Tentang Puasa

waktu-tepat-mengajari-anak-berpuasa

sumber gambar: hernotes.com

Kata pak Kyai, ibadah #puasa mengajarkan kita untuk taat kepada ketetapan yang sudah Allah swt buat; mengajarkan kita untuk beriman dan bertaqwa. Pada surah Al-Baqarah 183 disebutkan bahwa puasa ramadhan telah diwajibkan kepada orang beriman sebagaimana pendahulu kita agar kita bertaqwa. Iman dahulu, kemudian menuju taqwa. Kita percaya kepada Allah swt dan Rasul-Nya dan kita ikuti perintah dan jauhi larangannya. Mungkin ada yg pernah bertanya “emang kenapa sih harus puasa ramadhan?” Kalau katanya puasa itu biar kita ngerasain apa yg dirasakan orang miskin, untuk dapat merasakan bagaimana rasanya jadi orang miskin kenapa kita ga ikutan program Jika Aku Menjadi di Trans TV aja coba, atau Tukar Nasib di RCTI? Atau, katanya puasa itu biar sehat. Kalo biar sehat, ya kenapa harus ribet-ribet puasa? Olahraga juga bikin sehat kok. Atau tentang rukun puasa seperti puasa itu dimulai saat terbit fajar sampai terbenamnya matahari. Kalau rukunnya begitu, kita jalankan seperti itu saja. Jangan mentang-mentang misalnya “saya kan kuat, yaudahlah saya mah buka puasanya ga mau jam 6 sore pas maghrib, tapi jam 10 malem aja.” Maka dari itu untuk menjalankan ibadah puasa kita butuh beriman terlebih dahulu. Orang yang beriman yakin bahwa Allah swt tidak akan asal-asalan dalam menetapkan sesuatu. Sebagai sang Pencipta, Allah swt tahu mana yang terbaik untuk makhluknya. Maka dari itu jalankanlah perintah-Nya dan jauhilah larangan-Nya. Pasti ada hikmah dibalik perintah dan larangan yang sudah Dia tetapkan. Dengan menggunakan akal dan ilmu bisa saja kita meraba-raba apa hikmah di balik perintah #puasa ramadhan. Namun kalau sekiranya akal dan ilmu kita tidak sampai, kembalikan lagi saja ke iman. Toh seperti yg sudah dibilang sebelumnya, Allah swt pasti sudah mentukan mana yang terbaik bagi makhluknya.

Di samping itu, puasa adalah ibadah yang melatih kita untuk ikhlas. Ibadah puasa itu adalah ibadah yang sulit kita pamerkan, berbeda dengan ibadah lain. Kalau sedekah misalnya bisa kan kita pamerkan dengan menggulung uang 100ribu di depan orang lain terus dengan terang-terangan kita masukan ke kotak amal. Yang lain misalnya shalat, bisa saja kita sholat dengan gaya yang sangat khusu sekali kalau ada orang lain, sedangkan pas gak ada orang lain shalatnya kaya ayam lagi matuk makanan.

Kalau puasa sulit seseorang mau nyombonginnya; ciri-ciri orang berpuasa itu susah diliat. Si ini lemes, pasti lagi puasa. Si anu seger banget, pasti lagi ga puasa. Si anu mulutnya bau, pasti lagi puasa. Kan gak bisa begitu juga. Terlepas dari memang kita bisa ngumumin ke orang-orang bahwa kita lagi puasa atau ngasih kode2 di medsos “alhamdulillah sebentar lagi mau maghrib”, puasa itu mengajarkan kita untuk ikhlas bahwa ibadah yang sebenarnya hanya bisa diketahui oleh kita dan Allah swt semata. Ibadah puasa sulit dilihat dari aktivitas/ciri fisik dari orang yg menjalankannya. Puasa mengajarkan kita untuk menjauhi sifat riya dalam beribadah dan hanya mengharapkan penilaian dan keridhan Allah swt semata. Wakafa billahi syahida, cukuplah Allah swt yg menjadi saksi.

Puasa juga mengajarkan kepada kita untuk selalu merasa diawasi oleh Allah swt, sadar bahwasanya Allah swt maha melihat. Tidak ada hal sekecil apapun di muka bumi ini yang dapat luput dari penglihatan Allah swt. Bisa jadi kita ikut sahur bareng teman-teman kita. Namun, mengenai puasa kita sampai maghrib atau tidak, kalau kita sembunyikan, tidak akan ada yang tahu kecuali diri kita dan Allah swt. Orang yang berpuasa, bisa saja ketika sedang berwudhlu siang-siang dengan sengaja menelan airnya seteguk dua teguk. Dijamin tidak akan ada yang tahu, bahkan orang yg berwudhu di sebelahnya pun tidak akan tahu. Tapi kenapa kita tidak melakukan itu? Kita tidak melakukannya karena kita tahu bahwa Allah swt senantiasa mengawasi kita. Perasaan merasa selalu diawasi inilah yg penting untuk dipupuk. Apabila perasaan ini tidak hanya ada saat puasa saja, melainkan juga dalam menjalankan aktivitas kita sehari-hari, saya yakin tidak akan ada yg mau korupsi, karena sadar walaupun KPK tidak melihat, tapi Allah swt maha melihat apa yg kita perbuat, dan Allah swt adalah sehebat-hebatnya pemberi pembalasan. Dengan perasaan merasa selalu diawasi kita akan senantiasa melakukan segala sesuatu dengan jujur, dengan berhati-hati agar yg kita lakukan tidak melanggar apa yg telah Allah swt larang.

Masih banyak lagi hikmah dari puasa yang bisa kita gali. Puasa juga mengajarkan kita untuk senantiasa bersabar dan bersyukur. Puasa mengajarkan kita untuk disiplin. Puasa sebagai ibadah sosial juga mengajarkan kita untuk saling tolong menolong antar sesama (salah satunya dengan memperbanyak sedekah), dan lain-lain. Yang jelas, ibadah puasa ini adalah untuk kita, bukan untuk Allah swt. Allah swt tidak akan rugi kalau kita tidak puasa. Allah swt juga tidak akan sedikitpun berkurang keagungan-Nya meskipun tidak ada satupun orang di dunia ini yang berpuasa, yang beribadah kepada-Nya. Makhluk lah yang membutuhkan Khaliq, bukan sebaliknya. Gak percaya? Buktikan saja nanti pas kalian sudah meninggal. Allah swt telah berfirman bahwa setelah kematian manusia ingin dikembalikan lagi ke dunia agar bisa beramal shalih, agar bisa beribadah lagi. Tapi sayang, semuanya nanti akan sudah terlambat. Mari kita jadikan ibadah puasa ramadhan kita juga menjadi ajang untuk bermuhasabah diri. Ibadah kita, kita yang butuh. Semoga Allah swt ridha terhadap amalan shalih kita. Wallahu a’lam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s