HmI-Kohati

cambnpwviaa6prn

Sekitar 3 minggu lalu, pas saya ikutan acara Korps Alumni HmI (KAHMI) di Balkot, Bandung saya ngeliat ada nenek-nenek sepuh tiga orang jalan bareng ke sana ke mari. Nenek-nenek tersebut make baju yang sama dengan kita, baju yang dikasih panitia. Iya, mereka itu juga alumni HMI. Kayanya mah Korps HMI-wati (Kohati) generasi pertama. Yang serada aneh saya liat, kok itu nenek-nenek sepuh itu ke mana-mana diikutin sama Pol-PP dua orang. Dari keramaian pun saya dengar, ternyata nenek yang ditengah itu “Ibunya Pak Wali”. Pantesan aja dikawal sama Pol-PP, ternyata nyokapnya Ridwan Kamil. Memang, ayah-ibunya Ridwan Kamil itu keduanya aktivis dan alumni HmI tahun 1960an. Ayah-ibunya Ridwan Kamil itu pertama kali ketemu satu sama lain di HmI dan berjodoh. Makanya Ridwan Kamil pernah bilang kalau “tidak ada HmI tidak ada saya”. Ada kisah cinta di HmI. Makanya sering juga ada guyonan “belum sempurna HmI-mu kalau kamu tidak bisa mendapatkan Kohati”. 😀

Mencari Musuh Bersama

hmi-4

Kemarin kebetulan saya jadi moderator di sesi materi LK 2. Pematerinya pak Iman Soleh. Tema materinya tentang tipologi ideologi. Yang menjadi menarik, pematerinya bilang bahwa sebenarnya tidak ada yg perlu ditakuti dari ideologi komunisme, karena komunisme itu adalah ideologi yang sekarang sudah tidak laku. Jadi, katanya tidak perlu ada ketakutan yg berlebihan terhadapnya. Komunisme juga agaknya mustahil untuk diterapkan di Indonesia selama kultur masyarakat kita masih seperti ini dan selama muslim masih menjadi mayoritas. Dari sana saya jadi punya pikiran, “Ngapain kok udah gak laku masih aja ada yg coba promosi ya? Apa tidak buang-buang waktu? Apalagi apabila ya promosinya itu ada anak HmI-nya, yang notabene adalah misionaris dari ideologi (mabda) Islam. Kacau.”

Setelah itu beliau menjelaskan tesisnya Huttington tentang benturan antar peradaban. Setelah Uni Soviet Runtuh, yg menandakan keruntuhan Komunisme/Sosialisme, maka barat/AS dengan ideologi Liberalisme/Kapitalisme-nya pun harus mencari musuh baru. Musuh baru itu harus dicari agar tidak terjadi ketimpangan, agar tercipta keseimbangan. Nah, menurut Huttington, yang sepadan untuk dijadikan musuh baru itu adalah Islam. Islam dinilai sebagai kekuatan potensial karena memiliki golongan-golongan yang radikal, yang banyaknya muncul diawali dari isu pembebasan Palestina pada era 1970an. Konspirasi Barat yang paling jahat terhadap Islam dapat kita lihat pada kejadian WTC 9/11 2001, atau kalau yang sekarang-sekarang itu ada ISIS / IS.

Yang menurut saya menarik adalah ternyata musuh itu sengaja mereka ciptakan untuk menciptakan keseimbangan. Selain itu, Adian Husaini juga pernah bilang (berbicara dalam konteks yang sama tentang tesisnya Huttington) bahwa musuh itu diciptakan agar ada persaingan. Ketika ada persaingan, negara tersebut akan berkembang karena tidak berkembang bukanlah pilihan. Tidak berkembang berarti kekalahan. Jadi, membuat musuh baru itu seharusnya penting.

Agaknya ini menjadi relevan dengan perbincangan saya dengan Ayahanda Sakib Machmud di perjalanan mengantarkan beliau ke rumahnya selepas mengisi materi tentang NDP. Beliai adalah salah seorang perumus NDP HmI di samping Cak Nur dan Endang Saifuddin Anshari. Saya bertanya kepada beliau “Ayah, apakah PKI itu jahat?” Beliau menjawab “Iya. Saya melihat dan mendengarnya sendiri bagaimana dulu di kampung saya PKI ingin membunuhi kerabat saya. Saya juga menjadi saksi bagaimana kiayi-kiayi di desa itu ingin mereka bunuh, mereka menjuluki kiayi-kiayi itu dengan setan-setan kampung.” Sayapun kembali bertanya “bagaimana tentang pembunuhan?” Pembunuhan memang bukan hal yg diinginkan, tapi pada saat itu kondisinya adalah kalau tidak membunuh, ya terbunuh. Kebetulan PKI yang kalah, jadi PKI yang lebih banyak terbunuh.” Saya juga menanyakan “bagaimana pendapat Ayah tentang wacana negara harus meminta maaf terhadap PKI?” Beliau menjawab bahwa “kalau negara meminta maaf, saya yakin tentara/kostrad akan sangat keberatan”.

Belum selesai, saya tanya beliau “menurut Ayah, kapan masa di mana HmI itu berada dalam puncak kejayaannya?” Beliau menjawab “tergantung yang dimaksud kejayaan itu yang seperti apa. Tapi, HmI itu sangat solid dan kuat ketika dulu kita melawan PKI. Waktu PKI menghembuskan wacana HmI harus dibubarkan, kita ramai-ramai melawan. Waktu itu, orang-orang banyak yang bergabung ke HmI untuk melawan PKI juga. “Jadi malah ketika ada musuh bersama kita jadi kuat ya, Yah?” tambah saya. “Betul. Karena kalau tidak ada musuh dari luar, musuh utama kita adalah diri kita sendiri.” Jawab beliau.

Hari itu saya mendapat pelajaran mengenai bukan pentingnya kita mencari musuh, tapi tepatnya mengenai pentingnya kita tetap menjaga diri ini untuk selalu berada dalam kompetisi, tentunya dalam sense yang positif. Persaingan menggerakan diri kita untuk selalu berkembang. Walaupun adanya musuh bersama itu bisa jadi bonus buat kita, tapi janganlah coba-coba sengaja mencari musuh. Namun, kalau musuh datang, jangan ragu untuk kita hadapi. Ngomong-ngomong saya sebenarnya bukan orang yang suka berkompetisi dengan orang lain. Paling banter saya kompetisinya maen Pro Evolution Soccer, biasanya tiap malam sabtu/minggu di masjid Unpad. Sisanya saya mencoba untuk menjadi orang yang kalau dalam bahasa ilmu etika sih “otonom” dalam menentukan saya mau ngapain. Tentang Komunisme dan PKI, sebenernya saya tidak terlalu tertarik dengan ke dua wacana tersebut. Tulisan ini sebenernya mau nyepet si Fadel. Itu aja sih wkwkwk

Nb: walapun begitu pasti ada yang tidak setuju dengan tulisan saya, terutama apa yang saya tulis ulang tentang PKI. Teman-teman juga pasti punya bacaan lain tentang hal tersebut. Untuk hal ini, silakan saja teman-teman yakini apa yang teman-teman yakini, dan sayapun meyakini apa yg saya yakini.

24 April 2016

Ridwan

Refleksi 69 Tahun HMI

Hari ini adalah tepat 69 tahun Himpunan Mahasiswa Islam didirikan (dalam tahun masehi). Kita sekarang adalah bukti bahwa HmI adalah organisasi pengkaderan. HmI adalah organisasi pengkaderan yang bukan hanya ada untuk masa lalu dan sekarang, namun juga untuk masa depan. Sudah 69 tahun roda pengkaderan berputar terus. Jalan yang dilaluinya tidak selalu mulus, sebagaimana juga titik pada sebuah roda yang selalu berputar yang kadang di atas, kadang juga di bawah. Sejarah telah mencatat bahwa HmI pernah menghadapi ujian-ujian berat yang mengancam eksistensi organisasi. Itu dulu, sekarang juga begitu. Rintangan dan ujian selanjutnya juga sudah menunggu di depan mata. Tidak mengapa saya rasa. Bukankah ada pepatah yang mengatakan bahwa pelaut yang handal tidak diciptakan dari kondisi laut yang tenang?

Kalau ibaratnya manusia, 69 tahun adalah usia senja, usia tua.  Lazimnya, manusia yang usianya hampir kepala tujuh terkena penyakit yg biasa menimpa orang-orang tua seperti pikun, rabun penglihatan, osteoporosis, dan susah mendengar. Saya harap HmI jangan sampai menderita penyakit-penyakit tersebut. HmI jangan sampai pikun sehingga melupakan mission HmI sebagai cita-cita bersama dan Islam sebagai landasan perjuangan. HmI juga jangan sampai rabun sehingga bingung membedakan mana kebenaran, mana pembenaran. HmI juga jangan sampai keropos dalam pergerakan fastabiqul khairat untuk menggapai ridha Allah SWT. HmI juga jangan sampai sulit mendengar aspirasi kader di tingkat grass root dan masyarakat Indonesia sebagaimana dulu Jenderal Besar Sudirman mengatakan bahwa HmI itu Harapan masyarakat Indonesia. HmI harus meneladani Rasulullah SAW yang ketika semakin tua semakin bertambah kemuliaannya dan ketaqwaannya kepada Allah SWT.

Maka dari itu, tidak ada salahnya di milad HmI yang ke-69 ini kita semua bermuhasabah. Sudah luruskah niat kita dalam ber-HmI? Dari apa yang sudah kita semua lakukan di HmI, apakah Allah SWT akan ridha, atau justru murka? Sudahkah kita ber-HmI sesuai dengan pedoman konstitusi juga Qur’an dan hadis? Sudah seberapa seriuskah kita memperjuangkan mission HmI? Sudahkah HmI menjadikan diri kita lebih baik, dan kita menjadikan HmI lebih baik? Semoga apa yang masih buruk bisa kita semua perbaiki dan yang sudah baik bisa kita tingkatkan. Semoga Allah SWT selalu memberikan hidayah dan taufiq kepada kita, kepada HmI. Selamat milad HmI ke-69. Bahagia HmI.

 

Jatinangor, 2 Februari 2015

Tentang Slogan Pendidikan

popong

Kemaren setelah acara diskusi memperingati hari pendidikan nasional yang diselenggarakan HmI saya nanya ke, anggota DPR RI Komisi 10 tentang pendidikan, Ceu Popong “Ceu, kan slogan pendidikan kita itu ‘Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani’. Kenapa kok itu pakai bahasa Jawa? Bukankah dulu sumpah pemuda kita berkomitmen berbahasa yang satu, bahasa Indonesia? Mengapa bahasa yg dipakai untuk slogan pendidikan nasional adalah bahasa daerah yang tidak semuanya paham?”

Beliau menjawab kurang lebih begini “Ga apa-apa. Bahasa daerah itu kan kearifan lokal. Kalau kita ditanya tentang kebudayaan nasional kita apa, kita pasti bingung. Kebudayaan nasional itu kan kumpulan dari kebudayaan-kebudayaan lokal. Slogan tersebut merupakan merupakan kearifan lokal yg diangkat sebagai kebudayaan nasional. Secara filosofis, slogan itu juga sangat luar biasa. Kalau banyak yang tidak mengerti, kan sekarang sudah banyak yg menerjemahkan. Jadi, tidak masalah. Toh, slogan itu sebenarnya berasal dari bahasa Kawi, bahasa kuno. Jadi, tidak apa-apa ya.”

Setelah mendengar jawaban tersebut, sayapun mengucapkan terima kasih dan salim ke beliau. Terus, beliau pulang deh dianter sama cucunya yg anak Unpad. Ceu Popong itu pemain lama di DPR RI. Udah ngejabat dari tahun 1987. Sudah 7 periode beliau di DPR RI, sudah kurang lebih 28 tahun. Bayangin tuh, 28 tahun jadi dewan hahaha. Usianya sendiri udah 76 tahun dan kalau kata orang Sunda mah masih jagjag, masih seger. Beliau bilang salah satu alasan beliau kenapa mau jadi anggota DPR adalah biar bisa marahin menteri katanya hehe. Yu para pemuda kita siap-siap untuk menggantikan generasi tua, siap-siap menggantikan beliau-beliau buat marahin menteri 🙂