Tentang Tagar #Prayfor [Lagi]

.

jasmine1

sumber gambar: OA Line Teh Jasmine

“If only Ankara were Paris”. Saya sudah sering melihat   postingan yang kaya gini, yang membanding-bandingkan bencana, tepatnya yang membanding-bandingkan perhatian yang diberikan terhadap bencana satu dan bencana yang lain. Menurut saya sih sah-sah saja ya orang berpikiran seperti itu. Tapi, apakah masuk akal?

Bagi saya, ada yang ambigu dengan tulisan-tulisan semacam ini. Mereka kan menuntut keadilan. Katanya semua harus adil, begitu juga perhatian dan pemberitaan terhadap semua bencana. Nah, yang saya bingung, sebenarnya yang mereka tuntut itu perhatian dan pemberitaan siapa dalam konteks ini? Apakah negara Barat yang kebanyakan sentimen kepada Islam, atau negara-negara mayoritas Muslim, atau bahkan keduanya?

Kalau bicara tentang kemasifan pemberitaan, jelas Paris lebih masif. Kenapa? Karena Paris itu kan kota yang siapa juga tau, ada di perancis, tujuan wisata top, dan salah satu kota atau negara yang bisa dibilang terkenal aman dari serangan begitu-begituan.  Udahmah seperti itu, Perancis kan banyak temennya. Maksud saya, Perancis itu adalah negara barat yang temen-temennya pasti orang barat juga, jarang berantem sama orang barat, dan media orang barat itu yang paling tokcer. Jadi, ketika tahun lalu ada serangan ISIS di Paris, wajarlah pemberitaan rame di mana-mana karena emang dia punya temen-temen yang macam begono.

Bagaimana dengan Ankara? Ankara juga sebenarnya cukup terkenal, walau tidak se-terkenal Paris. Turki juga dikenal sebagai negara dengan penduduk mayoritas Muslim. Mungkin berteman dengan Barat, tapi tidak seakrab Perancis pastinya. Kalau begitu, apakah media-media kepunyaan Barat akan berpihak pada mereka? Sepertinya enggak juga. Liat aja pemberitaannya sekarang biasa-biasa aja tuh.

Jadi, masalah kemasifan pemberitaan juga kan ga bisa terlepas dari keberpihakan media. Post-post seperti itu bagi saya absurd, karena seolah-olah menuntut media-media yang jelas-jelas sentimen terhadap yang berbau Islam untuk peduli terhadap pemberitaan di negara dengan mayoritas muslim. Juga absurd karena menutut negara-negara barat yg jelas-jelas gak akrab banget sama kita buat peduli lebih sama kita seperti halnya yang mereka lakukan ke Paris. Akui saja lah negara-negara mayoritas muslim itu bukan fokus dari mereka. Meminta perhatian dari mereka jelas sah-sah saja, tapi kalo ga dapet ya menurut saya wajar aja.

Kalo perhatian yang dituntut adalah dari negara-negara sesama Muslim, ya tentu saja juga boleh. Namun, masalahnya kita kan ga punya jaringan media sekuat mereka. Bahkan, terkadang pun berita yg kita dapat seringnya berasal dari mereka. Karena ngikut mereka, jadi kalau mereka gak rame juga ya kita ikutan gak rame. Kalau sudah begini, salah mereka atau kitanya saja yang kurang digdaya?

Masalah bencana kemanusiaan kita semua pasti mengutuknya. Tidak ada yang suka negaranya kena bom. Tidak ada yang suka negaranya diberitakan media sedang terkena serangan teroris yang menewaskan warganya. Kalau mengenai pemberitaan yang kurang masif atau apalah itu sudah sedikitnya saya jelaskan di atas, walaupun ada banyak faktor lain yang menjadi landasan sebuah media mempertimbangkan suatu kejadian untuk dijadikan headline terus atau tidak, bahkan tidak melulu berlandasan asas jurnalistik, tapi juga ada yg berlandaskan uang dan juga suara si penguasa media.

Mengkritik ketidakadilan perhatian dan ketimpangan pemberitaan boleh-boleh saja asal bukan dilandasi dengan emosi, tapi dengan pengetahuan yang mumpuni dan pandangan yg menyeluruh. Orang tidak mengganti profile picturenya dengan bendera turki atau tidak memasifkan tagar #prayforturkey bukan berarti mereka tidak peduli dan mendukung kebiadaban. Bisa saja mereka hanya tidak tahu, yang tahupun mungkin itu bukan menjadi prioritasnya.

Seperti contohnya dunia tidak ramai dengan hashtag #prayforbandung yang pada waktu yg sama sedang tertimpa musibah banjir. Jangankan dunia, temen-temen saya yang orang Bandung aja gak bikin gitu-gituan. Namun, bukan berarti mereka tidak peduli kan? Atau, kalau teman-teman tahu, pada 16 maret juga di Pantai Gading ada serangan senjata api yang dilakukan kelompok teroris membunuh 16 orang turis di sebuah pantai. Gak lihat tuh saya ada orang ganti PPnya jadi bendera Pantai Gading, atau buat hashtag #prayforivorycoast. Apakah dengan tidak melakukan hal tersebut teman-teman mau disebut tidak adil karena hanya peduli terhadap Ankara atau Paris saja? Kan gak mau ya?

Jadi, intinya kita doakan saja semoga tidak ada lagi orang yang membuat hashtag #prayforblablabla, atau tidak ada lagi pemberitaan tentang serangan teror karena sudah tidak ada lagi kejahatan di muka bumi ini walaupun gak mungkin juga sih itu terjadi karena kejahatan akan selalu ada apalagi di zaman yang neraka sedang promo besar-besaran. Meski begitu, minimalnya semoga kita tidak ikut-ikutan jadi jahat, tidak ikut-ikutan jadi tidak waras atau tidak meunjukkan gejala-gejala ketidakwarasan. Kita kutuk keburukan. Kita doakan pelaku kejahatan agar segera bertaubat dan korban dari mereka mendapat tempat yang layak di sisi-Nya. Semoga kebaikan selalu menjadi pemenang.

21-03-2016

Ridwan

 

Untuk Kawanku Para Perokok

Katanya, mendingan merokok saja karena merokok tidak merokok juga bakal mati. Hmm, kalau begitu, mendingan kita makan obat nyamuk aja dong karena makan atau tidak makan obat nyamuk juga pasti bakal mati. Mendingan kita minum air saja, karena minum ataupun tidak minum juga bakal mati. Mati adalah niscaya, mau rokok akhirnya diciptakan atau tidak juga yang bernyawa akan mengalami maut. Kayanya lucu aja kalau memakai analogi seperti itu. Ya memang sih biasanya mereka juga ngakunya itu bercanda.

Jujur aja, rokok adalah produk yang jujur. Bahayanya sudah ditulis oleh sang produsen di kemasannya. Makanya kalau kata Aa Gym juga sebenarnya nasib perokok itu sudah bisa terlihat di bungkus rokok. Tapi, entah mengapa produk yang satu itu tetap saja laris manis. Merokok itu kaya dosa: efek fatalnya jarang terlihat / terasa langsung. Yang ada, rasanya malah nikmat. Coba kalo yg dikatakan KH. Zainuddin MZ dalam ceramah-ceramahnya benar terjadi. Andai saja tiap melalukan 1 dosa kepala kita langsung benjol, pasti kepala kita udah gak karu-karuan; andai saja setiap orang yg merokok sebats langsung dapet serangan jantung pasti tidak banyak orang yg mau nekat merokok. Memang betul, melawan sesuatu yg tidak terlihat itu lebih berat ketimbang melawan sesuatu yang jelas terlihat.

Saya menghormati orang yang merokok. Tidak harus setuju dengan rokok untuk dapat menghormati. Merokok adalah kegemaran mereka, saya hormati itu. Biasanya, perokok tersebut gemar berterima kasih dengan membagi asap rokoknya dengan saya. Namun, saya seringnya keberatan karena saya tidak suka dengan asap rokok. Silakan nikmati saja asapnya sendiri, jangan dibagi-bagi ke saya. Seperti halnya orang yang ngupil. Silakan saja kalian enak-enakan mengupil, tapi upilnya simpan sendiri saja tidak usah dibagi ke saya karena saya tidak suka upil, saya masih normal. Saya sukanya sama perempuan.

Tidak usah merokok. Meski begitu, kalau tetap ingin merokok, merokoklah pada tempatnya, buang puntung rokoknya ke tempat sampah, atau kalau tidak ada tempat sampah ditelan saja lah. Perhatikan juga sekeliling kalian. Survey yang saya kira-kira sendiri menunjukkan bahwa 90% orang yang tidak merokok itu terganggu oleh asap rokok, sisa 10% nya berbohong kalau dia tidak terganggu oleh asap rokok. Ga usah pake ditanya segala “gapapa nih gue ngerokok?”. Sadar diri aja. Ketika dia bilang “gapapa kok santai aja” sebenarnya dalam lubuk hatinya yang terdalam dia lebih nyaman apabila tidak ada asap rokok sama sekali. Yuk saling memberikan kenyamanan, atau sekalian saja berhenti merokok. Tidakkah teman-teman ingin mati dengan tubuh yang setidaknya lebih sehat?

dengan penuh cinta dan setengah sebel,

temanmu

Sumber gambar: OA LINE@ faktual