Sukamiskin: Lapas Kesukaan “Orang Kaya”

Teman-teman mungkin akan sangsi apabila saya bilang bahwa foto-foto saung tersebut itu adalah foto kondisi salah satu bagian dari lapas Sukamiskin di Bandung. Saya juga begitu, pertama kali melihatnya, saya sempat tidak percaya dengan apa yg saya lihat.

Ceritanya minggu lalu saya ikut dengan teman-teman saya bersilaturahmi dengan mas Annas Urbaningrum di Lapas Sukamiskin, Bandung. Pertama dateng di depan lapas saya juga kagum, mobil di parkirannya bagus-bagus. Alphard aja ada 4, belum yg lainnya. Mobil-mobilnya pasti punya orang yg lagi besuk sanak keluarganya yg lagi jadi warga binaan LP. Sayapun kepikiran “apa yang terjadi ya apabila saya punya rumah terus ketitipin nginep orang-orang kaya raya?

Di pintu masuk Lapas, saya dan teman-teman merasa aneh karena melihat prasasti yang menyebutkan bahwa Lapas Sukamiskin adalah Lapas Pariwisata. Apa coba maksudnya Lapas Pariwisata? Setelah googling, ternyata katanya lapas Sukamiskin ini dulu pernah dihuni Soekarno. Jadi, selnya Soekarno itu boleh dikunjungi sebagai objek wisata sejarah makanya disebut lapas pariwisata.

Dari pintu masuk, lapas terlihat sangar. Pintunya besi solid yang menjulang tinggi sekitar 3 meter. Kamipun masuk dan harus menitipkan KTP dan handphone kami kepada bapak sipir. Setelahnya, kami diperbolehkan masuk ke dalam komplek lapas. Kesan pertama saya ketika di dalam adalah ternyata bagian dalam lapas/luar bangunan sel tidak semenyeramkan tampilan lapas di luar. Hal pertama yang saya lihat adalah taman dan kolam ikan yang sangat terawat dan itu estetis.

Kamipun diminta mengikuti petugas menuju tempatnya mas Annas. Sambil jalan sayapun melihat kiri kanan. Kelihatan sekali ini bangunan buatan Belanda. Di debelah kanan ada semacam ruang kesehatan. Lurus ke depan sedikit terlihat ada masjid dan kalau kita melihat ke kiri lapangan hijau terpagar yang cukup besar terlihat kaya di lapangan penjara di film-film gitu. Suasana dan pemandangannya membuat saya merasa seperti lagi di dunia lain, dan ini juga diiyakan beberapa teman.

Ke kiri katanya, ke arah lapangan. Kami pun masuk ke dalam pagarnya. Saya seakan tak percaya dengan apa yang saya lihat. Di sana terjejer saung-saung yang jumlahnya mungkin puluhan. Saungnya menurut saya bagus, seperti yang ada di rumah-rumah makan. Di saungnya ada mejanya. Kursinya ada yang dari kayu, ada juga yang memanjang dengan alas empuk di permukaan juga di sandarannya. Tidak lupa yang paling penting ada colokan listriknya.

Di tengah saung – saung tersebut ada taman yang terurus dan enak dipandang dan kolam ikan. Tidak lupa juga di sana ada warung kecil yang menjual makanan ringan atau kalau mau makanan bisa pesan katanya (ada tulisannya). Di sana juga ada saung yang panjang sekali, sepertinya biasa digunakan untuk acara lapas. Di salah satu saung saya melihat ada anak kecil dan ibunya yang sedang asik memainkan gawainya. Di saung seberang ada yang asik ngobrol. Tidak ada yang pakai seragam, semua pakai baju yang menak. Makinlah saya merasa ini bukan di lapas, tapi seperti di tempat wisata di mana biasanya banyak keluarga berkumpul.

Saung Mas Annas kalau tidak salah yang ke lima dari pintu gerbang. Sama mas Annas kita cuma ngobrol-ngobrol biasa aja sekitar 40 menitan. Di saung-saung sebelahnya saya melihat para tahanan yang sedang dibesuk oleh kerabarnya. Yang pertama saya lihat ada Ade Irawan, mantan Bupati Sumedang. Di saung yang lain juga ada Patrice Rio Capella, mantan petinggi Nasdem. Ada juga saya lihat Luthfi Hasan Ishaaq, mantan presiden PKS. Tidak ketinggalan saya juga melihat Gatot Pujo Nugroho, mantan gubernur Sumut yang juga politikus PKS. Yang lain mukanya familiar tapi saya tidak ingat namanya. Namanya juga napi koruptor; pasti sering masuk tipi dulunya.

Lapas Sukamiskin memang lapas kelas 1A. Yang mengisinya kebanyakan terpidana kasus korupsi dan narkoba, bukan pidana umum. Kalau begitu, adakah hubungan antara saung-saung ini dengan penghuni lapas? Salah seorang teman saya bertanya ke orang yang ada di sana “ini saung siapa saja?”. Dia mendapat jawaban katanya saung-saung tersebut adalah saung pribadi, tiap saung ada pemiliknya (si penghuni lapas).

Saya sempat bingung dengan maksud dari “saung  pribadi”. Masa iya bisa ada kepemilikan pribadi di tanah pemerintah, atau apabila saung ini biaya pembangunannya dari sang penghuni lapas apakah itu diperbolehkan? Apakah saung tersebut disewakan? Namun, apakah itu boleh? Apabila saung-saung tersebut adalah tempat besuk yang bisa digunakan oleh seluruh penghuni rutan, apakah masuk akal? Penghuni rutan yang saya tahu ada 400 lebih, apakah mungkin saung yang hanya puluhan itu dapat memfasilitasi kemauan dari 400an napi tersebut? Siapa coba yang tidak ingin dijenguk oleh keluarganya di tempat enak begitu? Berarti kan harus ada persyaratan khusus untuk bisa menggunakan fasilitas tersebut. Sepertinya para pesohor yang saya sebutkan namanya di atas cukup beruntung untuk dapat memenuhi persyaratan tersebut.

Bagi saya, fasilitas saung tersebut agaknya berlebihan untuk diberikan kepada penghuni rutan. Kalau untuk taman sih tidak mengapa lah, toh hanya masalah estetika saja. Namun, kalau ruangan pengunjung/besuk kan sudah ada, ngapain buat yang baru dan piributeun sekaligus piomongeun? Penjara seharusnya bisa bikin orang kapok karena tidak enak. Memang sih kalau ditanya dipenjara itu enak atau tidak, pasti jawabannya adalah tidak karena kebebasan kita diambil. Namun, bukan berarti penjara harus difasilitasi berlebihan agar rasa tidak enak itu bisa ditekan seminimal mungkin kan?

Saya tidak tahu apakah di sini saya yang sudah termakan image penjara yang harus seram yang ditayangkan di film-film? Namun, di sini bagi saya penjara/rutan/lapas harus menjadi tempat yang bikin orang kapok sehingga setelah itu dapat dibina agar tidak kembali lagi. Fasilitasnya pun yang standar kemanusiaan saja, jangan dilebih-lebihkan. “Standar” ini lah yang memang bisa jadi perdebatan; relativitasnya dijadikan celah untuk membuat pembenaran tiada ujungnya. Itu tadi baru masalah saung saja, belum masalah kamar tahanannya (bisa teman-teman lihat di acara Mata Najwa ekslusif sidak WamenKumHam ke Sukamiskin tahun 2013). Apa kalau begitu baiknya penjahat dikasih hukuman qisash saja ya? Potong jari, potong tangan, potong kaki, atau potong leher? Ah di sini mah potingnya potong masa tahanan. Terakhir, saya mau mengutip perkataan Mbak Najwa Shihab: “Wajah penjara cermin hukum negara, sungguh-sungguh atau pura-pura? Penjara semestinya nestapa dunia, bukan sebisanya menjadi surga. Buat apa memberantas korupsi, jika bui sejati hanya untuk kelas teri.”

Balada koruptor di bumi pertiwi.

Jatinangor, 30 April 2016

Ridwan

Video Mata Najwa edisi Sidak Sukamiskin:

foto diambil dari google.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s