Tanggapan Saya Atas Adanya Penutupan Warung Makan Pada Siang Hari Selama Bulan Ramadhan

warung
Allah swt mewajibkan kita untuk beramar ma’ruf dan bernahi munkar “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan Ummat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; mereka adalah orang-orang yang beruntung.” (Q.S. Ali Imron:104). Amar ma’ruf artinya adalah menyeru kepada kebaikan, sedangkan nahi munkar adalah mencegah terhadap terjadinya kemunkaran (keburukan). Jumhur ulama menghukumi amar maruf nahi munkar ini fardhu, baik fardhu ain, maupun fardhu kifayah.

Wajibnya bagi umat Islam untuk beramar ma’ruf nahi munkar ini juga menjadi konsekuensi logis bagi ummat Islam untuk berdakwah. Dakwah itu artinya menyampaikan dan sebaik-baiknya perkataan adalah yang menyeru menuju Allah. “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru menuju Allah, mengerjakan amal yang shalih dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”. [Fushshilat:33]. Jadi, dalam Islam itu gak ada ceritanya ummat Muslim cuek terhadap sesama atau sekitarnya. Tidak ada istilah masalah keimanan, masalah ibadah adalah urusan masing-masing sehingga kita tidak berhak ikut campur. Saya resah dengan pemikiran yang mengatakan beragama itu janganlah manja. Sebagian dari kita berdalih bahwa tidak usah lah ummat Islam itu dilarang melakukan ini dan itu. Biar saja mereka yg memutuskan sendiri, mereka yg akan menanggung konsekuensinya. Kalau yang imannya kuat pasti tidak akan tergoda. Jadi, tidak usahlah itu harus dilarang-larang, disensor-sensor, atau ditutup-tutup.
Beragama kok manja sekali. Begitu katanya.

Pernyataan tersebut menurut saya adalah manis namun berpotensi menyesatkan. Sesama muslim itu harus saling mengingatkan. Tidak bisa kita cuek kalau ada muslim lain yang berniat bermaksiat sembari mengatakan “ah biarkan saja kalau imannya kuat juga dia gak bakal ngelakuin maksiat tersebut kok”. Yang benar adalah kita harus saling menasihati dalam kebenaran, tawa saubil haq. Harus kita cegah lah saudara kita yg mau bermaksiat itu, bukan malah dibiarkan dan diserahkan kepada imannya saja. Jadi, bentuk pelarangan, penyensoran, penutupan sesuatu yang dapat menimbulkan maksiat harus kita pandang sebagai upaya dari seseorang/pemerintah untuk beramar ma’ruf nahi munkar. Yakinlah bahwa mereka sedang ber amar ma’ruf nahi munkar sesuai dengan kemampuan mereka.

Hal yang harus diingat juga adalah bahwa amar ma’ruf nahi munkar dan berdakwah harus dilakukan dengan cara-cara yang baik, dengan hikmah dan akhlaqul karimah. Memang sangat disayangkan bahwa masih banyak saudara-saudara kita yang berdakwah dengan cara-cara yg tidak dibenarkan seperti misalnya dengan menggunakan kekerasan. Yang seperti ini sebenarnya tidak perlu dicaci maki karena sudah baik mereka ada kemauan untuk berdakwah, tinggal dibenarkan saja caranya. Sekali lagi bahwa beramar maruf nahi munkar dan berdakwah itu wajib dan harus dilaksanakan. Seperti halnya shalat, ketika ada seseorang yg misalkan dalam bacaan shalatnya salah, jangan larang dia untuk shalat, tetapi kita bantu dalam perbaiki shalatnya.

Bagaimana apabila ada yg sudah kita dakwahi tapi tetap saja dia melakukan maksiat? Hidayah memang Allah swt yang kasih, hak Allah swt. Meski demikian, tetep orang tersebut tidak boleh kita cuekin. Kalau ada yg demikian, kita doakan saja semoga Allah swt memberi taufiq dan hidayah-Nya kepada dia. Ummat Islam gak boleh cuek. Yang selama ini keliru kan, ada sebagian dari kita yang belum apa-apa sudah bilang yg seperti saya sebutkan sebelumnya: “kalau imannya kuat dia gak bakal maksiat kok. Dia sudah tahu mana yg benar mana yang salah”. Yang ini keliru karena kita harus mendakwahi orang tersebut itu sebelumnya. Masalah iman dia mah memang urusan dia, tapi masalah dakwah adalah lain lagi, adalah kewajiban kita. Walaupun dia sudah tahu mana yg benar dan yg salah, kan bukan berarti kita tidak wajib mengingatkan dia lagi. Masalah hasil mah biar Allah swt saja yg menentukan, asal kita ikhtiarkan dulu dengan mendakwahi orang tersebut.

Dalam konteks penutupan warung makan pada siang hari selama bulan ramadhan, saya sih melihatnya hal tersebut sah-sah saja dilakukan pemerintah dalam konteks mereka beramar ma’ruf nahi munkar dengan cara mereka. Ada pernyataan yang bilang bahwa kita kan ada muslim yang secara syariat diperbolehkan untuk tidak berpuasa jadi tidak perlu ditutup dong warung makannya, cukup dikasih tirai saja warungnya biar gak kelihatan sama yang puasa. Begini ya, puasa ramadhan itu adalah kewajiban bagi setiap muslim. Tidak berpuasa tanpa alasan yang dibenarkan syariat adalah perilaku maksiat. Kita dilarang oleh Allah swt untuk tolong menolong dalam kemaksiatan sebagaimana Allah swt. berfirman yang artinya “Dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.”(QS. Al Maidah: 2).

Bukanya warung makan pada siang hari dikhawatirkan dapar memfasilitasi orang-orang muslim yg berpuasa untuk melakukan maksiat dengan tidak berpuasa tanpa landasan syari. Saya yakin itu di warteg-warteg pengunjungnya lebih banyak orang Islamnya, dan tidak sedikit yang tidak berpuasa tanpa alasan syari, walaupun saya juga tidak sadar bahwa generalisasi seperti ini tidaklah baik. Semakin banyak warteg yg buka, semakin besar peluang orang muslim yg imannya goyah untuk bermaksiat dengan membatalkan puasanya. Muslim yang imannya goyah mungkin bukan Anda, tapi di luar sana banyak. Kalau dibilangin begini mungkin ada yg nyeletuk “ah itumah dianya aja yg imannya gak kuat.” Kan udah dibilangin di atas kalau masalah tersebut berbeda dengan masalah dakwah. Bagi saya menutup warung pada siang hari selama bulan ramadhan itu adalah salah satu bentuk dakwah. Kalau pemilik warung makannya itu adalah muslim, dia seyogianya menimbang-nimbang bahwa dari membuka warung makannya tersebut lebih banyak mana mudharat atau mashlahatnya. Menolong orang-orang yg tidak berpuasa atau non muslim dengan buka warung makan adalah baik, mashlahat, namun Allah swt akan murka sekali apabila ternyata kita lalai sehingga akhirnya masuk ke dalam kategori orang-orang yang tolong menolong dalam dosa.

Terus akan muncul pertanyaan “memangnya yang bisa membatalkan puasa itu hanya makan di warung makan saja? Kan orang bisa saja ke warung biasa atau mini market buat beli air atau roti buat ngebatalin puasa siang-siang”. Ya ini kan sedang ngomongin warung makan, nanti malah jadinya ke mana-mana pembahasannya. Kalau logika yg dipakai seperti itu, ya pasar juga seharusnya ditutup, atau pabrik air mineral juga harus ditutup selama siang hari di bulan ramadhan karena menjual dan memproduksi apa-apa yg membatalkan puasa. Kan tidak sesederhana itu ya. Harus dikaji lagi kalau untuk permasalahan ini.

Patut diingat bahwa makan di warung makan bagi kebanyakan orang adalah kebiasaan, tidak mesti menjadi keharusan. Tidak ada salahnya kita mengubah kebiasaan kita selama bulan ramadhan. Yang tadinya biasa makan siang di warteg, kan gak ada salahnya bulan ramadhan ga usah niat makan di warteg, namun bikin dan bawa bekal sendiri dari rumah. Walaupun lebih ribet kenapa tidak? Toh lebih sehat dan ekonomis.

Lalu muncul lagi pernyataan “menutup warung selama satu bulan kan merampas hak mencari penghasilan seseorang.” Ingatlah bahwa bulan ramadhan itu datang tidak sekonyong-konyong. Kita semua pasti tahu bahwa ramadhan itu tiap tahun akan datang. Sebagai pedagang muslim yang baik, sudah seharusnya kita mengantisipasi itu apabila kita tidak ingin kehilangan penghidupan selama satu bulan. Caranya bisa macam-macam: mulai dari menabung di 11 bulan sebelumnya, membuka usahanya menjelang berbuka hingga sahur, sampai membuka usaha lain. Tak sedikit loh saya melihat pengusaha makanan yg ganti barang dagangan selama bulan ramadhan atau yg mengubah jam operasional warung makannya. InsyaAllah lebih barokah deh. Toh rezeki dari Allah swt kan bukan hanya yg berbentuk uang/materi. Kita sehat, bisa membantu orang terhindar dari dosa, dapat beribadah selama bulan puasa juga merupakan rezeki yang patut disyukuri. Jangan sekali-sekali melihat rezeki itu dalan bentuk uang saja. Jangan sekali-sekali berdagang hanya karena materi. Carilah keridhaan Allah swt. Kalau Allah swt sudah ridha ke kita, apa kita yakin Allah swt akan tega menyengsarakan kita?

Untuk memahami tentang rezeki, tentang semua hal yg saya sebutkan di atas memang butuh ada yang kita pelajari. Kita harus belajar ilmu agama Islam yang mencakup aqidah, syariat dan akhlak, tidak cukup dipahami dengan akal semata. Dan ini juga penting disadari oleh semua pihak termasuk pemerintah. Jadi, himbauan penutupan warung makan yg dilakukan oleh pemerintah itu menurut saya sah-sah saja dilakukan dengan landasan yg sudah saya sebutkan apalagi kalau memang ada Perda-nya (tentu saja setelah disosialisasikan). Namun, tidaklah cukup sampai di sana. Pemerintah juga harus mengedukasi para pedagang tentang persiapan ramadhan, biar nanti tidak ada alasan lagi bagi mereka untuk kehilangan penghidupannya selama bulan ramadhan. Ulama juga menurut saya harus berperan juga dalam mengedukasi nilai-nilai keIslaman kepada mereka karena saya khawatir mereka melakukan hal ini (membuka warung makan siang hari selama ramadhan) semata-mata karena keawaman mereka akan ilmu-ilmu agama. Eksekusi dari peraturan menutup warung makan itupun harus dilakukan dengan baik. Beri peringatan tertulis dulu sebelum ada penutupan agar semua bisa berjalan lebih lancar. Mengenai pemerintah tebang pilih dalam menutup rumah makan, seperti analogi yg saya sudah sebutkan di atas tentang shalat, ya tinggal diperbaiki saja penerapan peraturannya agar tidak tebang pilih. Saya kira itulah pendapat saya tentang penutupan warung selama bulan ramadhan dari sudut pandang beramar ma’ruf nahi munkar. Pandangan dari sudut pandang tasamuh (toleransi) (karena masyarakat kita heterogen)dan pemerintahan mungkin belum bisa saya berikan sekarang. Wallahu A’lam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s