Ayam Kampus Unpad

Sebelumnya, saya menghimbau kepada sesiapa yang belum cukup dewasa untuk tidak membaca tulisan saya ini. Oke, kali ini saya akan coba menulis tentang ayam kampus, terutama tentang ayam kampus Unpad. Udah lama sih sebenernya mau nulis ini, cuma belum ketemu kesempatannya aja, selalu aja ketemunya itu dana umum. Mumpung ketemu kesempatan, yuu mari.

Udah bukan rahasia umum lagi bahwa setiap universitas di Indonesia, baik Universitas negeri maupun yang swasta, pasti ada ayam kampusnya. Ada kampus yang ayam kampusnya banyak, ada juga kampus yang ayam kampusnya ga banyak-banyak amat, alias sedikit, atau malahan ada juga kampus yang katanya ga ada ayam kampusnya, eh ternyata pas diselidiki malah ketaun banyak. Disadari atau tidak, kadang kita sebagai mahasiswa kurang begitu aware akan keberadaan ayam kampus di universitas kita yang tercinta ini. Beberapa ada yang bilang bahwa keberadaan ayam kampus itu adalah isapan jempol belaka, namun ada juga yang bilang tidak mengetahui tentang keberadaan ayam kampus. Namun, hari ini saya berani bilang ke kawan-kawan semua, bahwa Ayam Kampus memang benar ada di Universitas Padjadjaran.

Selama hampir 4 tahun kuliah di Unpad, saya sebenarnya tidak terlalu mengetahui, bahkan hampir tidak peduli bahwa ada ayam kampus di Unpad. Mau ada atau tidak, itu bukan urusan saya dan saya yakin setiap orang juga punya urusannya masing-masing, termasuk saya. Saya tidak terlalu peduli sampai suatu ketika saya bertemu langsung dengan salah satu ayam kampus Unpad. Berawal dari pertemuan itu, dengan tidak terduga, ketidakpedulian saya berubah menjadi kekaguman.

Ceritanya begini: Ketika itu saya ingat betul itu adalah hari Sabtu. Saya waktu itu diundang oleh salah satu organisasi kemahasiswaan tingkat fakultas untuk hadir dalam acara yang mereka selenggarakan. Mereka menyelenggarakan acara tersebut di Arboretum Unpad. Karena memang sudah saya agendakan dari jauh hari untuk menghadiri acara tersebut, sayapun akhirnya menyanggupi untuk hadir pada acara tersebut. Acaranya pagi hari, sekitar jam sembilan. Saya kalo ga salah waktu itu datengnya telat, soalnya maen Pokopang dulu. Walaupun telat, saya gak bikin khawatir orang tua, soalnya saya anak laki-laki. Coba deh kalo kamu anak perempuan, terus bilang ke mamah atau papa kamu “Mah, pah, aku telat.” saya yakin mamah papa kamu pasti langsung khawatir dan nanya kamu macem-macem. Saya dateng kurang lebih jam setengah sepuluh, terus cuap-cuap kurang lebih sampe waktu Dzuhur. Abis saya cuap-cuap, panitia emang pengertian banget deh kalo saya udah laper. Kita pun akhirnya masuk kepada sesi makan siang (waktu itu dikasih nasi padang). Lagi asik-asik makan, saya ngerasa ada yang lagi merhatiin saya dari jauh gitu. Sayapun pura-pura ga peduli aja. Tidak lama berselang, dia pun menghampiri saya.

Ayam kampus itu seketika menghampiri saya yang sedang makan. Awalnya sih saya cuek aja, cuma lama-lama ngeganggu juga dia. Akhirnya saya usir aja, saya gebah kalo kata orang Sunda sih. Tapi, ayam kampus itu gigih banget, kayanya dia bener-bener kegoda sama nasi padang yang saya makan. Karena saya ga tahan, akhirnya saya kasih aja daun singkong yang belum saya makan biar dia pergi. Bukannya dia makan sendiri, eh daun singkongnya dia biarin untuk dimakan temennya. Seketika saya terpaku ngelihat prilaku ayam kampus itu. Hebat sekali, ayam kampus itu ternyata tidak mementingkan dirinya sendiri, dia mementingkan temannya. Dia lebih memilih daun singkong itu untuk dimakan temannya, beda sama beberapa manusia yang lebih memilih untuk makan temennya sendiri. Saya berubah menjadi kagum kepada beliau. Dari kejadian itu, saya langsung berpikir “ternyata ga salah kalo mereka disebut ayam kampus, mereka sangat berpendidikan.”

Dalam struktur sosial masyarakat ayam, ayam kampus menempati posisi sosial yang lumayan tinggi dibandingkan dengan ayam-ayam yang lain (ex: ayam kampung, ayam broiler, ayam kate, dll). Hal ini disebabkan karena ayam kampus dirasa mempunyai pendidikan yang lebih tinggi dibandingkan ayam-ayam lain. Dalam masyarakat ayam, pendidikan adalah nilai yang sangat dihormati karena dari sanalah tercermin ketangkasan si ayam dalam mencari makan dan berkembang biak. Sepertinya, ayam kampus merupakan ayam yang cukup beruntung karena bisa memasuki dunia kampus, beda dengan yang lain. Jadi untuk pengetahuan teman-teman saja, sebenarnya secara garis besar ada dua jenis ayam di Indonesia: yang pertama adalah ayam baik-baik, yang biasanya suka dimarginalkan dengan sebutan ayam penakut, yang ke dua adalah ayam bandel, yang biasanya suka disebut ayam pemberani atau ayam berani mati. Ciri-cirinya bisa diliat dari tempat di mana kamu liat ayam itu. Ayam baik-baik itu biasanya kita dapat jumpai berada di sekitar mushala, majelis ta’lim, perumahan warga (ayam komplek), dan pastinya juga dapat kita jumpai di kampus. Ayam baik biasanya nyari aman, berkeliarannya pun di sekitaran tempat baik, ga berani ke tempat yang macem-macem, makanya disebutnya ayam penakut. Beda dengan ayam bandel, ayam bandel biasanya bisa kita jumpai dalam keadaan mati di tempat jagal ayam. Ayam bandel ini emang ga bisa dibilangin, kalo maen suka jauh-jauh terus, makanya ayam ini suka disebut ayam pemberani atau ayam berani mati. Maennya ke tempat jagal ayam, tuh kan mati.

Ayam kampus Unpad, sama seperti ayam kampus lain, merupakan kaum ayam yang intelektual. Saya berani bilang begini ada testimoni dari salah seorang teman saya, namanya Yanto, yang merupakan mahasiswa S1 Ilmu Peternakan Fakultas Peternakan Unpad. Menurut Yanto, mahasiswa Fapet itu biasanya mengikutsertakan ayam kampus Unpad dalam beberapa penelitian yang mereka lakukan. Oh iya, Yanto teman saya ini manusia ya, bukan ayam. Mereka melakukan penelitian dengan ayam kampus Unpad di suatu lokasi yang disebut “kandang” (jadi ternyata selama iniUnpad itu punya kandang ayam kampus, hebat banget ya). Bayangkan, manusia (dalam hal ini mahasiswa Fapet) yang merupakan kaum intelektual, dan disebut-sebut sebagai makhluk paling sempurna, membutuhkan bantuan ayam kampus Unpad dalam penelitiannya yang kelak akan menghasilkan penemuan-penemuan yang mutakhir. Tentunya tidak sembarang ayam yang dapat membantu penelitian manusia ini, hanya ayam kampus Unpadlah yang karena keintelektualannya dinilai pantas untuk membantu mereka. Ayam kampus Unpad memang luar biasa, mereka ayam bukan sembarang ayam, mereka ayam ilmuwan. Itu mungkin yang membantunya itu ayam kampus yang mahasiswanya, gimana kalo yang ngebantunya itu ayam kampus yang dosen atau guru besarnya ya? Wah pasti akan lebih luar biasa Unpad dibawanya.

Jadi, pesan saya adalah sudah selayaknya kita sebagai mahasiswa yang katanya kaum intelektual menghargai posisi dan keberadaan ayam kampus Unpad. Kita sesama kaum intelektual harus saling menghargai dan menyayangi satu sama lain. Contoh konkritnya mudah saja. Ketika kamu bertemu dengan ayam kampus Unpad yang keliatannya kelaparan, dan kamu punya makanan (ciki, coklat, permen, nasi bungkus dll), kamu kasih aja ke dia, jangan pelit-pelit jadi orang. Tapi, kalo kamu bertemu ayam kampus Unpad yang keliatannya kelaparan, tapi kamu ga punya makanan, kamu ga usah repot-repot ke Indomart atau ke warung nasi buat ngebeliin dia makanan, kamu biarin aja soalnya ayam kampus Unpad itu kaum intelektual, pasti dia punya cara sendiri buat menemukan makanannya. Eh iya, kalo teman-teman penasaran kenapa saya bisa ketemu ayam kampus Unpadnya di Arboretum, bukan di “kandang” jawabannya adalah karena hari itu hari sabtu, mereka juga kuliahnya libur. Foto ayam kampus Unpad >klik<

Segitu aja ah dari saya. Dadaaahh~~

Catatan:

Dari cerita ini sebenarnya saya ingin menyampaikan bagaimana makna suatu kata atau frasa itu sangat tergantung sekali pada konteks. Dalam kosakata bahasa Indonesia, kita mengenal banyak sekali kata yang penulisan maupun pengucapan yang sama, tetapi sebenarnya maknanya berbeda, salah satunya adalah pada frasa “ayam kampus” yang menjadi tajuk utama tulisan ini. Kita tahu bahwa frasa “ayam kampus” itu mempunyai makna yang tidak berkonotasi (makna yang netral) maupun makna yang berkonotasi negatif. Makna yang tidak berkonotasi dari frasa “ayam kampus”, selanjutnya disebut makna 1, adalah ayam yang ada di kampus, atau bisa juga bermakna ayam milik kampus. Sedangkan, makna yang berkonotasi negatif dari frasa “ayam kampus” , selanjutnya disebut makna 2, adalah mahasiswi yang nyambi jadi pekerja seks komersial, atau bisa juga bermakna mahasiswi yang mau dan bisa untuk diajak berhubungan badan atau wanita tuna susila. Karena memiliki lebih dari satu makna, frasa “ayam kampus” memiliki potensi untuk menimbulkan ambiguitas makna. Bagaimana cara membedakan apakah arti dari frasa “ayam kampus” itu adalah makna 1, atau makna 2? Caranya ya itu tadi, dengan melihat konteksnya.

Pada paragraf pertama sampai ke tiga, saya tidak akan menyalahkan teman-teman ketika teman-teman berpikir bahwa makna frasa “ayam kampus” yang digunakan adalah makna 2 karena memang saya sengaja membuat konteks penulisannya seolah-olah ini adalah tulisan untuk orang dewasa. Saya pada paragraf 1 mem-bold kata “dewasa”, dan pada paragraf 2 mem-bold frasa “rahasia umum” untuk menimbulkan kesan bahwa ayam kampus yang saya bicarakan di sini adalah ayam kampus dengan makna 2. Adapun paragraf 3 hanyalah paragraf penghubung. Pada paragraf 4 dan selanjutnya, mulailah terlihat bahwa makna frasa “ayam kampus” yang saya bicarakan di sini adalah ayam kampus dengan makna 1 karena saya mulai memunculkan setting latar kejadian yaitu Arboretum Unpad, yang kemudian mulai dapat meruntuhkan sense dari makna 2 karena dapat timbul pertanyaan, walaupun kemungkinannya ada, “emangnya ada wanita tuna susila di Arboretum siang-siang yang ngegangguin orang yang lagi makan nasi padang?”. Nah, dari sini kita dapat melihat bahwa sebenarnya konteks sangatlah berpengaruh sekali terhadap pemahaman kita akan makna suatu kata, frasa, klausa, atau kalimat. Frasa “ayam kampus” dapat memiliki makna berbeda apabila ditempatkan pada konteks tertentu yang berbeda pula, sama halnya seperti arti kata bunga yang pastinya akan berbeda maknanya ketika digunakan antara dalam konteks perbankan dengan konteks pertamanan. Dalam Linguistik (ilmu tentang bahasa), ilmu yang mempelajari makna yang berhubungan dengan konteks disebut Pragmatik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s