Catatan Untuk Kegiatan Ospek di Unpad

ospekunpad

http://jabar.tribunnews.com/2015/07/11/masuk-unpad-bakal-dipelonco-senior-rektor-jamin-tidak-akan-terjadi

Ketika Rektor menjamin bahwa tidak akan ada perpeloncoan berarti beliau mempunyai semangat dan komitmen untuk mewujudkan visi unpad ngahiji, unpad ka hiji dan menganggap bahwa perpeloncoan tidaklah relevan untuk menjadi sarana mewujudkan visi tersebut. Rektor berarti percaya bahwa ada cara lain yang bisa dilakukan agar kita bersatu dan menjadi yang ke satu, dan yang jelas cara itu bukanlah perpeloncoan. Pada kesempatan rapat kerja masjid kampus Unpad, Rektor berkomitmen bahwa PMB Unpad harusnya Islami. Karena perpeloncoan tidaklah Islami, maka saya berkesimpulan bahwa perpeloncoan tidak boleh ada di PMB Universitas kita tercinta ini, dan ternyata akur dengan isi berita yang kamu bagikan itu.

Masalahnya, menurut pengalaman saya dari yang sudah-sudah, yang mempelonco itu merasa mereka tidak mempelonco. Dalihnya macam2. Ingin melatih mental lah, rasa disiplin, rasa saling menghormati, rasa kekeluargaan dan lain-lain. Ada yg melakukan perbuatan tersebut secara tertutup, ada juga yg terbuka. Namun, banyak pihak yang menganggapnya wajar, tidak mau ambil pusing. Asal yang tidak ada yang tersakiti dan/atau mati tidaklah masalah. Tentu saja kalau seperti tidak mencerminkan sebuah tindakan yang preventif, melainkan reaktif saja terhadap apa yang sudah (nantinya) terlanjur terjadi.

Ketika Rektor menjamin bahwa tidak akan ada perpeloncoan dalam PMB Unpad, maka hal tersebut (perpeloncoan) tidak akan hilang begitu saja dengan seketika. Perlu ada penerjemahan dari perkataan tersebut, yaitu dengan sebuah tindakan, sebuah kebijakan. Siapa yang harus mengeksekusinya? Tentu saja bawahan dan rekan kerja beliau. Kita semua. Saya tidak bermaksud untuk menggurui. Saya ingin mengingatkan kembali saja. Teman-teman sebagai petinggi organisasi pasti lebih paham daripada saya.

Ketika Rektor sudah berkata bahwa tidak akan tidak ada perpeloncoan dalam PMB di Unpad, itu bagi saya belumlah cukup karena masih sebatas perkataan saja. Bagi saya, komitmen tersebut harus juga dibuat dalam bentuk tulisan. Ada pepatah Latin yang berbunyi “Verba volant, scripta manent” yang artinya kurang lebih adalah “Kata-kata yang terucap akan lenyap tak berbekas, namun kata-kata yang dituliskan akan abadi.” Jadi, tidak ada salahnya kita menulis komitmen tersebut untuk kemudian dideklarasikan. Tentu saja bukan dalam arti kita tidak mempercayai beliau, melainkan untuk lebih menegaskan kembali komitmen tersebut, dan juga sebagai pembiasaan bagi kita semua untuk mulai menerapkan tidak hanya sekedar budaya lisan, melainkan budaya tulisan.

Deklarasi PMB Unpad Tanpa Perpeloncoan sebagai bentuk dari penerjemahan kita atas komitmen Rektor ini dapat juga kita gunakan sebagai branding tersendiri. Maksudnya, kita semua tahu bahwa masih banyak oknum Perguruan Tinggi baik Swasta maupun Negeri yang masih didapati melakukan perpeloncoan dalam prosesi Penerimaan Mahasiswa Baru/Ospek mereka. Nah, dengan deklarasi tersebut, Unpad dapat muncul sebagai Universitas yang berani secara tegas dan terbuka menolak praktek perpeloncoan tersebut. PMB Unpad menjadi PMB yang beda dengan PMB PTN lain dengan inovasi-inovasi yang dilakukan oleh panitia, dan yang terpenting tentu saja dengan tanpa adanya perpeloncoan. Sudahmah berinovasi, ditambah tanpa perpeloncoan. Wah, pasti akan harum sekali nama Unpad, juga akan menambah lagi kecintaan mahasiswanya terhadap almamater.

Selain diadakannya Deklarasi, bagi saya (seperti yang sudah saya ceritakan kepada beberapa kawan) penting juga bagi Rektor untuk membuat sebuah wadah/kepanitiaan kecil untuk memastikan bahwa PMB di Unpad bebas perpeloncoan. Memang sudah ada P2K2M di tiap-tiap fakultas, tapi saya rasa P2K2M pun pada satu dan beberapa kesempatan  akan sangat terbatas untuk melakukan pengawasan: seperti ketika PMB dilakukan malam hari, di luar kampus, atau berbentrokan dengan agenda ybs, atau ketika perpeloncoan biasanya terjadi tidak di depan mata para pejabat kampus, melainkan dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Maka dari itu, nanti P2K2M akan dibantu oleh panitia kecil ini. Dibantu dalam hal apa? Saya akan jelaskan di sini.

Rektor ingin bahwa PMB Unpad tanpa perpeloncoan. Kita semua pasti sepakat bahwa tindak kekerasan fisik dan psikologis masuk dalam kategori tindak perpeloncoan. Kekerasan fisik kiranya cukup jelas lah, dapat nampak dan terlihat ketika dilakukan visum. Nah, yang rada sulit ini adalah kekerasan psikologis. Kekerasan psikologis termasuk kepada perbuatan tidak menyenangkan, dan dulu merupakan tindak pidana sebagai termaktub dalam pasal 335 KUHP. Deliknya adalah delik aduan, jadi sifatnya subjektif. Ketika saya didandani seperti badut dan dibentak-bentak dalam sebuah lingkungan akademik, tentu saja saya akan menganggap hal tersebut adalah suatu perbuatan yang tidak menyenangkan. Pelakunya bisa saja saya laporkan ke polisi dan pelakunya bisa dijerat dengan pasal 335 KUHP tersebut. Namun, ada juga yang merasa bahwa pembadutan dan pembentakan bukanlah sebuah tindakan yang tidak menyenangkan bagi dia, yang tentunya ketika ada model yang seperti ini kita semua jadi heran: kok ada ya yang tidak masalah apabila diperlakukan secara tidak baik? Namun, ketika ada kasus seperti itu, maka bukan berarti pembadutan dan pembentakan dalam lingkungan akademik bagi saya bukanlah sebuah tindakan yang haq melainkan perbuatan tersebut tetaplah perbuatan yang bathil. Jadi, walau secara hukum pembadutan dan pembentakan (perbuatan tidak menyenangkan) deliknya adalah aduan (subjektif), secara hakiki tetap saja hal itu merupakan perbuatan bathil.

Namun, pada Januari 2014, Mahkamah Konstitusi sudah menghapus frasa “perbuatan tidak menyenangkan” dari pasal 335 KUHP. MK menganggap bahwa frasa tersebut sangatlah subjektif dan membuat pasal 335 KUHP menjadi seperti pasal karet yang tidak dapat mewujudkan kepastian hukum yang sehingga melanggar konstitusi dan harus dihapus. Meskipun begitu, yang saya coba tangkap dari putusan MK ini adalah bahwa karena perbuatan tidak menyenangkan ini subjektif, sehingga apabila dibawa ke ranah hukum akan sangat memakan waktu dan tenaga sekali. Jadi, ketika seseorang diperlakukan dengan tidak menyenangkan, maka seyogianya kasus tersebut diselesaikan secara internal saja, tidak usah dibawa ke ranah hukum formal.

Dengan demikian, karena perbuatan tidak menyenangkan itu subjektif, dan dulu dalam hukum pidana deliknya aduan, lalu sekarang kasusnya harus diselesaikan secara internal saja, panitia kecil, seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya, harus menyediakan semacam Portal Pengaduan Perpeloncoan PMB Unpad. Jadi, mahasiswa baru yang menganggap bahwa dirinya atau temannya ataubsiapa saja yang dia lihat dipelonco atau diperlakukan dengan tidak menyenangkan oleh panitia PMB/Mabim dapat melaporkan dan mengadukan perbuatan itu kepada panitia kecil tersebut. Formulir pengaduannya dibuat secara online saja dengan menggunakan fitur Googledocs (atau yang sejenis) sehingga dapat mudah dijangkau oleh mahasiswa baru karena mereka bisa melaporkannya dari mana saja dan kapan saja, tidak terbatas harus melaporkannya dari kampus saja. Tentu saja nanti kerahasiaan identitas pelapor harus dijaga oleh panitia kecil tersebut.

Karena pelaporannya dilakukan secara online, nah, dalam Deklarasi PMB Unpad kita dapat bagikan link/tautan formulir pengaduan perpeloncoan tersebut kepada seluruh pihak khususnya mahasiswa baru. Seluruh pihak, terutama mahasiswa baru, nantinya diharapkan dapat berpartisipasi aktif dalam mengawasi pelaksanaan PMB di Unpad. Link tersebut juga harus disosialisasikan dan terus diinformasikan oleh panitia PMB Unpad sebagai bentuk komitmen bahwa kita semua sangat menolak dan tidak bisa mentolerir oknum yang melakukan perpeloncoan kepada mahasiswa.

Dua hal inilah (Deklarasi dan Portal Pengaduan) yang menurut saya dapat dilakukan sebagai bentuk penerjemahan dari komitmen Rektor yang tidak ingin ada perpeloncoan pada PMB Unpad. Silakan teman-teman pertimbangkan. Semoga PMB di Unpad di bawah kepemimpinan Rektor yang baru dapat lebih baik lagi, dapat dilaksanakan tanpa perpeloncoan. Saya kira ini cita-cita kita bersama. Semoga.

Ssst ga boleh boong, ini bulan puasa loh!

e8ba99e10e81583f3876b00dc6acfef0

sumber: google images

Pas bulan puasa kita banyak menemukan kawan yang bilang begini:
“Ssst ga boleh boong, ini bulan puasa loh!”
“Ssst ga boleh ngomongin orang, ini bulan puasa loh!”
“Ssst ga boleh nyontek, ini bulan puasa loh!”
“Ssst ga boleh genit, ini bulan puasa loh!”
“Ssst ga boleh ngomong kasar, ini bulan puasa loh!”
“Ssst ga boleh ngehina orang, ini bulan puasa loh!”
“Ssst ga boleh buruk sangka, ini bulan puasa loh!”
Dan lain-lain, dan lain-lain..
Dari pernyataan-pernyataan tersebut lalu muncul pertanyaan dalam benak saya “Memangnya bebohong, nyontek, ngomongin orang, menghina orang, berburuk sangka hanya tidak boleh dilakukan di bulan puasa dan boleh dilakukan di bulan bukan bulan puasa ya?” Jawabannya pasti tidak! Perbuatan buruk tersebut tentu saja tidak boleh dilakukan kapanpun itu bulannya. Maka dari itu, betul kiranya apabila ramadhan adalah bulan bagi umat muslim untuk melatih diri untuk menghadapi 11 bulan ke depan. Ramadhan adalah bulan untuk me-recharge kualitas iman dan takwa kita. Perbuatan-perbuatan buruk yg senantiasa kita hidari pada bulan ramadhan harus senantiasa kita hindari juga pada 11 bulan ke depan dan perbuatan yang baik yang kita lakukan di bulan ramadhan harus kita lakukan juga di 11 bulan ke depan.

Akhirnya bulan ramadhanpun tak terasa sudah meninggalkan kita. Semoga ibadah kita di bulan ramadhan kemarin sudah cukup mengisi dengan penuh kembali kualitas keimanan dan ketakwaan kita. Semoga Allah menerima amal-amal saya dan kamu, Puasa saya dan kamu. Dan semoga Allah menjadikan saya dan kamu termasuk dari orang-orang yang kembali sebagai orang yang menang. Selamat kembali berbuka!

Salam takzim,

Muhamad Ridwan

Bicara Tentang Ospek dan Senioritas

ospksin

Dalam surat Al-A’raf ayat 11-18 diceritakan bahwa Allah swt. memerintahkan malaikat dan jin untuk sujud kepada nabi Adam as.. Seluruh malaikatpun bersujud tapi Iblis yang menolak untuk sujud (memberi penghormatan) kepada Adam as.. Iblis tidak mau sujud karena kesombongannya. Ia merasa bahwa dia lebih mulia karena tercipta dari api, sedangkan manusia dari tanah. Allah swt. pun marah kepada Iblis sehingga Iblis diusir diminta turun.

Dari firman-firman Allah swt di atas saya berpendapat bahwa Allah swt. tidak sedang mengajarkan konsep senioritas (senior selalu benar dan harus selalu dituruti dan dihormati). Malaikat lebih dulu diciptakan daripada jin (iblis) dan jin lebih dulu diciptakan daripada manusia. Kalau dilihat dari urutan dan usianya, manusia itu lebih junior daripada jin dan malaikat. Tapi kenapa kok Allah swt. menyuruh malaikat dan iblis yang lebih senior untuk memberi penghormatannya kepada Adam as.? Tentu saja jawabannya bukanlah karena faktor senioritas. Kalau jawabannya karena faktor senioritas pasti kejadiannya akan terbalik, Adam as. dan Jin lah yang diminta memberi sujud penghormatannya kepada malaikat.

Buya Hamka dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Allah swt. memerintahkan malaikat dan Iblis untuk bersujud kepada Adam as. adalah untuk menguji ketaatan dan ketakwaan dari malaikat dan Iblis. Allah swt. ingin menguji seberapa takwa malaikat dan jin (iblis) kepada dirinya. Malaikat mau bersujud yang berarti mereka bertakwa. Namun, Iblis dengan kesombongannya menolak untuk sujud. Penolakan dan kesombongan Iblis adalah wujud dari ketidaktakwaan Iblis sehingga Allah swt. pun marah lalu mengusir Iblis dan akan memasukannya ke Jahannam.

Pelajaran yang dapat kita ambil adalah pertama bahwa Allah swt. mengajarkan kita bahwa merupakan hal yang baik bagi kita untuk menghormati mereka lebih muda dari kita. Ke dua, bahwa kesombongan adalah dosa besar yang mengundang murka Allah swt.. Bahkan apabila dalam hati kita ada kesombongan sebesar biji sawi saja maka tidak akan masuk surgalah kita. Ke tiga dan yang terakhir adalah sebaik-baiknya makhluk atau manusia adalah bukan dia yang paling senior, bukan juga dia yang paling junior, melainkan dia yang paling bertakwa kepada Allah swt.

Takwa berarti menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah swt.. Menghormati sesama manusia, bahkan menghormati yang katanya diaangap keluarga, tentu saja merupakan perbuatan mulia dan merupakan perintah Allah swt.. Maka dari itu, perlu dicermati juga bahwa jangan sampai kita melaksanakan perintah Allah swt dengan cara yang dilarang Allah swt karena ya itu tadi, takwa bukan hanya sekedar menjalankan perintah, tapi juga menjauhi larangannya (satu paket). Hormatilah dan bimbinglah keluarga baru kalian itu dengan cara yang Allah swt. ridha. Semoga Allah swt. selalu melindungi para panitia dan peserta Ospek  (PMB/Mabim) di Indonesia, Kanada, Afghanistan, Banglades, Pantai Gading, Amerika, Jepang dan negara-negara lain. Semoga kita semua senantiasa mendapat hidayah-Nya.

Wallahu a’lam.