Pernyataan Ahok dan Sekilas Tentang Tafsir Al-Qur’an

Saya tertarik mengomentari pernyataan Ahok di sini. Ahok pada menit 0.38-0.45 terlihat mencoba menafsir surat Al-Maidah ayat 51 hanya dari terjemahannya saja. Apakah boleh begitu?

Memang bisa saja kita memahami sebuah ayat Al-Qur’an dari teks/terjemahannya semata saja. Dalam Al-Qur’an ada yang dinamakan nash atau ayat yang qath’iy, yang artinya nash yang pasti dan meyakinkan sehingga tidak ada lagi kemungkinan makna selainnya. Namun, tidak semua nash / ayat al-Qur’an adalah qath’iy, yaitu yang disebut Zhanny. Yang zhanny maksudnya adalah nash yg memungkinkan memiliki dua makna atau lebih. Imam Abu asy-Syathibi dalam Shihab menyebutkan bahwa tidak ada, atau jarang sekali ditemukan sesuatu yang sifatnya qath’iy dalam dalil-dalil syara. Singkatnya, untuk memahami makna yang terkandung dalam ayat-ayat Al-Qur’an atau hadist, dibutuhkan sebuah penafsiran dengan menggunakan kaidah tafsir Al Qur’an. Ilmu tafsir Al-Qur’an adalah ilmu yg sudah ada sejak setelah generasi pertama umat Islam, yaitu dirintis oleh syaikh Ibnu Taimiyah (661 -728M).  Ilmu tafsir Al-Qur’an itu betul ada, bukan hal yang baru. Jadi, kalau mau menafsirkan Al-Qur’an, ya harus pakai kaidah sesuai dengan ilmu tafsir Al-Qur’an, tidak bisa sembarangan.

Tidak semua orang juga bisa jadi penafsir Al-Qur’an yang bener-bener penafsir karena tentu saja kalau mau jadi bener-bener penafsir ada syaratnya. Yang pertama ya kudu bisa bahasa Arab karena Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab. Tidak hanya harus bisa bahasa Arab, tapi dia juga harus mengerti linguistik atau tata bahasa Arab, yang bahkan mungkin orang Arab pun tidak semuanya paham. Selain itu tentu saja penafsir harus punya pengetahuan yang luas tentang Al-Qur’an dan Islam, harus banyak tahu hadist, riwayat, dan hal-hal yang termasuk dalam rumusan atau kaidah tafsir Al-Qur’an. Intinya tidak mudah lah untuk bisa menjadi penafsir Al-Qur’an yang bener-bener penafsir.

Kalau kita cuma baca terjemahan versi Depag ya bisa aja sih disebut menafsir. Cuma ya kalo begitu paling level tafsirannya dapat dibilang ga seberapa. Kasarnya sih masih cetek lah. Jadi, tentang tafsir ini kalau mau lebih jelas bisa baca bukunya Prof. Quraish Shihab judulnya Kaidah Tafsir, harganya 99 ribu di Tisera, atau ada juga buku terjemahan Ilmu Tafsir karya Ibnu Taimiyah, harganya 15 ribu doang, coba cari di Tisera Jatos kalau masih ada. Oh iya, kaidah tafsir Al-Qur’an ini jangan disamakan dengan metode penafsiran ala hermeneutika ya soalnya antara ke dua cara metodelogi tafsir ini punya kekhasan/perbedaan satu sama lain.

Kembali lagi ke persoalan Ahok. Dalam Video tersebut Ahok, yang mengkomentari QS.Al Maidah:51,  bilang bahwa “konteksnya bukan itu. Konteksnya jangan pilih Nasrani, Yahudi, jadi temanmu, sahabatmu.. sesuai terjemahan asli.” Intinya Ahok ingin bilang bahwa QS.Al-Maidah:51 gak lagi ngomongin memilih pemimpin/gubernur. Untuk lebih meyakinkan tentang tafsirannya, Ahok bilang bahwa dia 9 tahun sekolah Islam SD-SMP. Mungkin dengan bilang begitu Ahok bisa saja merasa bahwa sekolah 9 tahun di sekolah Islam membuat dia bisa menafsirkan ayat tersebut dengan benar. Pertanyaan dari saya adalah: apakah sekolah Islam Ahok itu dulu mengajarkan ilmu tafsir Al-Qur’an? Kalau iya dan Ahok  mengikuti pelajaran itu dengan baik pasti dia akan tahu bahwa kegiatan tafsir yang betul itu tidak sekedar membaca terjemahan dari ayatnya saja.

Setelahnya Ahok bilang bahwa ada “orang rasis dan pengecut menggunakan ayat suci di dalam Al-Qur’an tidak maksudnya seperti itu diplesetin seperti itu.” Nah, pandangan Ahok yang inilah sebenarnya yg bisa bikin ribut lagi, apabila sekali lagi ujaran Ahok ini adalah dalam konteks membahas Qs.Al-Maidah:51. Ahok seolah ingin bilang bahwa QS.Al-Maidah:51 itu diplesetkan. Lalu, dia membandingkan dengan ISIS yang memplesetkan ayat-ayat suci. Kata Ahok, ayat-ayat Al-Qur’an tidak salah, yg salah yg memplesetkannya. Namun, pertanyaannya adalah apakah yang banyak disampaikan ulama tentang makna Al-Maidah ayat 51 bahwa tidak boleh memilih orang Nasrani / Yahudi sebagai pemimpin adalah sebuah bentuk pemlesetan ayat suci? Tentu kalau jawabannya adalah iya, ini akan menjadi tuduhan yang serius.

Jadi bagaimana? Coba simak surat MUI DKI Jakarta kepada Ahok. Dalam poin 3 surat tersebut ditulis bahwa “Para Ulama atau Pendakwah telah menyampaikan apa yang digariskan oleh Al Qur’an yang tafsirnya disepakati oleh mayoritas Ulama, sehingga tidak dapat dipandang sebagai pembohongan atau pembodohan serta bukan bentuk politisasi ayat, tetapi bagian dari tugas para ulama untuk menyampaikan kebenaran Alquran.” Inilah jawaban yang saya anggap tepat atas dugaan tuduhan Ahok bahwa Al-Maidah ayat 51 itu maknanya diplesetkan untuk kepentingan politik. Inilah juga menjadi jawaban dari pertanyaan “kalau gak semua orang bisa jadi penafsir yang benar-benar, terus harus bagaimana?”. Jawabannya ya kita ngikut sama ulama-ulama, baik yang dulu maupun yang sekarang. Banyak masalah hukum dalam Islam yg sebenarnya sudah dibahas, dan sudah ada hasilnya dari jaman dahulu kala. Jadi, untuk beberapa hal gak usah repot lagi ngeributinnya, karena dulu jg udh ada yg pernah ngeributin masalah yg sekarang diributin lagi.

Makanya kan dalam teguran MUI itu ditulis “tafsirnya disepakati oleh mayoritas Ulama” . Kesepakatan atau Ijma jumhur ulama itu sumber hukum juga dalam Islam, setelah Hadist. Kalo kamu awam, ya ngikut aja sama ulama, dan ini dibolehkan dalam Islam. Kenapa ada madzhab atau jamiyah dalam Islam juga kan itu untuk memudahkan umat dalam berIslam. Jadi gak usah kita cape-cape nafsir atau nentuin hukum suatu hal sendiri; pake aja dari yang udah ulama terdahulu tetapkan. Kalau kamu merasa tidak awam, coba cek lagi apa betul tidak awam? Sudah ngerti bahasa/linguistik Arab seberapa dalam? Sudah tahu berapa ribu ayat Al-Qur’an dan hadist? Bergurunya sama siapa? Sanad ilmunya gimana? Jangan-jangan kita cuma merasa so-soan tidak awam saja, padahal nyatanya awam. Anehnya lagi, sekarang ada kecenderungan apa-apa didekonstruksi. Biar sesuai dengan keadaan zaman katanya. Kalau mau dekon silakan aja, tapi ya kudu ngerti dulu ilmu tafsir. Banyaknya sekarang ilmu tafsir Al-Qur’an gak paham, udah pengen langsung ngedekonstruksi aja. Kan kebalik jadinya.

Intinya, lebih baik memang kita tidak membicarakan sesuatu yang kita tidak benar-benar paham. Dalam hal ini saya rasa Ahok tidak tepat mengomentari QS. Al-Maidah:51. Kalau Ahok sudah meminta maaf, ya kita maafkan sajalah, toh dia berbicara karena ketidaktahuannya, bukan karena ketahuannya. Kalau ada umat Muslim yang marah, ya harap maklum saja asal mereka marah karena ketahuannya, bukan ketidaktahuannya. Lalu, untuk umat Muslim, mari kita kembali lagi kepada para Ulama yg bersandar kepada Al-Qur’an dan Hadist. Jangan pernah alergi sama Ulama. Kalau ngaji kita aja masih alakadarnya, ya ga usah mencoba melampaui batas dengan berpikir bisa menafsir ayat-ayat Al-Qur’an.

Walaupun kayanya memang tentang Ahok, tapi sebenernya tulisan ini adalah autokritik terhadap banyak umat Muslim saat ini yang saya rasa sudah mulai jauh dari ulama, bahkan merasa lebih hebat dari ulama, lebih jago nafsir dari ulama. Banyak yang berpikir ga ngikut ulama gapapa, ulama kan juga bisa salah. Ulama aja bisa salah, apalagi kebanyakan kita yang belajar agama saja alakadarnya, tapi suka memfatwakan ini halal itu haram. Memang ada juga ulama yang keliru. Maka dari itu untuk mengetahuinya kita harus belajar ilmu agama, tentu saja nantinya dalam konteks saling nasehat-menasehati, bukan untuk saling menjatuhkan. Boleh kita belajar ilmu apa saja, namun tetap jangan lupakan yang wajib: belajar ilmu agama. Semoga kejadian kontroversi Ahok ini menjadi pelajaran untuk kita semua.
“…Bertanyalah kepada Ahli Zikir (Ulama) jika kamu tidak mengetahui” [An-Nahl 43]

Wallahu a’lam

Ridwan

http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/16/10/10/oeswdz320-mui-dki-jakarta-tegur-keras-ahok-begini-isi-tegurannya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s