Edit Foto Wajah dan Tanda Palsu

tanda

Alasan Kenapa Ngedit Selfie Sampe Beda Dari Wajah Asli Adalah Perilaku yang Enggak Banget!

Tentang ngedit muka make aplikasi mutakhir, biar lebih ilmiah, saya kutip Pak Yasraf aja kali ya dari buku beliau yg berjudul Semiotika dan Hipersemiotika.

“Semiotika mengenal pula tanda palsu (psuedo sign), yaitu tanda yang bersifat tidak tulen, tiruan, berpretensi, gadungan, yang dalam proses pertandaannya, ia menciptakan semacam reduksionisme realitas lewat reduksi penanda atau reduksi petanda. Penanda berpretensi seperti sebenarnya (asli), padahal palsu; penanda berpretensi menjelaskan sebuah realitas, padahal menyembunyikannya. Tanda dikatakan juga palsu ketika ia (yang bersifat parsial) digunakan untuk menyembunyikan realitas (yang total).

Penanda palsu menghasilkan konotasi palsu (psuedo connotation). Artinya, ketika materialitas tanda atau penanda dibangun oleh elemen-elemen yang mengandung kepura-puraan, seakan-akan, ditambah dengan elemen-elemen menipu, maka yang kita hadapi adalah penanda yang tidak asli. Mungkin sebagian penanda adalah asli. Akan tetapi ketika penanda asli itu digabungkan dengan penanda palsu, maka kedua-duanya membangun kepalsuan. Penanda palsu hanya akan menggiring kepada makna atau konotasi palsu.”

Jadi, berdasarkan penuturan Pak Yasraf, dapat saya pahami bahwa mengedit wajah memakai teknologi kekinian yang sedang ngetren ini adalah sebuah tindak menciptakan tanda yang palsu. Menciptakan kepalsuan. Bahkan, hanya sekedar mengganti “filter” fotopun bagi saya sama saja. Ketika sudah diedit, foto tersebut bukan lagi sebuah refleksi dari realitas (reflection of a basic reality). Foto tersebut sudah menjadi sebuah tanda dari dunia hiper realitas.

Aksi, Demo atau Demonstrasi?

ratusan2bmahasiswa2bgelar2baksi2bdemo2bdi2bdepan2bistana2b3

sumber gambar: topmetro.co

Disebut apakah kegiatan di atas?

Kalau dibilang aksi, itu menjadi terlalu mengg eneralisasi karena seolah-olah hal selain itu bukanlah sebuah aksi.
Kalau dibilang aksi turun ke jalan, seolah-olah mahasiswa itu ada di tempat yang lebih tinggi sehingga mereka harus turun padahal seharusnya mahasiswa harus selalu berada setara, bersama dengan masyarakat.
Kalau dibilang demo, nanti sama yang lain suka dibercandain. Mau demo apaan? Demo masak?

Maka dari itu saya lebih setuju dengan penggunaan kata demonstrasi. Demonstrasi itu secara leksikal (makna kamus) berarti pernyataan protes yang dikemukakan secara massal. Pelakunya disebut demonstran. Sedangkan, aksi secara leksikal artinya gerakan atau tindakan dan pelakunya disebut aktor. Dengan itu, menurut saya penggunaan kata aksi yang tujuannya saya tangkap sebagai eufemisme dari demonstrasi bagi saya kurang tepat karena kata aksi bermakna general.

Berdemonstrasi adalah sah-sah saja dilakukan. Berdemonstrasi dilakukan untuk menyampaikan protes terhadap suatu pihak yang biasanya adalah penguasa. Berdemonstrasi biasanya dilakukan oleh groups with less power ketika usaha-usaha diplomatis yang mereka lakukan gagal. Namun, a

da juga kelompok yang malah melakukan demonstrasi dengan harapan bisa memulai diplomasi. Tepat atau tidak silakan teman

-teman nilai sendiri. Yang jelas, berdemonstrasi itu tidak salah. Yang salah itu tukang bajigur karena udah tau airnya keruh, tapi malah diaduk-aduk.

Apabila demonstrasi dinilai sebagai sebuah tindakan moral, ada hal yang harus kita pahami. Tindakan moral itu ada dua, yang satu adalah tindakan moral otonom, yang satu adalah tindakan moral heteronom. Tindakan moral heteronom adalah tindakan yang dilakukan akibat dorongan dari luar diri sendiri. Jadi, si subjek moral tersebut melakukan tindakan moral karena dorongan dari orang lain. Kalau kamu ikut berdemonstrasi hanya karena kamu ikut-ikutan saja, hanya karena

diajak senior, atau hanya biar dibilang keren, tanpa tahu alasan logis mengapa kamu sampai memutuskan berdemonstrasi maka itu tidaklah tepat.

Di sisi lain, tindakan moral otonom adalah tindakan yang dilakukan akibat dorongan dari dalam diri sendiri. Inilah sebaik-baiknya tindakan moral. Seseorang ikut berdemonstrasi karena dia benar-benar paham apa yang dia perbuat sehingga dapat menjelaskannya dengan logis. Dorongannya berasal dari dalam diri sendiri. Pun apabila dia memang berdemonstrasi karena diajak, dia paham kenapa dia mau dan harus ikut. Dia bisa mempertanggungjawabkan perbuatannya itu s

ecara moral dan nalar. Tapi, salah tidak apabila seseorang berdemonstrasi karena dorongan heteronom? Sekali lagi, berdemonstrasi atas dasar dorongan heteronom tidaklah salah asal dalam konteks sedang belajar. Yang salah itu sebenernya ikan kembung karena udah tau kembung tapi masih aja berenang di air.

Wahai mahasiswa, tidak mengapalah kalian berdemonstrasi karena dalam sebuah hadis yang sahih disebutkan bahwa jihad yang u

tama adalah menyampaikan yang haq, yang benar di hadapan pemimpin yang dzalim. Kalau ada yang bilang bahwa demonstrasi itu tidak menyelesaikan masalah tapi malah menambah masalah seperti bikin macet, mengganggu aktivitas masyarakat, ngeganggu kuliah, dan lain-lain bilang saja kepada mereka bahwa kalian hanyalah mahasiswa yang dengan alpanya dapat menimbulkan masalah, bahwa kalian bukanlah Pegadaian yang bisa mengatasi masalah tanpa masalah.

Muhamad Ridwan
Ditulis ketika belum makan

pgd

Ketemu Surayah Pidibaiq

Ceritanya waktu acara yg diadain kompas belum mulai, saya yang udah dateng duluan rencananya mau ke warung dulu mau jajan. Pas di depan warung, eh ternyata ada si pembicaranya, kang Pidi Baiq. Saya tegor aja
Saya: Yah, keur naon yah di dieu?

Surayah: Teuing. *Sambil nyegir*

Saya: Acara naon sih ieu yah?

Surayah: Teuing aing geh teu nyaho nanaon. Em

ang acara naon kitu ieu? *ketawa*.

Saya: Ga tau yah, tadi pas mau bimbingan terus d

osennya ga ada. Ketemu temen. Katanya ada acara da

pet makan gratis. Yaudah saya ke sini aja hehe

Surayah: Alus atuh. Aing mah dititah datang weh ku panitia. Teuing rek ngomong naon. Da biasana oge sayah mah tara nyiapkeun nanaon mun diundang acara teh. Kumaha engke weh. Ngobrol biasa weh.

Terusnya saya ngode.
Saya: Wah yah kotak makanan euy. *sambil ngeliatin kotak konsumsi dia yg ada tiga*
Surayah: Sok weh atuh makan.

Saya: Wah jangan atuh *pura-pura nolak*

Surayah: Yeee sok aja makan itu gapapa.

Saya: Oh yaudah atuh nuhun yah. Ditampi nya.

Terus saya makan deh kuenya. Tiga biji. Lumayan hehe..
Abis itu kita ngobrol-ngobrol sebentar. Ngomongin Barcelona vs Juventus. Pasti menang Juve kalo kata si surayah, soalnya past

i mafia judi ikut main juga. Ngomogin kapan Dilan 2 terbit. Bulan Juni katanya. Terus saya bilang “Lord of the Ring aja trilogi yah”. Terus kata dia “Iya yah dibikin trilogi bagus juga. Yaudah lah nanti Dilan 2 nya jangan langsung ditamatin biar ada yang ke tiga.” Terus abis itu ngomongin pendidikan anak. Saya sih ngangguk-ngangguk aja. Abis itu sebagai rasa terima kasih saya karena udah dikasih kue, s

aya ngajak beliau buat foto bareng saya.

pdbq

Oleh-oleh dari Rapat dan Pawai Akbar HTI

rpa-bandung1

sumber gambar: google images

Tadi siang saya bersama beberapa kawan turut juga menghadiri Rapat dan Pawai Akbar (RPA) HTI se Jawa Barat di lapangan Gasibu. Acaranya sangat ramai. Puluhan ribu orang memenuhi lapangan Gasibu. Terakhir saya datang ke acara ramai-ramai begini yaitu waktu 2014 lalu, sewaktu Prabowo-Hatta mengadakan kampanye akbar di SUGBK. Karena acara ini yang mengadakannya Hizbut Tahrir, partai politik, saya rasa pola penyajian acaranya sama seperti acara kampanye partai politik yang biasa ada. Orasi-orasi politik mengangkat persoalan rakyat (seperti harga BBM, persoalan pendidikan, persoalan pengelolaan kekayaan negara,dll) disampaikan para petinggi partai. Keresahan dibagi kepada sesama mereka. Kemudian ditunjuklah beberapa hal dan isme yang menjadi biang kerok permasalahan tersebut. Ditunjuklah musuh bersama, yaitu neoliberalisme, neoimperalisme, kapitalisme, demokrasi, dan isme isme lain yang mereka anggap sistem buatan manusia yang kufur. Setelah itu barulah ditawarkan solusi tunggal atas permasalahan tersebut yaitu dengan diterapkannya syariat Islam secara kaffah yaitu dengan menegakkan daulah Khilafah Islamiyah terlebih dahulu.

Propaganda politik yg tadi HTI lakukan kurang lebih sama lah coraknya dengan yang dilakukan (ambil contoh) dengan propaganda para tim capres-cawaprespada pilpres tahun lalu yaitu dengan pola pertama-tama berbagi keresahan (melambungnya harga sembako, kemiskinan yg semakin merajalela, BBM mahal, kualitas, pendidikan buruk). Lalu ditunjuklah biang kerok permasalahan tersebut. Kalau Prabowo-Hatta bilang itu adalah karena APBN kita bocor di mana-mana karena pengelolaan SDA yang tidak mandiri, sedangkan Jokowi-JK bilang itu adalah karena kualitas SDM kita yang masih kurang baik sehingga mentalnya harus direvolusi. Setelah biang kerok ditunjuk, ditawarkanlah solusi, yaitu dengan memilih mereka masing-masing sebagai presiden dan wakil presiden. Saya tidak ingin menilai kontennya, apakah si ini lebih baik atau si itu lebih baik. Saya hanya tertarik melihat teknik propagandanya saja, sebagai mahasiswa yg skripsinya membahas tentang teknik propaganda hehe.. Yang jelas, di sini saya melihat banyak kesamaan HTI sebagai parpol dengan parpol yg lainnya, dan tentu saja juga banyak perbedaannya seperti misalnya mereka berjuang tidak melalui parlemen melainkan konsisten dengan jalan dakwah, atau hal lainnya yang akhirnya menjadi ciri khas mereka (contoh: ideologinya).
rpahti

Ada yang menarik sewaktu barisan pawai melewati depan gedung DPRD Jabar (kesanaan sedikit). Nah di sana ada banyak polisi yang berbarikade. Saya kira tadi memang lagi ada demonstrasi dari elemen lain kepada DPRD. Polisi berbarikade mengahalang-halangi mereka, dan panitia RPA-pun menyuruh peserta pawai untuk berjalan cepat melewati kerumunan masa tersebut. Karena disuruh berjalan cepat, saya hanya sekilas melihat mereka. Terlihat di sana bendera hijau NU, dan m lain yg saya ga tau itu bendera apa. Para (terduga) demonstran tersebut pun membentangkan spanduk yang tulisannya kurang lebih begini “Jangan Usik Pancasila dan NKRI!” wkwkwkwk ternyata polisi pada barikade buat nutupin spanduk itu biar ga keliatan sama peserta pawai HTI, dan memang itu efektif. Sayang ga kefoto euy, baru ngeh beberapa ratus meter setelahnya. Adapun foto ini diambil pas jalan pulang, pas udah sepi. Yang jelas, ada aksi ada reaksi. Yang satu melempar wacana, yang lain juga melempar wacana. Ada semacam perang wacana di sini. Pada akhirnya kita akan melihat wacana siapa yang akan mendominasi dan menang.

Update: Ternyata yg serukan jangan usik Pancasila dan NKRI itu dari Pagar Nusa NU http://jabar.tribunnews.com/2015/05/14/pagar-nusa-nu-serukan-nkri-harga-mati-di-tengah-rapat-akbar-hti

Malingnya Kok Malah Dilepas?

102074_1

sumber gambar: google images

Tadi pagi saya ke polsek Jatinangor. Jadi, ceritanya kemaren nemu selebaran sedekah tipu-tipu gitu di masjid raya. Ga tau siapa yg nyebar. Paling juga orang yg lagi pendek akal. Karena udah beberapa waktu nemunya, dan kesel juga lama-lama ada lagi-ada lagi akhirnya saya laporin aja tuh ke polsek tadi pagi-pagi sebelum berangkat ke kampus.

Sebenernya sih di samping kesel sama itu selebaran tipu-tipu, saya penasaran juga sama pelayanan polsek Jatinangor macam gimana. Dateng, salaman, terus saya ceritain duduk perkaranya, dan untuk kasus ini katanya nanti dari intel polsek bakal menelusurinya, terima kasih atas infonya katanya. Ya lumayan lah, walaupun tadinya saya nawarin diri buat nulis nama saya dan ngisi surat pelaporan, dan ditolak karena katanya akan dianggap sebagai informasi saja.

Nah, abis ngelaporin selebaran tipu-tipu itu, saya ke pak polisi nanya kabar si maling sepatu yg sabtu kemarin ditangkap. Jadi memang waktu hari sabtu, ada tukang maling sepatu yg ketangkep basah di masjid raya dan ditahan di polsek setelah sebelumnya ditabokin sama khalayak.
Saya: Pak kumaha eta teh nu maling sapatu di masjid unpad waktu hari sabtu kemarin apa udah diproses lagi?
Pak polisi: Iya yg kemaren teh kan ga dibuat laporan sama yg kehilangannya, soalnya dianya mau pulang ke Jakarta dan ga mau ribet kalo harus dateng persidangan dan segala macem. Jadi yaudah yg kemarin itu dianggap aja diselesain secara kekeluargaan.
Saya: Lah terus malingnya gimana Pak sekarang? Terus istrinya (yg juga komplotan maling) udah ketangkep?
Pak polisi: Ya sekarang malingnya udah kami lepas karena ya itu tadi si korbannya tidak mau buat laporan.
Saya: Lah kok malah dilepas Pak? Padahal kan malingnya juga udah ngaku dia maling.
Pak polisi: Ya tetap aja karena tidak ada yg buat laporan, makanya kami lepas. Ya semoga aja dia bertobat dek. Makanya kita wajibkan dia untuk wajib lapor.
Saya: *dalem hati saya: buset ngomogin bertobat dia* Wajib lapornya ke mana Pak? Ke polsek ini?
Pak polisi: Iya ke polsek ini.
Saya: Yaudah deh Pak saya konsultasikan dulu dengan satpam masjid, sama ke atasan buat gimana-gimananya. Makasih banyak ya Pak.
Sayapun pamit dengan perasaan heran di hati. Itu polisi pikirannya gimana sih? Udah jelas-jelas malingnya ngaku, bahkan dia ngaku kalo udah dapet 2jt dari jualan sepatu curian. Di samping itu, malingnya juga ngaku kalo dia berkomplot sama istrinya dan istrinya itu sering juga maling tas/barang jamaah. Eh ini malah dilepas. Pake alesannya karena korban ga mau buat laporan lah. Kalo saya sih mikirnya ya kenapa harus ada laporan lagi. Udah jelas-jelas dia maling, ketangkep basah. Udah ngaku juga kalo malingnya bukan sekali dua kali. Kenapa cuma gara-gara korban ga mau buat laporan eh ini malah dilepas. Apakah misal contoh kasusnya kalo ada pengendara mobil nabrak pejalan kaki sampe dia mati, terus si pejalan kakinya (korban) ga buat laporan (yaiyalah mau buat laporan gimana orang dia mati ketabrak) terusnya apa dengan begitu bahwa polisi tidak memproses itu? Gimana sih yang benernya? Pusing deh ini pala barbie.

Tentang Slogan Pendidikan

popong

Kemaren setelah acara diskusi memperingati hari pendidikan nasional yang diselenggarakan HmI saya nanya ke, anggota DPR RI Komisi 10 tentang pendidikan, Ceu Popong “Ceu, kan slogan pendidikan kita itu ‘Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani’. Kenapa kok itu pakai bahasa Jawa? Bukankah dulu sumpah pemuda kita berkomitmen berbahasa yang satu, bahasa Indonesia? Mengapa bahasa yg dipakai untuk slogan pendidikan nasional adalah bahasa daerah yang tidak semuanya paham?”

Beliau menjawab kurang lebih begini “Ga apa-apa. Bahasa daerah itu kan kearifan lokal. Kalau kita ditanya tentang kebudayaan nasional kita apa, kita pasti bingung. Kebudayaan nasional itu kan kumpulan dari kebudayaan-kebudayaan lokal. Slogan tersebut merupakan merupakan kearifan lokal yg diangkat sebagai kebudayaan nasional. Secara filosofis, slogan itu juga sangat luar biasa. Kalau banyak yang tidak mengerti, kan sekarang sudah banyak yg menerjemahkan. Jadi, tidak masalah. Toh, slogan itu sebenarnya berasal dari bahasa Kawi, bahasa kuno. Jadi, tidak apa-apa ya.”

Setelah mendengar jawaban tersebut, sayapun mengucapkan terima kasih dan salim ke beliau. Terus, beliau pulang deh dianter sama cucunya yg anak Unpad. Ceu Popong itu pemain lama di DPR RI. Udah ngejabat dari tahun 1987. Sudah 7 periode beliau di DPR RI, sudah kurang lebih 28 tahun. Bayangin tuh, 28 tahun jadi dewan hahaha. Usianya sendiri udah 76 tahun dan kalau kata orang Sunda mah masih jagjag, masih seger. Beliau bilang salah satu alasan beliau kenapa mau jadi anggota DPR adalah biar bisa marahin menteri katanya hehe. Yu para pemuda kita siap-siap untuk menggantikan generasi tua, siap-siap menggantikan beliau-beliau buat marahin menteri 🙂