Pendapat Saya Tentang Fatwa MUI Kota Samarinda Terkait Polisi Tidur

 

Malam ini di timeline akun Line saya ramai beredar berita daur ulang tentang Fatwa MUI Kota Samarinda yg memakruhkan dan mengharamkan Polisi Tidur yang mereka keluarkan pada tahun 2013. Entah apa maksud pendaur-ulangan berita ini. Komentar negatif yg ditujukan kepada MUI pun bermunculan. Saya khawatir ada upaya untuk mendelegitimasi MUI, sebagai dampak dari ramai-ramai you know what yang terjadi baru-baru ini. Semoga ini hanya kekhawatiran saya semata saja. Bagi yang belum membaca fatwanya, silakan disimak fatwa yg saya kutip dari blog MUI Kota Samarinda ini:
_
Assalaamu’alaikum Wr Wb
Salam silaturrahim kami sampaikan semoga senantiasa mendapat rahmat dan Hidayah dari Allah SWT.
Sehubungan dengan banyaknya Speed Trap / Polisi Tidur dijalan-jalan umum Wilayah kota Samarinda, maka dengan ini disampaikan sebagai berikut :

a. Bahwa Polisi Tidur yang terletak di jalan umum, yang tidak sesuai dengan aturan Perundang-Undangan yang berlaku dan Qoidah-qoidah agama, merupakan gangguan yang menjadikan madhorot (bahaya) bagi umat/ pengguna jalan pada umumnya, apabila Polisi Tidur tersebut sampai membahayakan pengguna jalan maka hukumnya menjadi Harom.

b. Larangan berbuat madhorot/ mempersulit orang, dan anjuran berbuat baik telah diatur dalam agama demikian juga segala aktifitas dan tindakan masyarakat/warga negara termasuk pembuatan polisi tidur, telah diatur pemerintah melalui peraturan pemerintah/peraturan negara.

c. Kepada Pemerintah Kota Samarinda kiranya dapat menertibkan Polisi Tidur di wilayah Kota Samarinda yang tidak sesuai dengan Qoidah Agama dan Peraturan Perundang-Undangan yang berlaku, semoga Allah SWT merahmati kita semua.

d. Dasar Hukum:

o QS. Al-Qoshosh(28):77, QS. Al-A’raf(7):56

o Beberapa Hadits Riwayat Bukhori dan Muslim

o Kitab Arbain, Riyadhushsholihin

o Qoidah Ushul

o Permenhub: No:3 th 1994 tentang alat pengendalian dan pengamanan jalan.
Demikian kami sampaikan, atas kerjasamanya kearah ini diucapkan terimakasih.
Wassalaamu’alaikum Wr Wb [1]
_

Yang patut dicatat adalah pertama, yang menjadi objek fatwa dapat dilihat di poin a yaitu “Polisi Tidur yang terletak di jalan umum, yang tidak sesuai dengan aturan Perundang-Undangan yang berlaku dan Qoidah-qoidah agama”. Jadi, bukan polisi tidur secara keseluruhan tanpa terkecuali. Hanya yang tidak sesuai kaidah sajalah yg menjadi objek fatwa.

Yang ke dua, bahwa fatwa ini sifatnya tidak menyelisihi peraturan pemerintah tentang alat pengendalian dan pengamanan jalan, melainkan mendukung peraturan tersebut. Hal ini jelas dapat terlihat dari apa yang disebutkan pada poin a, b, dan c. Fatwa ini juga bisa dibilang menguatkan legitimasi peraturan pemerintah tersebut dengan memberikan pandangan keagamaan mengenai aturan tersebut. Hal ini tentu saja tidak ada salahnya, dan hal yang baik.

Yang ke tiga, fatwa ini berisi juga anjuran dan merupakan upaya kembali mengingatkan pemerintah untuk menertibkan polisi tidur yang tidak sesuai aturan yang dapat menimbulkan mudharat. Saling menasehati dan mengingatkan kepada yang baik adalah hal yang baik.

Fatwa sendiri dalam bahasa arab artinya nasihat, petuah, jawaban, atau pendapat [2]. Fatwa ini adalah _jawaban_ dari keluhan masyarakat dan Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Samarinda sebagaimana diberitakan di vivanews 3 tahun lalu [3] . Fatwa ini adalah juga _pendapat_ keagamaan dari MUI karena MUI melandaskan pendapatnya dari ayat Al-Quran, Hadist Riwayat Bukhari Muslim, Kitab karangan para salafus sholeh, dan kaidah ushul fiqh. Fatwa ini juga merupakan _nasihat_ dan _petuah_ yang kita bisa lihat nasihatnya pada poin c Fatwa.

Jadi, berhusnudzanlah kita kepada para ulama. Kalaupun ada ulama yang salah, nasihatilah dengan arif dan bijaksana, bukan dengan cacian durjana. Ingatlah juga nasihat Ustadz Yusuf Mansyur, sesalah-salahnya ulama adalah sebenar-benarnya kita. Mari bersandar kepada ulama yang sholeh. Mari kita muliakan mereka.

Al-Haafidh Ibnu Hajar rahimahullahu ta’ala berkata :

“Tidak melazimkan bagi orang yang mengeluarkan satu hukum atau fatwa jika ia berijtihad lalu keliru dipikulkan dosa atas hal itu. Bahkan, jika ia telah mengerahkan seluruh kemampuannya (untuk berijtihad), akan diberikan pahala. Jika ia benar, dilipatkan pahalanya. Akan tetapi seandainya ia berani menghukumi atau berfatwa tanpa dasar ilmu, maka ia berhak mendapatkan dosa”. [4]

Wallahu a’lam

catatan:

[1] mui-samarinda.blogspot.co.id/2013/02/polisi-tidur-speed-trap-wilayah-kota.html

[2] https://id.wikipedia.org/wiki/Fatwa

[3] http://nasional.news.viva.co.id/news/read/388497-mui-samarinda-haramkan-polisi-tidur

[4] Fathul-Baariy, 13/318-319

Ridwan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s