Bahagia

42528712954ddebef15fe09-93531036

sumber: google images

Kata Aristoteles, tujuan akhir manusia adalah untuk mendapat kebahagiaan. Sarana/perantaranya macem-macem, ada yang berbentuk beres sidang skripsi, wisuda, dapet beasiswa, lolos ke PIMNAS, menang lomba, nikah, sukses jadi pengusaha, dan lain sebagainya. Menjadikan kebahagiaan sebagai tujuan akhir ya boleh-boleh saja. Kalau kita sudah berbahagia, lalu kita mau apa lagi? Lah, tapi di Islam kan diajarinnya tujuan manusia adalah untuk beribadah dan kepada Allah swt dan bertakwa?! Memangnya kita ga bahagia kalau kita bisa beribadah? Tentu saja bahagia kan? Tujuannya masuk surga! Apalagi itu, masuk surga pasti bahagia dong! Nah, Aristoteles juga bilang kalau kebahagiaan itu bukanlah tujuan yang egois, bukan tujuan untuk diri sendiri saja. Kebahagiaan, menurutnya harus kolektif, karena tidak ada yang bisa bahagia seorang diri. Sederhananya begini, kalau kita masuk surga, tapi sayangnya orang terkasih kita masuk neraka, apakah kita akan bahagia? Tentu saja tidak kan? Logika yang dipakai logika dunia ya, kalau logika surga sih ya orang di surga pasti bahagia. Intinya, kalau kita bahagia dan mau bahagia itu harus bagi-bagi, harus bareng-bareng, ga bisa sendiri sendiri aja. Contoh kecilnya misalnya teman-teman sedang berbahagia karena baru selesai sidang skripsi, wisuda, lolos pimnas, gajian, atau dapet beasiswa. Nah, bahagianya jangan buat sendiri aja, ya seminimal-minimalnya ajak temennya merasa bahagia dengan traktir temennya makan gitu 😀