Jangan Mudah Like and Share

 

Kalau dilihat dari teori propaganda, post yang begini itu termasuk bentuk propaganda hitam, di mana sumber informasinya tidak kredibel, dan isi dari beritanya palsu dan menyesatkan. Propaganda sendiri adalah usaha secara sengaja dan sistematis untuk mempengaruhi pemikiran orang lain dan juga membuat orang lain melakukan/tidak melakukan tindakan tertentu.

Kalau post ini dianalisis, jadinya seperti ini:

Secara linguistik dan tekstual, bentuk kalimat yang pertama (pembuka) digunakan adalah deskriptif yang memiliki fungsi tuturan representative, yaitu claiming bahwa converse sedang bagi-bagi kupon. Kalimat selanjutnya berbentuk imperatif, dan fungsi tuturannya adalah directive, yaitu menginginkan si pembaca melakukan sesuatu yakni men-share post tersebut. Kalimat-kalimat ke dua, ke tiga, dan ke empat ini bentuk dan fungsinya sejalan, tegas tanpa tedeng aling-aling. Kalimat terakhir bentuknya desktiptif dan fungsi ujarannya commisive, yaitu propagandis menjanjikan akan ada koin yang akan dikirim.

Dalam post ini, setidaknya ada tiga teknik propaganda yang digunakan. Yang pertama adalah teknik Assertion. Si propagandis mengklaim dia adalah Converse Indonesia dan secara tegas menyampaikan apa yang dia klaim benar, yaitu converse sedang membagikan kupon belanja. Kalimatnya hanya begitu adanya, tegas namun tidak mendetail. Sang propagandis tidak menjelaskan detail dari peristiwa yang dia bilang seperti misalnya “dalam rangka apa kok converse bagi-bagi kupon belanja?, atau “kapan rentang waktu pembagian kupon tersebut? Kan tidak mungkin converse bagi-bagi kupon setiap hari seumur brand itu ada.”

Teknik propaganda selanjutnya yang saya temukan adalah teknik Testimonials. Jadi, sang propagandis menggunakan testimoni seseorang untuk mendukung isi pesan yang dia bagikan. Lihat saja di kolom komentar. Sang propagandis menggunakan akun line mereka atau teman mereka untuk berkomentar dan mengafirmasi bahwa apa yang menjadi isi pesan post tersebut adalah benar. Sebenarnya teknik propaganda testimonials ini akan lebih efektif apabila yang memberikan testimonial/kesaksian adalah orang-orang yang memiliki pengaruh. Namun, hal tersebut diakali oleh si propagandis dengan menghadirkan banyak komentar/testimonials dari akun line lain. Ada sekitar 55 komentar yang merupakan testimonial yang mengafirmasi pesan dari post tersebut. Hal tersebut merupakan ciri dari teknik propaganda yang ke tiga yaitu Bandwagon.

Teknik propaganda bandwagon mengeksploitasi kecenderungan manusia untuk menjadi bagian dari “semua” orang. Komentar testimonial yang banyak ini menyiratkan pesan bahwa sudah banyak juga yang mengikuti instruksi pada isi pesan post tersebut dan mengafirmasi isi pesannya sehingga efek / respon yang diharapkan oleh si propagandis adalah sang target berpikir “wah orang lain udah berhasil dapetin kupon belanjanya, saya juga mah dong” dan bertindak “sekarang giliran saya yg dapat kuponnya.”

Perpaduan dari tiga teknik popaganda dalam post ini terbukti ampuh untuk mempengaruhi sangat banyak pengguna line. Terhitung sampai tulisan ini dibuat, post tersebut sudah dishare sebanyak 312.600 kali dan dilike oleh 1.706 akun dan akan terus bertambah. Saya tidak yakin si propagandis sadar secara teoritis, karena post model seperti ini sudah sering beredar di line (biasanya juga berbentuk iklan pemutih,peninggi, bisnis mlm, jual aplikasi, dll), dan post penipuan seperti ini juga sebenarnya sederhana saja. Intinya, kalo dibahas make teori propaganda ya jadinya seolah-olah “wah” begini. Sebenarnya, tanpa dianalisis make teori propaganda pun, kepalsuan post ini sudah bisa dilihat secara tekstual.

Orang-orang yang memiliki insting linguistik yang baik tidak akan mudah tertipu oleh post semacam ini. Secara tekstual pun mereka sudah akan bisa melihat kejanggalannya. Kejanggalan-kejanggalan tersebut dapat dilihat dari tidak adanya greeting/pesan pembuka dan penutup, penggunaan tanda baca dan huruf kapital yang salah, penggunaan singkatan (pc), kesalahan penulisan (typo). Kesalahan-kesalahan seperti ini tentu saja kemungkinannya sangat kecil apabila dilakukan oleh perusahaan sebesar Converse Indonesia. Converse saya rasa punya cukup uang lah untuk membayar seorang copy writer yang bagus. Juga, apabila kita jeli, bisa kita lihat bahwa bahasa orang-orang yang berkomentar pada post tersebut cenderung menggunakan sense bahasa yang serupa, yaitu menggunakan bahasa Sunda dan menyebutkan daerah-daerah di kota Bandung saja. Janggal bukan? Intinya sih, jangan mudah tertipu dengan iming-iming ini itu. Jadilah orang yang lebih teliti. Kalo udah ketipu, terus terlanjur nge-share postnya di grup-grup atau timeline kan jadinya malu sendiri. Iyasih namanya juga usaha, tapi cik atuhlah bro-sist ini udah 2016, masa masih percaya sama usaha yang begitu 􀜁􀄧Troll Face􏿿.

Muhamad Ridwan, 10 Februari 2016.

Referensi:
Cutting, Joan. 2002. Pragmatics and Discourse: A Resource book for students. USA: Routledge.

Jowett, Garth S, dan O’Donnell Victoria. 2012. Propaganda and Persuasion – 5th edition. USA: Sage Publications, Inc.

Kridalaksana, Harimurti. 2011. Kamus Linguistik Edisi Keempat. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Shabo, Magedah E. 2008. Techniques of Propaganda. Prestwick House.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s