya biar gak kelihatan sama yang puasa. Begini ya, puasa ramadhan itu adalah kewajiban bagi setiap muslim. Tidak berpuasa tanpa alasan yang dibenarkan syariat adalah perilaku maksiat. Kita dilarang oleh Allah swt untuk tolong menolong dalam kemaksiatan sebagaimana Allah swt. berfirman yang artinya “Dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.”(QS. Al Maidah: 2).

Bukanya warung makan pada siang hari dikhawatirkan dapar memfasilitasi orang-orang muslim yg berpuasa untuk melakukan maksiat dengan tidak berpuasa tanpa landasan syari. Saya yakin itu di warteg-warteg pengunjungnya lebih banyak orang Islamnya, dan tidak sedikit yang tidak berpuasa tanpa alasan syari, walaupun saya juga tidak sadar bahwa generalisasi seperti ini tidaklah baik. Semakin banyak warteg yg buka, semakin besar peluang orang muslim yg imannya goyah untuk bermaksiat dengan membatalkan puasanya. Muslim yang imannya goyah mungkin bukan Anda, tapi di luar sana banyak. Kalau dibilangin begini mungkin ada yg nyeletuk “ah itumah dianya aja yg imannya gak kuat.” Kan udah dibilangin di atas kalau masalah tersebut berbeda dengan masalah dakwah. Bagi saya menutup warung pada siang hari selama bulan ramadhan itu adalah salah satu bentuk dakwah. Kalau pemilik warung makannya itu adalah muslim, dia seyogianya menimbang-nimbang bahwa dari membuka warung makannya tersebut lebih banyak mana mudharat atau mashlahatnya. Menolong orang-orang yg tidak berpuasa atau non muslim dengan buka warung makan adalah baik, mashlahat, namun Allah swt akan murka sekali apabila ternyata kita lalai sehingga akhirnya masuk ke dalam kategori orang-orang yang tolong menolong dalam dosa.

Terus akan muncul pertanyaan “memangnya yang bisa membatalkan puasa itu hanya makan di warung makan saja? Kan orang bisa saja ke warung biasa atau mini market buat beli air atau roti buat ngebatalin puasa siang-siang”. Ya ini kan sedang ngomongin warung makan, nanti malah jadinya ke mana-mana pembahasannya. Kalau logika yg dipakai seperti itu, ya pasar juga seharusnya ditutup, atau pabrik air mineral juga harus ditutup selama siang hari di bulan ramadhan karena menjual dan memproduksi apa-apa yg membatalkan puasa. Kan tidak sesederhana itu ya. Harus dikaji lagi kalau untuk permasalahan ini.

Patut diingat bahwa makan di warung makan bagi kebanyakan orang adalah kebiasaan, tidak mesti menjadi keharusan. Tidak ada salahnya kita mengubah kebiasaan kita selama bulan ramadhan. Yang tadinya biasa makan siang di warteg, kan gak ada salahnya bulan ramadhan ga usah niat makan di warteg, namun bikin dan bawa bekal sendiri dari rumah. Walaupun lebih ribet kenapa tidak? Toh lebih sehat dan ekonomis.

Lalu muncul lagi pernyataan “menutup warung selama satu bulan kan merampas hak mencari penghasilan seseorang.” Ingatlah bahwa bulan ramadhan itu datang tidak sekonyong-konyong. Kita semua pasti tahu bahwa ramadhan itu tiap tahun akan datang. Sebagai pedagang muslim yang baik, sudah seharusnya kita mengantisipasi itu apabila kita tidak ingin kehilangan penghidupan selama satu bulan. Caranya bisa macam-macam: mulai dari menabung di 11 bulan sebelumnya, membuka usahanya menjelang berbuka hingga sahur, sampai membuka usaha lain. Tak sedikit loh saya melihat pengusaha makanan yg ganti barang dagangan selama bulan ramadhan atau yg mengubah jam operasional warung makannya. InsyaAllah lebih barokah deh. Toh rezeki dari Allah swt kan bukan hanya yg berbentuk uang/materi. Kita sehat, bisa membantu orang terhindar dari dosa, dapat beribadah selama bulan puasa juga merupakan rezeki yang patut disyukuri. Jangan sekali-sekali melihat rezeki itu dalan bentuk uang saja. Jangan sekali-sekali berdagang hanya karena materi. Carilah keridhaan Allah swt. Kalau Allah swt sudah ridha ke kita, apa kita yakin Allah swt akan tega menyengsarakan kita?

Untuk memahami tentang rezeki, tentang semua hal yg saya sebutkan di atas memang butuh ada yang kita pelajari. Kita harus belajar ilmu agama Islam yang mencakup aqidah, syariat dan akhlak, tidak cukup dipahami dengan akal semata. Dan ini juga penting disadari oleh semua pihak termasuk pemerintah. Jadi, himbauan penutupan warung makan yg dilakukan oleh pemerintah itu menurut saya sah-sah saja dilakukan dengan landasan yg sudah saya sebutkan apalagi kalau memang ada Perda-nya (tentu saja setelah disosialisasikan). Namun, tidaklah cukup sampai di sana. Pemerintah juga harus mengedukasi para pedagang tentang persiapan ramadhan, biar nanti tidak ada alasan lagi bagi mereka untuk kehilangan penghidupannya selama bulan ramadhan. Ulama juga menurut saya harus berperan juga dalam mengedukasi nilai-nilai keIslaman kepada mereka karena saya khawatir mereka melakukan hal ini (membuka warung makan siang hari selama ramadhan) semata-mata karena keawaman mereka akan ilmu-ilmu agama. Eksekusi dari peraturan menutup warung makan itupun harus dilakukan dengan baik. Beri peringatan tertulis dulu sebelum ada penutupan agar semua bisa berjalan lebih lancar. Mengenai pemerintah tebang pilih dalam menutup rumah makan, seperti analogi yg saya sudah sebutkan di atas tentang shalat, ya tinggal diperbaiki saja penerapan peraturannya agar tidak tebang pilih. Saya kira itulah pendapat saya tentang penutupan warung selama bulan ramadhan dari sudut pandang beramar ma’ruf nahi munkar. Pandangan dari sudut pandang tasamuh (toleransi) (karena masyarakat kita heterogen)dan pemerintahan mungkin belum bisa saya berikan sekarang. Wallahu A’lam

Tentang Puasa

waktu-tepat-mengajari-anak-berpuasa

sumber gambar: hernotes.com

Kata pak Kyai, ibadah #puasa mengajarkan kita untuk taat kepada ketetapan yang sudah Allah swt buat; mengajarkan kita untuk beriman dan bertaqwa. Pada surah Al-Baqarah 183 disebutkan bahwa puasa ramadhan telah diwajibkan kepada orang beriman sebagaimana pendahulu kita agar kita bertaqwa. Iman dahulu, kemudian menuju taqwa. Kita percaya kepada Allah swt dan Rasul-Nya dan kita ikuti perintah dan jauhi larangannya. Mungkin ada yg pernah bertanya “emang kenapa sih harus puasa ramadhan?” Kalau katanya puasa itu biar kita ngerasain apa yg dirasakan orang miskin, untuk dapat merasakan bagaimana rasanya jadi orang miskin kenapa kita ga ikutan program Jika Aku Menjadi di Trans TV aja coba, atau Tukar Nasib di RCTI? Atau, katanya puasa itu biar sehat. Kalo biar sehat, ya kenapa harus ribet-ribet puasa? Olahraga juga bikin sehat kok. Atau tentang rukun puasa seperti puasa itu dimulai saat terbit fajar sampai terbenamnya matahari. Kalau rukunnya begitu, kita jalankan seperti itu saja. Jangan mentang-mentang misalnya “saya kan kuat, yaudahlah saya mah buka puasanya ga mau jam 6 sore pas maghrib, tapi jam 10 malem aja.” Maka dari itu untuk menjalankan ibadah puasa kita butuh beriman terlebih dahulu. Orang yang beriman yakin bahwa Allah swt tidak akan asal-asalan dalam menetapkan sesuatu. Sebagai sang Pencipta, Allah swt tahu mana yang terbaik untuk makhluknya. Maka dari itu jalankanlah perintah-Nya dan jauhilah larangan-Nya. Pasti ada hikmah dibalik perintah dan larangan yang sudah Dia tetapkan. Dengan menggunakan akal dan ilmu bisa saja kita meraba-raba apa hikmah di balik perintah #puasa ramadhan. Namun kalau sekiranya akal dan ilmu kita tidak sampai, kembalikan lagi saja ke iman. Toh seperti yg sudah dibilang sebelumnya, Allah swt pasti sudah mentukan mana yang terbaik bagi makhluknya.

Di samping itu, puasa adalah ibadah yang melatih kita untuk ikhlas. Ibadah puasa itu adalah ibadah yang sulit kita pamerkan, berbeda dengan ibadah lain. Kalau sedekah misalnya bisa kan kita pamerkan dengan menggulung uang 100ribu di depan orang lain terus dengan terang-terangan kita masukan ke kotak amal. Yang lain misalnya shalat, bisa saja kita sholat dengan gaya yang sangat khusu sekali kalau ada orang lain, sedangkan pas gak ada orang lain shalatnya kaya ayam lagi matuk makanan.

Kalau puasa sulit seseorang mau nyombonginnya; ciri-ciri orang berpuasa itu susah diliat. Si ini lemes, pasti lagi puasa. Si anu seger banget, pasti lagi ga puasa. Si anu mulutnya bau, pasti lagi puasa. Kan gak bisa begitu juga. Terlepas dari memang kita bisa ngumumin ke orang-orang bahwa kita lagi puasa atau ngasih kode2 di medsos “alhamdulillah sebentar lagi mau maghrib”, puasa itu mengajarkan kita untuk ikhlas bahwa ibadah yang sebenarnya hanya bisa diketahui oleh kita dan Allah swt semata. Ibadah puasa sulit dilihat dari aktivitas/ciri fisik dari orang yg menjalankannya. Puasa mengajarkan kita untuk menjauhi sifat riya dalam beribadah dan hanya mengharapkan penilaian dan keridhan Allah swt semata. Wakafa billahi syahida, cukuplah Allah swt yg menjadi saksi.

Puasa juga mengajarkan kepada kita untuk selalu merasa diawasi oleh Allah swt, sadar bahwasanya Allah swt maha melihat. Tidak ada hal sekecil apapun di muka bumi ini yang dapat luput dari penglihatan Allah swt. Bisa jadi kita ikut sahur bareng teman-teman kita. Namun, mengenai puasa kita sampai maghrib atau tidak, kalau kita sembunyikan, tidak akan ada yang tahu kecuali diri kita dan Allah swt. Orang yang berpuasa, bisa saja ketika sedang berwudhlu siang-siang dengan sengaja menelan airnya seteguk dua teguk. Dijamin tidak akan ada yang tahu, bahkan orang yg berwudhu di sebelahnya pun tidak akan tahu. Tapi kenapa kita tidak melakukan itu? Kita tidak melakukannya karena kita tahu bahwa Allah swt senantiasa mengawasi kita. Perasaan merasa selalu diawasi inilah yg penting untuk dipupuk. Apabila perasaan ini tidak hanya ada saat puasa saja, melainkan juga dalam menjalankan aktivitas kita sehari-hari, saya yakin tidak akan ada yg mau korupsi, karena sadar walaupun KPK tidak melihat, tapi Allah swt maha melihat apa yg kita perbuat, dan Allah swt adalah sehebat-hebatnya pemberi pembalasan. Dengan perasaan merasa selalu diawasi kita akan senantiasa melakukan segala sesuatu dengan jujur, dengan berhati-hati agar yg kita lakukan tidak melanggar apa yg telah Allah swt larang.

Masih banyak lagi hikmah dari puasa yang bisa kita gali. Puasa juga mengajarkan kita untuk senantiasa bersabar dan bersyukur. Puasa mengajarkan kita untuk disiplin. Puasa sebagai ibadah sosial juga mengajarkan kita untuk saling tolong menolong antar sesama (salah satunya dengan memperbanyak sedekah), dan lain-lain. Yang jelas, ibadah puasa ini adalah untuk kita, bukan untuk Allah swt. Allah swt tidak akan rugi kalau kita tidak puasa. Allah swt juga tidak akan sedikitpun berkurang keagungan-Nya meskipun tidak ada satupun orang di dunia ini yang berpuasa, yang beribadah kepada-Nya. Makhluk lah yang membutuhkan Khaliq, bukan sebaliknya. Gak percaya? Buktikan saja nanti pas kalian sudah meninggal. Allah swt telah berfirman bahwa setelah kematian manusia ingin dikembalikan lagi ke dunia agar bisa beramal shalih, agar bisa beribadah lagi. Tapi sayang, semuanya nanti akan sudah terlambat. Mari kita jadikan ibadah puasa ramadhan kita juga menjadi ajang untuk bermuhasabah diri. Ibadah kita, kita yang butuh. Semoga Allah swt ridha terhadap amalan shalih kita. Wallahu a’lam.

Negara Barat lebih Islami daripada negara Muslim?

Berikut adalah komentar singkat saya atas tulisan yang dipost di http://dkm-aththolibin.tumblr.com/post/144040939718/kisah-inspiratif

Pandangan bahwa Barat lebih Islami daripada negara dengan mayoritas penduduk Islam terlihat manis, namun kalau kita cermati bisa saja pandangan seperti itu menyesatkan kita. Yang harus digarisbawahi juga adalah bahwa menjadi Islam tidak hanya menyangkut akhlaq saja melainkan juga aqidah dan syariat. Aqidah adalah pondasi berislam. Apabila aqidahnya tidak benar, seseorang tidak dapat disebut muslim. Lagian, nilai-nilai yang disebutkan di tulisan tersebut juga (keadilan, disiplin, menghormati orang, kebersihan, dll) adalah memang nilai Islam namun juga merupakan nilai ideal yang berlaku di manapun di budaya apapun (universal). Toh saya juga tidak yakin bahwa negara yang ada di urutan teratas masyarakatnya mengikuti norma Islam yang spesifik (seperti tidak makan babi, minum alkohol, melakukan hubungan seks di luar nikah, berjudi, ikhtilat, melegalkan same sex marriage, dll), paling juga yang dianut/diikuti yang sifatnya universal saja. Ditambah tanpa aqidah, masih bisakah mereka disebut lebih Islami? Jadi, bagi saya yang disebut Islami itu harus yang mencerminkan Islam dan Islam itu mencakup aqidah, syariah, dan akhlak; tidak hanya akhlak saja. Saya tidak tahu konteks Syaikh Muhamad Abduh berpendapat seperti di tulisan tersebut. Ya mungkin maqom sayanya saja yang belum nyampe. Meski begitu, keadaan ini bisa juga dijadikan sebuah renungan bagi umat Islam. Perbaiki apa yang belum baik, lengkapi apa yang belum lengkap. Wallahu A’lam.

Ssst ga boleh boong, ini bulan puasa loh!

e8ba99e10e81583f3876b00dc6acfef0

sumber: google images

Pas bulan puasa kita banyak menemukan kawan yang bilang begini:
“Ssst ga boleh boong, ini bulan puasa loh!”
“Ssst ga boleh ngomongin orang, ini bulan puasa loh!”
“Ssst ga boleh nyontek, ini bulan puasa loh!”
“Ssst ga boleh genit, ini bulan puasa loh!”
“Ssst ga boleh ngomong kasar, ini bulan puasa loh!”
“Ssst ga boleh ngehina orang, ini bulan puasa loh!”
“Ssst ga boleh buruk sangka, ini bulan puasa loh!”
Dan lain-lain, dan lain-lain..
Dari pernyataan-pernyataan tersebut lalu muncul pertanyaan dalam benak saya “Memangnya bebohong, nyontek, ngomongin orang, menghina orang, berburuk sangka hanya tidak boleh dilakukan di bulan puasa dan boleh dilakukan di bulan bukan bulan puasa ya?” Jawabannya pasti tidak! Perbuatan buruk tersebut tentu saja tidak boleh dilakukan kapanpun itu bulannya. Maka dari itu, betul kiranya apabila ramadhan adalah bulan bagi umat muslim untuk melatih diri untuk menghadapi 11 bulan ke depan. Ramadhan adalah bulan untuk me-recharge kualitas iman dan takwa kita. Perbuatan-perbuatan buruk yg senantiasa kita hidari pada bulan ramadhan harus senantiasa kita hindari juga pada 11 bulan ke depan dan perbuatan yang baik yang kita lakukan di bulan ramadhan harus kita lakukan juga di 11 bulan ke depan.

Akhirnya bulan ramadhanpun tak terasa sudah meninggalkan kita. Semoga ibadah kita di bulan ramadhan kemarin sudah cukup mengisi dengan penuh kembali kualitas keimanan dan ketakwaan kita. Semoga Allah menerima amal-amal saya dan kamu, Puasa saya dan kamu. Dan semoga Allah menjadikan saya dan kamu termasuk dari orang-orang yang kembali sebagai orang yang menang. Selamat kembali berbuka!

Salam takzim,

Muhamad Ridwan