Tentang Tagar #Prayfor

1447950040963

Sumber Gambar: squareface.com

Tulisan ini adalah respon saya atas orang-orang yang membanding-bandingkan tagar #prayfor yang ada

Kalau SETIAP kasus kejahatan orang harus buat hashtag #prayforblabla berarti kita juga harus bikin hashtag buat seorang Ibu dan Anak yang minggu lalu dibunuh di Cakung dong? Atau bikin juga buat anggota Kostrad yang dibunuh di Riau? Kalau engga bikin hashtag terus kita munafik karena Paris aja dibikinin hashtag #prayforparis kok mereka engga? Kok media massa lebih banyak ngeberitain tentang tragedi Paris sih ketimbang berita anggota Kostrad yang dibunuh di Riau? Padahal kan pembunuhan satu atau banyak manusia itu sama-sama saja dengan membunuh seluruh umat manusia? Jadi harusnya media memberitakan tiap kasus pembunuhan dengan aprosi yang sama dong biar adil? Begitu kah logikanya?

Kita yang lebih “ribut” dengan masalah kemanusiaan yang satu ketimbang yang lain bagi saya adalah hal yang wajar dan memang adalah keterbatasan kita sebagai manusia. Saya tidak akan menyalahkan teman saya yang suka ribut tentang masalah kemanusiaan di timur tengah dan dia tidak komentar apa-apa ketika ada pembunuhan seorang siswi SMP Behil. Mungkin saja mereka belum tahu kasus itu, dan ketika mereka tahu dan memilih untuk tidak berkomentarpun mungkin memang karena itu bukan preferensi atau subject of interest dari mereka. Namun, yang saya yakini adalah pasti apabila mereka mengetahui tragedi tersebut, mereka akan mengecam itu, meskipun tak semuanya mereka ungkapkan ke publik. Begitupun media. Tapi, ngomongin media massa mah bida lebih rumit lagi karena ada banyak latar belakang dari mengapa media massa memilih memberitakan atau tidak memberitakan sebuah peristiwa seperti kepentingan / ideologi apa yang dibawa, rating, profit, image, dan lain sebagainya. Kita semestinya harus sadar itu. Media massa juga sama seperti kita, memiliki preferensinya sendiri. Akhirnya kita sendiri yang memutuskan media massa mana yang kita nilai masih kredibel yang akan kita ikuti beritanya.

Berhentilah berbuat sinis dan membanding-bandingkan tragedi kemanusiaan satu dengan lainnya. Tiap tragedi punya latar belakang dan akar permasalahannya sendiri-sendiri. Tidak peduli di manapun, kapanpun dan terhadap siapapun, pembunuhan terhadap manusia yang tidak bersalah adalah perbuatan keji yang harus kita kecam. Tugas kita adalah menyebarkan kedamaian agar tragedi seperti yang sudah-sudah dapat berkurang karena pada hakikatnya tragedi seperti ini akan terus ada. Kalau sudah tidak ada, berarti kiamat sudah akan dekat. Mau? Hehehe

Advertisements

Mergokin Intel di Kampus?

Saya mau cerita. Minggu lalu saya ke kampus saya nonton acara namanya H2S gitu. Acaranya malem dan karena ternyata acaranya musik semua yang notabene bukan kesukaan saya, saya lebih milih buat ngobrol sama teman2 di sana. Sayapun pergi ke warung Atep buat jajan sambil ngobrol. Sayapun akhirnya berhasil jajan dan ngobrol di sana.

Setelahnya, saya kembali lagi ke blue stage, tempat acara utama. Saya lihat ternyata yang lagi manggung band Deugalih, tapi ga lihat Pak Ono main suling. Ternyata beliau ga ikutan manggung karena lagi ke luar kota. Saya itu orangnya kalau di acara musik gitu ga bisa duduk diem, bawaannya pengen keluyuran terus. Alhasil, belum juga 3 lagu, saya udah ngeloyor lagi.

Saya yg lagi keluyuran pun ngeliat si Azmil dan kawan-kawan di bagian tengah paling atas bangku penonton. Azmil bilang “Men maneh mah ti baheula masih di BPM keneh mun aya acara kieu teu daek cicing.” Terus saya bilang ke dia “Mil, liat di sana ada intel!”

Iya. Kata saya “di sana ada intel” sambil diam-diam nunjuk bapa-bapa gemuk yang lagi berdiri di antara pohon di atas blue stage bagian paling kiri tepatnya di deket tangga ke gedung C. “Iya Mil si Bapa eta ceuk urang mah intel!” Kata saya. Azmil belum ngeh “Nu mana men?” “Itu yang tukang sampah!” Jawab saya.

Saya emang sudah dari lama curiga sama bapa-bapa tukang sampah yang satu itu. Gayanya emang kaya tukang sampah: make baju, topi kupluk, sama sepatu 􀤁􀄜boot􏿿. Tapi entah kenapa saya rasa ada yang janggal aja dari penampilan dia. Dia ga dekil dan ga ada potongan tukang sampah. Intuisi saya bilang kalo dia itu orang intelejen.

Azmil pun akhirnya “ngeh” juga dan ternyata dia inget sesuatu. “Oh iya urang inget. Pernah waktu itu anak-anak lagi pada *sensor* men. Terus si tukang sampah itu ngedeket dan abis itu anak-anak langsung pada kabur ketakutan haha”. Sayapun menambah analisis tentang tukang sampah terduga intel itu. “Tuh mil liat masa tukang sampah ga dekil gitu. Terusnya kok itu trashbag dia masih kosong. Harusnya kalau dia kerja dari pagi trashbagnya udh penuh dong, atau setidaknya mukanya dekil lah. Terus kalaupun dia kerjanya malem, ngapain coba tukang sampah kerjanya malem terus ke kampus bukannya nyari sampah malah ikutan nonton acara. Ini udah jam 11 malem cuy. Dia juga harusnya tau kalau sore atau malem itu sampah plastik pasti udah pada diambilin k3l atau yg lain secara kan bukan dia doang yg kerjanya nyari sampah plastik.

Sayapun bilang ke Azmil “Mil urang mau coba ke belakang dia ya, mau mantau.” Azmilpun mengiyakan. Sayapun jalan nyamperin dia dan berdiri sekitar 2 meter di belakang dia. Setelah kurang lebih 2 menitan dia kayanya sadar ada saya di belakangnya dan menurut saya serada salting gitu. Diapun kaya pura2 nyari sampah gitu, ngodok-ngodok kantong plastik di deket pohon belakang dia yg jelas-jelas kosong. Abis itu diapun pergi turun tangga. Kirain saya mau ke mana, eh taunya dia ke deket parabola dan ngelanjutin nontonnya di sana.

Sayapun terus mantau dia dari bangku biru. Sekitar 15 menit berselang dia beranjak dari duduknya dan berjalan ke tempat sampah deket saya duduk mantau dia. Anehnya, dia ga ngodok-ngodok tempat sampahnya. Dia cuma ngambil satu botol aqua di permukaan tempat sampah dan langsung pergi ke arah bawah. Dari sana saya tambah curiga “wah bener nih intel!” Setelah itu, si tukang sampah intel itu pergi ke wc gedung B yg deket mading dan saya ga liat dia lagi.

Setelah itu, saya ketemu temen saya si Gelar dan Lintang. Kita ngobrol di bangku biru sampe malem. Waktu itu udah jam 1 dini hari. Eh ternyata pas kita lagi ngobrolin NII ada si tukang sampah terduga intel lagi. Saya bilang ke si Gelar “Lar aya intel siah! Tah tukang sampah intel!” “Mana? Nu bener sia men!?” Kata gelar merespon saya. Akhirnya saya ceritain deh tuh cerita yg di atas ke dia dan abis itu Gelar inget sesuatu. “Oh enya men urang inget dulu urang pernah ngeliat dia magrib-magrib ke FIB naik ojeg anjir. Rek naon coba tukang sampah naek ojeg anjir.” Aneh juga ngapain coba tukang sampah jam 1 malem masih di kampus? Akhirnya kamipun makin yakin dia intel.  Ternyata sudah jam 1 lewat, tapi acaranya belum selesai meskipun kami udah ngantuk. Akhirnya kami pulang ke tempat masing-masing kecuali Lintang yang mau nginep di tempat gelar. Pas sampe kosan saya sih tidur. Ga tau deh kalau Gelar sama Lintang mereka ngapain 􀜁􀄤Tee Hee􏿿

Catatan:

1.untuk menghindari hal yg tidak diinginkan, anggap saja cerita ini boongan.
2. Intel BIN tidak mungkin seceroboh ini, jadi dia bukan intel BIN