Intuisi Saya dan Pak Jokowi

Dulu 4 tahun lalu pas mata kuliah Dasar-Dasar Filsafat, dosen saya waktu itu menjelaskan bahwa sumber kebenaran itu salah satunya adalah intuisi. Kebenaran intuisi itu asalnya sebenarnya tidak bisa dijelaskan, namun dia ada dan dipercaya. Intuisi itu secara kekamusan makna sederhananya adalah gerak hati. Contohnya katanya beliau dulu pernah ada agenda rapat. Beliau harus datang, tapi entah kenapa hatinya berat sekali untuk datang ke rapat tersebut karena ada hal yg saya sudah lupa. Pada akhirnya beliau memutuskan tidak berangkat ke rapat tersebut, dan memang tidak lama kemudian beliau dikabarkan bahwa rapatnya dibatalkan. Tidak hanya sekali katanya kejadian serupa seperti itu. Dan memang katanya kebenaran intuisi itu salah satu cirinya tidak terjadi hanya sekali. Kebenaran intuisi beda dengan kebetulan. Kata beliau, tidak semua orang punya intuisi yg bagus, intuisi itu harus diasah agar tajam atau dalam bahasa Jawanya disebut “olah roso”. Memang terdengar tidak masuk akal. Toh sebenarnya akal kan salah satu sumber kebenaran juga jadi pendekatannya juga berbeda.

Saya termasuk orang yang percaya dengan kebenaran intuisi, sebelum dan sesudah kuliah itu. Bahkan setelah kuliah tersebut saya menjadi tahu bahwa ternyata hal seperti itu ada, dan dengan sadarnya saya tersebut sayapun tidak jarang juga untuk melatih intuisi saya. Caranya bagaimanapun sebenarnya saya tidak yakin. Intuisi itu munculnya kadang-kadang, harus dilatih agar bisa dikeluarkan semau kita. Yang jelas, ketika rasa itu muncul harus segera disadari dan diambil sikap. Sayapun akhirnya tahu bahwa dosen saya itu ternyata pengikut tarekat tasawuf. Pantas saya beliau sepertinya paham betul dengan intuisi. Sepertinya beliau mengasah intuisinya itu melalui jalan tasawuf. Tasawuf itu kan sederhananya jalan mengenal dan mendekat kepada Allah swt. Konsep dasarnya itu setahu saya harus mengenal diri agar bisa mengenal Allah swt. Untuk mengenal diri sendiri dibutuhkan semacam kesadaran: kesadaran akan diri, sekitar, dan apapun itu. Kesadaran ini pulalah hal yg saya nilai sangat berharga.

Saya memang belum sampai jadi seorang yg menggeluti tasawuf, apalagi jadi ahlinya (sufi). Namun, saya pun suka juga mempelajari dasarnya. Saya rasa tasawuf itu kan harus didasari dengan ilmu aqidah dan tauhid yang bagus. Tasawuf itu hanya jalan (tarekat/thariqah). Saya memang tidak mempelajari itu secara intensif, tidak pula dibimbing oleh seorang guru/mursyid. Saya lebih banyak mempelajarinya dari buku dan dari ceramah-ceramahnya Aa Gym yg saya tonton di youtube. Menurut saya, dengan kita bisa tahu diri kita, dengan kita bisa menjadi sadar, dengan mempelajari akidah dan tauhid, itu dapat melatih intuisi kita. Di samping itu, saya juga sebenarnya suka memperhatikan orang lain. Saya suka memperhatikan sifat orang, gestur tubuh, simbol yg mereka pakai (baik sadar maupun tidak), cara mereka berbicara, dan juga pola-pola tertentu yang mereka buat. Memang bukan yang intense atau deep atau gimana, namun saya sering melakukannya. Saya anggap ini sebagai latihan, untuk mengasah intuisi (lagi). Selain itu, pengalaman hidup (mencakup interaksi sosial) juga tidak kalah penting bagi saya. Saya selalu mencoba mengambil pelajaran dari setiap hal yang menimpa saya. Proses mengalami sampai mengambil pelajaran inilah yang saya rasa bisa mengasah intuisi saya. Akhirnya menjadi semacam kontraris juga ya, bahwa intuisi yg sebenarnya adalah hal yg didapat bukan dari proses bernalar, akhirnya saya anggap dapat diasah (disokong) dengan proses yang membutuhkan penalaran. Namun, bisa saja saya salah. Toh saya menulis ini juga spontan saja.

Akhirnya setelah panjang lebar saya cuma mau bilang bahwa saya adalah orang yang percaya dengan apa yg disebut intuisi. Terkait dengan video dari channel youtubenya Kaesang, anaknya Jokowi, yg saya lampirkan ini, saya mau bilang bahwa saya punya intuisi kalau pak Jokowi itu orang baik. Orang baik ini bukan berarti tidak bisa berbuat buruk loh. Namun saya sekarang melihat sosok Jokowi ini adalah orang baik yg dikelilingi banyak orang tidak baik. Saya juga tadi ngeliat video pak Jokowi yg ngasih soal ke anak pesantren/madrasah yg anak itu disuruh nyebutin nama 3 menteri dan dia jawab: megawati, ahok, dan prabowo. Mendengar jawaban itu pak Jokowi pun ketawa cekikikan dan entah mengapa saya jadi pengen bilang bahwa pak Jokowi itu orang baik. Orang lain bisa saja bilang bahwa itu pencitraan, dan saya kemakan pencitraan beliau. Hal itu memang mungkin terjadi, tapi sebelumnya saya jg sebenarnya sudah sedikit belajar tentang pencitraan dan dalam konteks ini sangat dimungkinkan bahwa itu betul pencitraan. Namun, ketika suatu hal sudah ditarik ke ranah abu-abu seperti ini, saya akan mengikuti intuisi saya. Saya tidak akan bisa menjelaskan kenapa itu bukan pencitraan, juga saya tidak juga bisa menjelaskan bahwa itu adalah pencitraan. Ikut intuisi itu lebih menenangkan jiwa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s