Mencari Musuh Bersama

hmi-4

Kemarin kebetulan saya jadi moderator di sesi materi LK 2. Pematerinya pak Iman Soleh. Tema materinya tentang tipologi ideologi. Yang menjadi menarik, pematerinya bilang bahwa sebenarnya tidak ada yg perlu ditakuti dari ideologi komunisme, karena komunisme itu adalah ideologi yang sekarang sudah tidak laku. Jadi, katanya tidak perlu ada ketakutan yg berlebihan terhadapnya. Komunisme juga agaknya mustahil untuk diterapkan di Indonesia selama kultur masyarakat kita masih seperti ini dan selama muslim masih menjadi mayoritas. Dari sana saya jadi punya pikiran, “Ngapain kok udah gak laku masih aja ada yg coba promosi ya? Apa tidak buang-buang waktu? Apalagi apabila ya promosinya itu ada anak HmI-nya, yang notabene adalah misionaris dari ideologi (mabda) Islam. Kacau.”

Setelah itu beliau menjelaskan tesisnya Huttington tentang benturan antar peradaban. Setelah Uni Soviet Runtuh, yg menandakan keruntuhan Komunisme/Sosialisme, maka barat/AS dengan ideologi Liberalisme/Kapitalisme-nya pun harus mencari musuh baru. Musuh baru itu harus dicari agar tidak terjadi ketimpangan, agar tercipta keseimbangan. Nah, menurut Huttington, yang sepadan untuk dijadikan musuh baru itu adalah Islam. Islam dinilai sebagai kekuatan potensial karena memiliki golongan-golongan yang radikal, yang banyaknya muncul diawali dari isu pembebasan Palestina pada era 1970an. Konspirasi Barat yang paling jahat terhadap Islam dapat kita lihat pada kejadian WTC 9/11 2001, atau kalau yang sekarang-sekarang itu ada ISIS / IS.

Yang menurut saya menarik adalah ternyata musuh itu sengaja mereka ciptakan untuk menciptakan keseimbangan. Selain itu, Adian Husaini juga pernah bilang (berbicara dalam konteks yang sama tentang tesisnya Huttington) bahwa musuh itu diciptakan agar ada persaingan. Ketika ada persaingan, negara tersebut akan berkembang karena tidak berkembang bukanlah pilihan. Tidak berkembang berarti kekalahan. Jadi, membuat musuh baru itu seharusnya penting.

Agaknya ini menjadi relevan dengan perbincangan saya dengan Ayahanda Sakib Machmud di perjalanan mengantarkan beliau ke rumahnya selepas mengisi materi tentang NDP. Beliai adalah salah seorang perumus NDP HmI di samping Cak Nur dan Endang Saifuddin Anshari. Saya bertanya kepada beliau “Ayah, apakah PKI itu jahat?” Beliau menjawab “Iya. Saya melihat dan mendengarnya sendiri bagaimana dulu di kampung saya PKI ingin membunuhi kerabat saya. Saya juga menjadi saksi bagaimana kiayi-kiayi di desa itu ingin mereka bunuh, mereka menjuluki kiayi-kiayi itu dengan setan-setan kampung.” Sayapun kembali bertanya “bagaimana tentang pembunuhan?” Pembunuhan memang bukan hal yg diinginkan, tapi pada saat itu kondisinya adalah kalau tidak membunuh, ya terbunuh. Kebetulan PKI yang kalah, jadi PKI yang lebih banyak terbunuh.” Saya juga menanyakan “bagaimana pendapat Ayah tentang wacana negara harus meminta maaf terhadap PKI?” Beliau menjawab bahwa “kalau negara meminta maaf, saya yakin tentara/kostrad akan sangat keberatan”.

Belum selesai, saya tanya beliau “menurut Ayah, kapan masa di mana HmI itu berada dalam puncak kejayaannya?” Beliau menjawab “tergantung yang dimaksud kejayaan itu yang seperti apa. Tapi, HmI itu sangat solid dan kuat ketika dulu kita melawan PKI. Waktu PKI menghembuskan wacana HmI harus dibubarkan, kita ramai-ramai melawan. Waktu itu, orang-orang banyak yang bergabung ke HmI untuk melawan PKI juga. “Jadi malah ketika ada musuh bersama kita jadi kuat ya, Yah?” tambah saya. “Betul. Karena kalau tidak ada musuh dari luar, musuh utama kita adalah diri kita sendiri.” Jawab beliau.

Hari itu saya mendapat pelajaran mengenai bukan pentingnya kita mencari musuh, tapi tepatnya mengenai pentingnya kita tetap menjaga diri ini untuk selalu berada dalam kompetisi, tentunya dalam sense yang positif. Persaingan menggerakan diri kita untuk selalu berkembang. Walaupun adanya musuh bersama itu bisa jadi bonus buat kita, tapi janganlah coba-coba sengaja mencari musuh. Namun, kalau musuh datang, jangan ragu untuk kita hadapi. Ngomong-ngomong saya sebenarnya bukan orang yang suka berkompetisi dengan orang lain. Paling banter saya kompetisinya maen Pro Evolution Soccer, biasanya tiap malam sabtu/minggu di masjid Unpad. Sisanya saya mencoba untuk menjadi orang yang kalau dalam bahasa ilmu etika sih “otonom” dalam menentukan saya mau ngapain. Tentang Komunisme dan PKI, sebenernya saya tidak terlalu tertarik dengan ke dua wacana tersebut. Tulisan ini sebenernya mau nyepet si Fadel. Itu aja sih wkwkwk

Nb: walapun begitu pasti ada yang tidak setuju dengan tulisan saya, terutama apa yang saya tulis ulang tentang PKI. Teman-teman juga pasti punya bacaan lain tentang hal tersebut. Untuk hal ini, silakan saja teman-teman yakini apa yang teman-teman yakini, dan sayapun meyakini apa yg saya yakini.

24 April 2016

Ridwan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s