Gagal Paham

Tadi pas lagi di Paun (Pasar Unpad) di belakang saya ada 2 orang laki-laki yang ngobrol begini:

A: (sepertinya sambil ngelihat tukang jualan sesuatu) Ari lima rebuan dua mah dibeuli tah ku urang (Kalau harganya lima ribu dapat dua sih saya beli nih)
B: Komo deui mereun nya mun sapuluh tilu? (Apalagi kalau sepuluh ribu dapat tiga.)
A: Sapuluh tilu kumaha? (Sepuluh ribu dapat tiga gimana?)
B: Enya, sapuluh rebu meunang tilu. (Iya, sepuluh ribu dapat tiga.)
A: Nya mending lima rebu dua atuh. Sapuluh rebu meunang opat. (Ya mendingan lima ribu dapat dua dong. Sepuluh ribu dapat empat.)
B: Eh heeuh nya! (Eh iya ya!)

Saya: (Mikir sebentar terus ketawa. Iya juga ya haha

Pujian dan Celaan

Al-Faqih Muhammad bin Abdurrahman Mazru’ ra. bertanya, “Mengapa seorang senang kepada orang yang memujinya walaupun pujian itu tidak ada pada dirinya, dan membenci seseorang yang mencelanya walaupun celaannya itu ia yakini ada pada dirinya?”

Beliau menjawab, “Ketahuilah, hal itu sudah ada dalam tabiat manusia. Seseorang tidak dapat selamat darinya melainkan yang telah keluar dari sifat kemanusiaab dan bergabung dengan malaikat. Cara sampai kepada hal tersebut telah disebutkan dalam jawaban pertanyaan nomor satu, dan cara selamat dari hal itu menurut para mukhlishin (orang-orang yang ikhlas) adalah dengan menyamakan antara pujian dan celaan, dan antara orang yang memuji dan orang yang mencela.

Adapun ketidaksukaan terhadap celaan dan kesenangan terhadap pujian terkadang menjadi hal yg mubah (boleh), bisa juga menjadi haram tergantung sumber yang menyebabkan ia menyenangi pujian dan membenci celaan itu.

Seseorang yang senang dengan pujian karena hal itu menunjukkan bahwa ia mempunyai pangkat di sisi orang yang memujinya. Membenci celaan karena menunjukan ia tidak mempunyai kedudukan di sisi orang yang mencelanya. Maka, orang ini terhijab, tidak sempurna penghadapannya secara khusus.

Terkadang seseorang menyenangi pujian dan membenci celaan, dari sisi karena lisan manusia adalah pena Allah dan dari sisi Allah telah menampakkan yang bagus dan menutup yang buruk. Suatu pujian terjadi jika tampak kebaikan seseorang. Dan orang tersebut senang kebaikannya disebut karena berharap Allah akan memperlakukannya seperti itu. Begitu pula suatu celaan terjadi jika tampak keburukan seseorang. Dan orang tersebut merasa sedih karena takut Allah akan memperlakukannya seperti itu di akhirat kelak. Mendalami masalah ini akan membuat pembahasan menjadi panjang. Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya telah menjelaskan panjang-lebar masalah ini dalam pembahasan Zammu al- Jah wa al-Riya.

Dikutip dari buku Guru Sufi Menjawab karya Allamah Sayyid Abdullah bin Alwi Al-Haddad halaman 19-21.

Kenangan Demonstrasi

demo

Barusan di facebook saya ngeliat update-an teman kelas yg udah lama ga ketemu. Saya liat profil dia, dan nemu foto ini sebagai cover foto profil facebooknya. Foto ini diambil maret 2012, waktu demo menolak kenaikan harga BBM di depan gedung MPR/DPR. Saya ga ada di dalam fotonya, karena saya waktu itu diajak solat duluan sama Ketua BEM FIB saat itu di masjid kehutanan. Teman sekelas saya ini waktu itu saya yang ajak. “Udah lo ikutan aja Ren, kita cari pengalaman. Nanti di sana kita ngikut aja.” Gitu lah kira ajakan saya dulu hehe.

Waktu itu demonstrasinya ya kaya demontrasi yang biasa dilakukan. Ada yang orasi, ada yang nyanyi-nyanyi, ada yang barikade. Hari rabu kalau ga salah. Cuaca Jakarta amat panas, apalagi dengan kita memakai almamater, makin gerah dan keringetan deh tuh. Sejam pertama kita masih barikade tuh, muter-muter, sambil danlapnya bilang “Ayo-ayo barikadenya jangan putus!” Cape juga ternyata. Nah pas begitu baru sadar saya ternyata saya ga liat lagi temen saya itu si Rendy di barikade mahasiswa. Lah kemana tuh anak? Akhirnya saya clingak-clinguk nyariin dia di kerumunan barikade mahasiswa. Kali aja kan nyelip. Ternyata tetep ga ketemu. Ilang kemana dah tuh anak? Pas saya ngeliat ke luar barikade, eh ternyata si koplok lagi enak-enak duduk di trotoar sambil makan es cendol. Wkwkwk sialan emang. Saya ajak lagi buat gabung barikade, eh ga mau dia. Yaudah biarin aja, saya tetep lanjutin berada di barikade. Tapi, selang 15 menit, ternyata panas dan bikin haus juga. Akhirnya sayapun memutuskan untuk bergabung sama si Rendy sejenak di trotoar buat meneguk minuman dingin. Seperti baru kemarin. Time really flies..

Jauhi Fanatisme

Dalam filsafat yunani kuno dikenal ada istilah abai sokratik atau ignorantia sokratik yang merujuk kepada pemikiran Sokrates yang menggap bahwa seorang filsuf adalah dia yang mau mengabaikan dirinya sendiri. Maksudnya, seorang filsuf adalah dia yang berani meruntuhkan pendapat-pendapat dan keyakinan-keyakinannya sendiri, senantiasa belajar dan terbuka pada hal-hal baru, berani memasuki gerakan di mana ia berada dalam situasi tidak tahu dan tetap berhasrat untuk tahu. The more you know, the more you know that you do not know. Begitu kira-kira prinsipnya dasarnya.

Dalam mukadimah buku fiqih jihad Yusuf Qardhawi, beliau menulis bahwa Abu Hanifah pernah berkata “Ini adalah pendapat saya, jika ada orang yang datang dengan pendapat yang lebih baik, saya akan menerimanya.” Di lain bagian, Qardhawi juga menulis bahwa Umar ibn Al-Khathab dalam suratnya kepada Abu Musa menulis, “Keputusan yang kamu buat pada hari ini tidak boleh menghalangimu untuk mengoreksi pendapatmu, sehingga dengan hidayah kamu diberi petunjuk untuk melakukan koreksi menuju kebenaran. Kebenaran adalah sesuatu yang lama, tidak akan batal oleh hal apapun. Sedangkan mengoreksi kebenaran lebih baik daripada mendiamkan kebatilan.”

Mereka sepakat bahwa orang yang utama adalah dia yang bebas dari fanatisme, terutama fanatisme terhadap pemikiran / pendapat sendiri. Semoga dapat menjadi bahan renungan.