Jauhi Fanatisme

Dalam filsafat yunani kuno dikenal ada istilah abai sokratik atau ignorantia sokratik yang merujuk kepada pemikiran Sokrates yang menggap bahwa seorang filsuf adalah dia yang mau mengabaikan dirinya sendiri. Maksudnya, seorang filsuf adalah dia yang berani meruntuhkan pendapat-pendapat dan keyakinan-keyakinannya sendiri, senantiasa belajar dan terbuka pada hal-hal baru, berani memasuki gerakan di mana ia berada dalam situasi tidak tahu dan tetap berhasrat untuk tahu. The more you know, the more you know that you do not know. Begitu kira-kira prinsipnya dasarnya.

Dalam mukadimah buku fiqih jihad Yusuf Qardhawi, beliau menulis bahwa Abu Hanifah pernah berkata “Ini adalah pendapat saya, jika ada orang yang datang dengan pendapat yang lebih baik, saya akan menerimanya.” Di lain bagian, Qardhawi juga menulis bahwa Umar ibn Al-Khathab dalam suratnya kepada Abu Musa menulis, “Keputusan yang kamu buat pada hari ini tidak boleh menghalangimu untuk mengoreksi pendapatmu, sehingga dengan hidayah kamu diberi petunjuk untuk melakukan koreksi menuju kebenaran. Kebenaran adalah sesuatu yang lama, tidak akan batal oleh hal apapun. Sedangkan mengoreksi kebenaran lebih baik daripada mendiamkan kebatilan.”

Mereka sepakat bahwa orang yang utama adalah dia yang bebas dari fanatisme, terutama fanatisme terhadap pemikiran / pendapat sendiri. Semoga dapat menjadi bahan renungan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s