Manusia Lebih Baik dari Binatang?

binatang

Sumber Gambar: OA Line Big Figure Of World

Melihat gambar tersebut saya jadi ingat omongannya ustadz siapaa gitu saya lupa. Katanya, seburuk-buruknya monyet yg suka mencuri paling mereka mencuri makanan sampai mulut dan ke dua tangan mereka sudah penuh. Beda dengan manusia / para koruptor yang bisa mencuri uang sampai mungkin tidak akan cukup apabila ditaruh di ruangan kamarnya. Juga, seburuk-buruknya seekor singa si Raja Hutan paling dia hanya memangsa dan membunuh satu dua hewan lain untuk mengisi perutnya. Gak mungkin ada singa yg rapat sama singa lain untuk membunuh seluruh makhluk hutan. Beda sama manusia yang bisa bersekongkol untuk membunuh jutaan manusia lain. Lihat saja apa yang para pemimpin gila di Jerman, Soviet, RRC atau Amerika yang tangannya dulu pernah berlumuran darah dari mereka yg tidak bersalah. Makanya tidak salah apabila disebutkan bahwa manusia itu bisa lebih buruk dari hewan apabila dia tidak menggunakan akal dan qalbunya.

 

Negara Barat lebih Islami daripada negara Muslim?

Berikut adalah komentar singkat saya atas tulisan yang dipost di http://dkm-aththolibin.tumblr.com/post/144040939718/kisah-inspiratif

Pandangan bahwa Barat lebih Islami daripada negara dengan mayoritas penduduk Islam terlihat manis, namun kalau kita cermati bisa saja pandangan seperti itu menyesatkan kita. Yang harus digarisbawahi juga adalah bahwa menjadi Islam tidak hanya menyangkut akhlaq saja melainkan juga aqidah dan syariat. Aqidah adalah pondasi berislam. Apabila aqidahnya tidak benar, seseorang tidak dapat disebut muslim. Lagian, nilai-nilai yang disebutkan di tulisan tersebut juga (keadilan, disiplin, menghormati orang, kebersihan, dll) adalah memang nilai Islam namun juga merupakan nilai ideal yang berlaku di manapun di budaya apapun (universal). Toh saya juga tidak yakin bahwa negara yang ada di urutan teratas masyarakatnya mengikuti norma Islam yang spesifik (seperti tidak makan babi, minum alkohol, melakukan hubungan seks di luar nikah, berjudi, ikhtilat, melegalkan same sex marriage, dll), paling juga yang dianut/diikuti yang sifatnya universal saja. Ditambah tanpa aqidah, masih bisakah mereka disebut lebih Islami? Jadi, bagi saya yang disebut Islami itu harus yang mencerminkan Islam dan Islam itu mencakup aqidah, syariah, dan akhlak; tidak hanya akhlak saja. Saya tidak tahu konteks Syaikh Muhamad Abduh berpendapat seperti di tulisan tersebut. Ya mungkin maqom sayanya saja yang belum nyampe. Meski begitu, keadaan ini bisa juga dijadikan sebuah renungan bagi umat Islam. Perbaiki apa yang belum baik, lengkapi apa yang belum lengkap. Wallahu A’lam.

HmI-Kohati

cambnpwviaa6prn

Sekitar 3 minggu lalu, pas saya ikutan acara Korps Alumni HmI (KAHMI) di Balkot, Bandung saya ngeliat ada nenek-nenek sepuh tiga orang jalan bareng ke sana ke mari. Nenek-nenek tersebut make baju yang sama dengan kita, baju yang dikasih panitia. Iya, mereka itu juga alumni HMI. Kayanya mah Korps HMI-wati (Kohati) generasi pertama. Yang serada aneh saya liat, kok itu nenek-nenek sepuh itu ke mana-mana diikutin sama Pol-PP dua orang. Dari keramaian pun saya dengar, ternyata nenek yang ditengah itu “Ibunya Pak Wali”. Pantesan aja dikawal sama Pol-PP, ternyata nyokapnya Ridwan Kamil. Memang, ayah-ibunya Ridwan Kamil itu keduanya aktivis dan alumni HmI tahun 1960an. Ayah-ibunya Ridwan Kamil itu pertama kali ketemu satu sama lain di HmI dan berjodoh. Makanya Ridwan Kamil pernah bilang kalau “tidak ada HmI tidak ada saya”. Ada kisah cinta di HmI. Makanya sering juga ada guyonan “belum sempurna HmI-mu kalau kamu tidak bisa mendapatkan Kohati”. 😀

Papua Juga Kita

Sedikit tanggapan dari artikel di laman http://www.melayutoday.com/berita-1747-ada-apa-dengan-papua-.html

Benny Wenda, pemimpin gerakan kemerdekaan Papua Barat menganggap bahwa Papua Barat adalah wilayah mereka yang sedang dijajah oleh bangsa Indonesia. Papua Barat bukanlah Indonesia. Papua Barat terlalu banyak punya perbedaan dengan Indonesia. Rasisme yang diterima Benny Wenda ketika kecil salah satu penyebab dia berkata begitu. Di samping rasisme, pelanggaran HAM juga dituduhkan Benny Wenda dilakukan oleh militer Indonesia kepada warga / suku di sana. Kesenjangan di bidang pembangunan, ekonomi dan pendidikan juga tidak kalah menyumbang besar pada keinginan mereka untuk merdeka. Papua negeri yang kaya, tapi dikeruk kekayaannya dan dibawa keluar Papua. Begitulah kira2 kata mereka. Perspektif yang baru ternyata. Indonesia dianggap penjajah, penindas, dan rasis. Siapa yang akan sangka itu?

Sekarang Benny Wenda masih memimpin pergerakan Free WestPapua-FWP- dalam pengasingannya di Inggris setelah sebelumnya berhasil kabur dari penjara di Indonesia. Aksi-aksi demonstrasi untuk menuntut kebebasan Papua Barat pun sudah cukup banyak dilakukan terutama di Australia sana. Pada suatu ketika menlu Australia pernah menanggapi pendemo Free West Papua dan ditanyai tanggapannya mengenai apa yang terjadi di Papua Barat sana. Dia menjawab kurang lebih bahwa Australia tidak akan ikut campur masalah Papua Barat karena itu menyangkut masalah internal Indonesia sebagai negara yang berdaulat. Walaupun mungkin bisa saja itu hanyalah retorika diplomatis belaka, tapi ada benarnya juga. Bagi saya, masalah Papua adalah masalah kedaulatan Indonesia seutuhnya. Kalau Papua Barat benar merdeka, saya tidak bisa membayangkan, pasti ada daerah-daerah lain yg menuntut hal yg serupa dan ini bisa menjadi efek domino yang mengancam keutuhan negara sepenuhnya. Masalah ini jangan sampai jadi bom waktu bagi kita. Pemerintah, tolonglah segera rangkul lagi mereka, saudara sebangsa kita.

Satu Paragraf Untuk Bang Fahri Hamzah

fahri.png

Tulisan ini adalah Respon dari Berita Pemecatan Fahri Hamzah

Kalau sudah begini yang memang serba salah tidak hanya Raisa tapi juga bang Fahri Hamzah. Kalau dia menerima pemecatan, berarti secara tidak langsung dia mengakui bahwa dia bersalah. Kalau gugatan dia atas pemecatannya ke pengadilan dikabulkan, maka citra partai lah yang akan tercoreng karena membuktikan bahwa partai salah dalam mengambil keputusan. Belum lagi setelah itu bisa saja muncul konflik yg lebih besar di internal partai, wong merasa saling didzhalimi. Kalau menurut saya, mendingan Bang Fahri mengalah saja. Masih banyak partai yang mau menampung Abang. Coba masuk ke Perindo, Bang. Setidaknya Perindo punya mars yg lebih menggelegar ketimbang PKS. Kalau masuk Perindo, kesempatan Abang buat tampil di sinetron di bawah naungan sahabat Hari Tanoe juga lebih besar. Atau, Abang juga bisa menghubungi Habiburrahman El-Shirazy. Kali aja diajakin main film Ayat-ayat Cinta 2, Bang. Pokoknya yang terbaik deh buat Bang Fahri. Salam juga ya buat Aisyah, Bang. Tetap sabar Bang dan jangan khawatir karena kam me akan selalu bersama abang 😀

Untuk Kawanku Para Perokok

Katanya, mendingan merokok saja karena merokok tidak merokok juga bakal mati. Hmm, kalau begitu, mendingan kita makan obat nyamuk aja dong karena makan atau tidak makan obat nyamuk juga pasti bakal mati. Mendingan kita minum air saja, karena minum ataupun tidak minum juga bakal mati. Mati adalah niscaya, mau rokok akhirnya diciptakan atau tidak juga yang bernyawa akan mengalami maut. Kayanya lucu aja kalau memakai analogi seperti itu. Ya memang sih biasanya mereka juga ngakunya itu bercanda.

Jujur aja, rokok adalah produk yang jujur. Bahayanya sudah ditulis oleh sang produsen di kemasannya. Makanya kalau kata Aa Gym juga sebenarnya nasib perokok itu sudah bisa terlihat di bungkus rokok. Tapi, entah mengapa produk yang satu itu tetap saja laris manis. Merokok itu kaya dosa: efek fatalnya jarang terlihat / terasa langsung. Yang ada, rasanya malah nikmat. Coba kalo yg dikatakan KH. Zainuddin MZ dalam ceramah-ceramahnya benar terjadi. Andai saja tiap melalukan 1 dosa kepala kita langsung benjol, pasti kepala kita udah gak karu-karuan; andai saja setiap orang yg merokok sebats langsung dapet serangan jantung pasti tidak banyak orang yg mau nekat merokok. Memang betul, melawan sesuatu yg tidak terlihat itu lebih berat ketimbang melawan sesuatu yang jelas terlihat.

Saya menghormati orang yang merokok. Tidak harus setuju dengan rokok untuk dapat menghormati. Merokok adalah kegemaran mereka, saya hormati itu. Biasanya, perokok tersebut gemar berterima kasih dengan membagi asap rokoknya dengan saya. Namun, saya seringnya keberatan karena saya tidak suka dengan asap rokok. Silakan nikmati saja asapnya sendiri, jangan dibagi-bagi ke saya. Seperti halnya orang yang ngupil. Silakan saja kalian enak-enakan mengupil, tapi upilnya simpan sendiri saja tidak usah dibagi ke saya karena saya tidak suka upil, saya masih normal. Saya sukanya sama perempuan.

Tidak usah merokok. Meski begitu, kalau tetap ingin merokok, merokoklah pada tempatnya, buang puntung rokoknya ke tempat sampah, atau kalau tidak ada tempat sampah ditelan saja lah. Perhatikan juga sekeliling kalian. Survey yang saya kira-kira sendiri menunjukkan bahwa 90% orang yang tidak merokok itu terganggu oleh asap rokok, sisa 10% nya berbohong kalau dia tidak terganggu oleh asap rokok. Ga usah pake ditanya segala “gapapa nih gue ngerokok?”. Sadar diri aja. Ketika dia bilang “gapapa kok santai aja” sebenarnya dalam lubuk hatinya yang terdalam dia lebih nyaman apabila tidak ada asap rokok sama sekali. Yuk saling memberikan kenyamanan, atau sekalian saja berhenti merokok. Tidakkah teman-teman ingin mati dengan tubuh yang setidaknya lebih sehat?

dengan penuh cinta dan setengah sebel,

temanmu

Sumber gambar: OA LINE@ faktual

Bahagia

42528712954ddebef15fe09-93531036

sumber: google images

Kata Aristoteles, tujuan akhir manusia adalah untuk mendapat kebahagiaan. Sarana/perantaranya macem-macem, ada yang berbentuk beres sidang skripsi, wisuda, dapet beasiswa, lolos ke PIMNAS, menang lomba, nikah, sukses jadi pengusaha, dan lain sebagainya. Menjadikan kebahagiaan sebagai tujuan akhir ya boleh-boleh saja. Kalau kita sudah berbahagia, lalu kita mau apa lagi? Lah, tapi di Islam kan diajarinnya tujuan manusia adalah untuk beribadah dan kepada Allah swt dan bertakwa?! Memangnya kita ga bahagia kalau kita bisa beribadah? Tentu saja bahagia kan? Tujuannya masuk surga! Apalagi itu, masuk surga pasti bahagia dong! Nah, Aristoteles juga bilang kalau kebahagiaan itu bukanlah tujuan yang egois, bukan tujuan untuk diri sendiri saja. Kebahagiaan, menurutnya harus kolektif, karena tidak ada yang bisa bahagia seorang diri. Sederhananya begini, kalau kita masuk surga, tapi sayangnya orang terkasih kita masuk neraka, apakah kita akan bahagia? Tentu saja tidak kan? Logika yang dipakai logika dunia ya, kalau logika surga sih ya orang di surga pasti bahagia. Intinya, kalau kita bahagia dan mau bahagia itu harus bagi-bagi, harus bareng-bareng, ga bisa sendiri sendiri aja. Contoh kecilnya misalnya teman-teman sedang berbahagia karena baru selesai sidang skripsi, wisuda, lolos pimnas, gajian, atau dapet beasiswa. Nah, bahagianya jangan buat sendiri aja, ya seminimal-minimalnya ajak temennya merasa bahagia dengan traktir temennya makan gitu 😀