Sedikit Pandangan Saya Tentang Praktek OSPEK

-Ini adalah tulisan dari respon saya atas apa yang ada di gambar di atas-

Dalam sebuah kegiatan, evaluasi harus dilakukan dari berbagai macam arah. Bisa jadi yang salah adalah panitia, bisa jadi mabanya, bisa jadi juga keduanya. Apabila ada kasus demikian, saya kira budaya dialogislah yang diperlukan. Sistem itu dibangun dari masukan-masukan agar bisa tambah baik tiap saat. Panitia, maba, dan birokrat adalah subsistem-subsistem yang harus saling mendukung (hal baik) agar sistem yang lebih besar (fakultas/universitas) bisa lebih baik. Semuanya ingin yang terbaik. Kalau panitia merasa apa yg dilakukan sudah benar, ya jelaskan saja alasannya secara rasional sebagai insan akademis. Saya yakin pihak birokrat selalu terbuka akan dialog (seharusnya). Pepatah Arab pernah bilang bahwa kebenaran harus diterima meski keluar dari pantat ayam sekalipun. Harus kita ingat bahwa kita semua bisa saja salah. Mengingatkan seseorang bahwa dia bisa salah adalah cara bagus untuk mengingatkan bahwa dia hanyalah manusia. Salah satu cara untuk mengingatkannya adalah mengkritiknya. Budaya kritik mengkritik adalah budaya akademis sebagai perwujudan dari sifat ilmu pengetahuan yaitu kritis. If you don’t want to be critized then do nothing, say nothing, and be nothing. Begitu kata bule-bule sih. Jadi, sekali lagi yang harus dikedepankan adalah dialog. Kritik yang baik salah satunya yang dapat diarahkan menjadi dialog. Kalau memang merasa benar jangan takut untuk mempertahankan argumennya. Tidak perlu merasa kebakaran jenggot.

Lalu, evaluasi diri juga penting bagi panitia. Ketika ada kasus (di manapun itu, tidak hanya di kampus komplek Teknik Undip tersebut) mabanya lebih memilih membicarakan permasalahanannya ke birokrat bukannya ke panitia, harusnya muncul juga pertanyaan “jangan-jangan mabanya takut kepada kating/seniornya?”. Apakah ketakutan maba terhadap kating adalah salah satu indikator keberhasilan kaderisasi? Kalau itu adalah bukan, dan maba benar takut kepada senior seperti yang dibilang Samuel, lalu ini tanggung jawab siapa? Kalau panitia hanya mencoba menyalahkan maba dengan bilang ini adalah salah mereka yang cengeng, manja, dll, saya yakin tidak akan banyak perbaikan yang bisa didapat. Cobalah evaluasi diri / internal panitia sendiri: jangan-jangan metode yang panitia gunakan salah, jangan-jangan yang sering muncul adalah kesan marah dan jahat, bukan kesan ramah yang patut dihormati.

Pengedepanan aspek dialog dan evaluasi diri tentu saja akan sulit untuk terwujud apabila ada pihak yang sudah merasa superior bahkan arogan dengan ilmu yang dimiliki. Mereka merasa paling tahu, mereka merasa paling benar. Ketika sudah merasa paling tahu dan paling benar, maka akan sulitlah bagi mereka untuk menerima kebenaran yang sesungguhnya yang mungkin saja sedang tidak ada pada pihaknya. “Maba gak tau apa-apa”. “Maba gak bakal paham kalau blabla”. Belum tentu. Bisa saja ternyata mereka para maba juga tahu bahkan lebih tahu, bisa saja ternyata mereka juga paham bahkan lebih paham. Kata Socrates, orang bijak adalah mereka yang tahu kalau mereka tidak tahu; the more you know, the more you know that you don’t know. Dengan perasaan begitu, orang tidak akan menjadi jumud, tidak fanatik dengan pendapat sendiri. Bisa jadi sayalah yang salah karena kurangnya pengetahuan saya.

Dengan begitu juga, orang-orang seperti bisa saja malah menjadi orang-orang yang malahan sok tahu. Mereka menganggap orang lain tidak tahu apa-apa karena itu adalah kewajiban mereka untuk mengisi maba dengan ilmu yang menurut mereka cocok dan paling tepat, padahal belum tentu. Pemosisian maba sebagai tabula rasa alias kertas kosong hanya akan menghasilkan metode pembelajaran yang pasif. Dengan begitu, maba hanya diperlakukan sebagai objek pembelajaran semata, bukan sebagai subjek juga. Metodenya akhirnya hanya naratif satu arah, panitia sebagai sang omniscient, yang paling tahu segalanya mencoba mengisi pengetahuan kepada maba saja. Dengan begitu, tingkat partisipasi dari peserta didik bisa jadi lebih rendah.

Padahal, metode yang menurut saya lebih baik adalah dengan menempatkan baik panitia maupun peserta didik atau maba sebagai sama-sama subjek pembelajaran. Mereka adalah dua entitas yang belajar bersama-sama. Panitia bisa membagikan ilmunya ke maba, mabapun bisa membagikan ilmunya ke panitia. Tidak hanya tentang bagi ilmu saja, melainkan juga tentang saling memberikan atau bertukar pendapat. Atmosphere pembelajaran seperti ini tentu akan lebih baik ketimbang pembelajaran naratif satu arah. Untuk memungkinkan ini terjadi, dibutuhkan sebuah konsep kaderisasi yang tidak kaku, melainkan yang bisa lebih fleksibel mengikuti perkembangan kegiatan. Fleksibel artinya dapat disesuaikan, tapi bukan gimana nanti juga. Tetap harus direncanakan dari awal. Fleksibel berarti panitia mampu berimprovisasi apabila ada konsep atau kegiatan yang harus diperbaharui, tentu saja diperbaharui atas dasar pertimbangan dan dialog dengan semua pihak: panitia, birokrat, dan maba.

Intinya sih, dalam kasus seperti ini, kalau ada something wrong jangan buru-buru menunjuk orang lain sebagai biang keroknya, bisa jadi masalahnya sebenernya ada di dalam diri kita. Ingatlah bahwa ketika kita menunjuk orang lain menggunakan jari telunjuk kita, ada 4 jari yang sedang mengarah kepada diri kita sendiri.

Ridwan

Advertisements