Kamu Mahasiswa Tipe Apa?

Halo, apa kabar?

Sekarang saya lagi di rumahnya si Akim nih. Nah, sambill nunggu adzan Dzuhur ceritanya saya baca-baca makalah salah seorang mahasiswanya Babehnya si Akim. Salah satu makalah yang saya baca adalah makalah dari Ahmad Gunawan yang judulnya Pandangan Jurgen Habermas Terhadap Ilmu Pengetahuan. Nah, di salah satu bagian makalah, tepatnya di bagian tokoh-tokoh teori belajar humanistik, ada tulisan yang kayanya bagus nih untuk dibagikan di sini. Di sana ditulis bahwa berdasarkan teori Kolb, Honey, dan Mumfrod, siswa (mahasiswa) dapat digolongkan atas empat tipe, yaitu:

Yang pertama adalah tipe aktivis. Mahasiswa tipe ini suka melibatkan diri pada pengalaman-pengalaman baru, cenderung berpikir terbuka dan mudah diajak berdialog. Namun, mahasiswa tipe aktivis ini biasanya kurang skeptis terhadap sesuatu, atau identik dengan sikap mudah percaya. Mahasiswa tipe ini menyukai metode yang mampu menemukan hal-hal baru.

Yang ke dua adalah tipe reflector. Mahasiswa tipe ini cenderung sangat hati-hati mengambil langkah. Mahasiswa tipe reflector, dalam proses mengambil keputusan, cenderung konservatif, dalam arti suka menimbang-nimbang secara cermat baik buruknya suatu keputusan.

Yang ke tiga adalah tipe teoris. Mahasiswa tipe ini biasanya sangat kritis, senang menganalisis dan tidak menyukai pendapat atau penilaian yang bersifat subjektif. Bagi mahasiswa tipe teoris, berpikir rasional adalah sesuatu yang sangat penting. Mahasiswa tipe ini juga sangat skeptis dan tidak menyukai hal-hal yang bersifat spekulatif.

Yang ke empat adalah tipe pragmatis. Mahasiswa tipe ini menaruh perhatian besar pada aspek-aspek praktis dalam segala hal. Mahasiswa tipe pragmatis tidak suka bertele-tele membahas aspek teoritis-filosofis dari sesuatu. Bagi mahasiswa tipe ini, sesuatu dikatakan tidak ada gunanya dan baik hanya jika dipraktekkan.

Nah, kamu mahasiswa tipe yang mana?

Advertisements

Ayam Kampus Unpad

Sebelumnya, saya menghimbau kepada sesiapa yang belum cukup dewasa untuk tidak membaca tulisan saya ini. Oke, kali ini saya akan coba menulis tentang ayam kampus, terutama tentang ayam kampus Unpad. Udah lama sih sebenernya mau nulis ini, cuma belum ketemu kesempatannya aja, selalu aja ketemunya itu dana umum. Mumpung ketemu kesempatan, yuu mari.

Udah bukan rahasia umum lagi bahwa setiap universitas di Indonesia, baik Universitas negeri maupun yang swasta, pasti ada ayam kampusnya. Ada kampus yang ayam kampusnya banyak, ada juga kampus yang ayam kampusnya ga banyak-banyak amat, alias sedikit, atau malahan ada juga kampus yang katanya ga ada ayam kampusnya, eh ternyata pas diselidiki malah ketaun banyak. Disadari atau tidak, kadang kita sebagai mahasiswa kurang begitu aware akan keberadaan ayam kampus di universitas kita yang tercinta ini. Beberapa ada yang bilang bahwa keberadaan ayam kampus itu adalah isapan jempol belaka, namun ada juga yang bilang tidak mengetahui tentang keberadaan ayam kampus. Namun, hari ini saya berani bilang ke kawan-kawan semua, bahwa Ayam Kampus memang benar ada di Universitas Padjadjaran.

Selama hampir 4 tahun kuliah di Unpad, saya sebenarnya tidak terlalu mengetahui, bahkan hampir tidak peduli bahwa ada ayam kampus di Unpad. Mau ada atau tidak, itu bukan urusan saya dan saya yakin setiap orang juga punya urusannya masing-masing, termasuk saya. Saya tidak terlalu peduli sampai suatu ketika saya bertemu langsung dengan salah satu ayam kampus Unpad. Berawal dari pertemuan itu, dengan tidak terduga, ketidakpedulian saya berubah menjadi kekaguman.

Ceritanya begini: Ketika itu saya ingat betul itu adalah hari Sabtu. Saya waktu itu diundang oleh salah satu organisasi kemahasiswaan tingkat fakultas untuk hadir dalam acara yang mereka selenggarakan. Mereka menyelenggarakan acara tersebut di Arboretum Unpad. Karena memang sudah saya agendakan dari jauh hari untuk menghadiri acara tersebut, sayapun akhirnya menyanggupi untuk hadir pada acara tersebut. Acaranya pagi hari, sekitar jam sembilan. Saya kalo ga salah waktu itu datengnya telat, soalnya maen Pokopang dulu. Walaupun telat, saya gak bikin khawatir orang tua, soalnya saya anak laki-laki. Coba deh kalo kamu anak perempuan, terus bilang ke mamah atau papa kamu “Mah, pah, aku telat.” saya yakin mamah papa kamu pasti langsung khawatir dan nanya kamu macem-macem. Saya dateng kurang lebih jam setengah sepuluh, terus cuap-cuap kurang lebih sampe waktu Dzuhur. Abis saya cuap-cuap, panitia emang pengertian banget deh kalo saya udah laper. Kita pun akhirnya masuk kepada sesi makan siang (waktu itu dikasih nasi padang). Lagi asik-asik makan, saya ngerasa ada yang lagi merhatiin saya dari jauh gitu. Sayapun pura-pura ga peduli aja. Tidak lama berselang, dia pun menghampiri saya.

Ayam kampus itu seketika menghampiri saya yang sedang makan. Awalnya sih saya cuek aja, cuma lama-lama ngeganggu juga dia. Akhirnya saya usir aja, saya gebah kalo kata orang Sunda sih. Tapi, ayam kampus itu gigih banget, kayanya dia bener-bener kegoda sama nasi padang yang saya makan. Karena saya ga tahan, akhirnya saya kasih aja daun singkong yang belum saya makan biar dia pergi. Bukannya dia makan sendiri, eh daun singkongnya dia biarin untuk dimakan temennya. Seketika saya terpaku ngelihat prilaku ayam kampus itu. Hebat sekali, ayam kampus itu ternyata tidak mementingkan dirinya sendiri, dia mementingkan temannya. Dia lebih memilih daun singkong itu untuk dimakan temannya, beda sama beberapa manusia yang lebih memilih untuk makan temennya sendiri. Saya berubah menjadi kagum kepada beliau. Dari kejadian itu, saya langsung berpikir “ternyata ga salah kalo mereka disebut ayam kampus, mereka sangat berpendidikan.”

Dalam struktur sosial masyarakat ayam, ayam kampus menempati posisi sosial yang lumayan tinggi dibandingkan dengan ayam-ayam yang lain (ex: ayam kampung, ayam broiler, ayam kate, dll). Hal ini disebabkan karena ayam kampus dirasa mempunyai pendidikan yang lebih tinggi dibandingkan ayam-ayam lain. Dalam masyarakat ayam, pendidikan adalah nilai yang sangat dihormati karena dari sanalah tercermin ketangkasan si ayam dalam mencari makan dan berkembang biak. Sepertinya, ayam kampus merupakan ayam yang cukup beruntung karena bisa memasuki dunia kampus, beda dengan yang lain. Jadi untuk pengetahuan teman-teman saja, sebenarnya secara garis besar ada dua jenis ayam di Indonesia: yang pertama adalah ayam baik-baik, yang biasanya suka dimarginalkan dengan sebutan ayam penakut, yang ke dua adalah ayam bandel, yang biasanya suka disebut ayam pemberani atau ayam berani mati. Ciri-cirinya bisa diliat dari tempat di mana kamu liat ayam itu. Ayam baik-baik itu biasanya kita dapat jumpai berada di sekitar mushala, majelis ta’lim, perumahan warga (ayam komplek), dan pastinya juga dapat kita jumpai di kampus. Ayam baik biasanya nyari aman, berkeliarannya pun di sekitaran tempat baik, ga berani ke tempat yang macem-macem, makanya disebutnya ayam penakut. Beda dengan ayam bandel, ayam bandel biasanya bisa kita jumpai dalam keadaan mati di tempat jagal ayam. Ayam bandel ini emang ga bisa dibilangin, kalo maen suka jauh-jauh terus, makanya ayam ini suka disebut ayam pemberani atau ayam berani mati. Maennya ke tempat jagal ayam, tuh kan mati.

Ayam kampus Unpad, sama seperti ayam kampus lain, merupakan kaum ayam yang intelektual. Saya berani bilang begini ada testimoni dari salah seorang teman saya, namanya Yanto, yang merupakan mahasiswa S1 Ilmu Peternakan Fakultas Peternakan Unpad. Menurut Yanto, mahasiswa Fapet itu biasanya mengikutsertakan ayam kampus Unpad dalam beberapa penelitian yang mereka lakukan. Oh iya, Yanto teman saya ini manusia ya, bukan ayam. Mereka melakukan penelitian dengan ayam kampus Unpad di suatu lokasi yang disebut “kandang” (jadi ternyata selama iniUnpad itu punya kandang ayam kampus, hebat banget ya). Bayangkan, manusia (dalam hal ini mahasiswa Fapet) yang merupakan kaum intelektual, dan disebut-sebut sebagai makhluk paling sempurna, membutuhkan bantuan ayam kampus Unpad dalam penelitiannya yang kelak akan menghasilkan penemuan-penemuan yang mutakhir. Tentunya tidak sembarang ayam yang dapat membantu penelitian manusia ini, hanya ayam kampus Unpadlah yang karena keintelektualannya dinilai pantas untuk membantu mereka. Ayam kampus Unpad memang luar biasa, mereka ayam bukan sembarang ayam, mereka ayam ilmuwan. Itu mungkin yang membantunya itu ayam kampus yang mahasiswanya, gimana kalo yang ngebantunya itu ayam kampus yang dosen atau guru besarnya ya? Wah pasti akan lebih luar biasa Unpad dibawanya.

Jadi, pesan saya adalah sudah selayaknya kita sebagai mahasiswa yang katanya kaum intelektual menghargai posisi dan keberadaan ayam kampus Unpad. Kita sesama kaum intelektual harus saling menghargai dan menyayangi satu sama lain. Contoh konkritnya mudah saja. Ketika kamu bertemu dengan ayam kampus Unpad yang keliatannya kelaparan, dan kamu punya makanan (ciki, coklat, permen, nasi bungkus dll), kamu kasih aja ke dia, jangan pelit-pelit jadi orang. Tapi, kalo kamu bertemu ayam kampus Unpad yang keliatannya kelaparan, tapi kamu ga punya makanan, kamu ga usah repot-repot ke Indomart atau ke warung nasi buat ngebeliin dia makanan, kamu biarin aja soalnya ayam kampus Unpad itu kaum intelektual, pasti dia punya cara sendiri buat menemukan makanannya. Eh iya, kalo teman-teman penasaran kenapa saya bisa ketemu ayam kampus Unpadnya di Arboretum, bukan di “kandang” jawabannya adalah karena hari itu hari sabtu, mereka juga kuliahnya libur. Foto ayam kampus Unpad >klik<

Segitu aja ah dari saya. Dadaaahh~~

Catatan:

Dari cerita ini sebenarnya saya ingin menyampaikan bagaimana makna suatu kata atau frasa itu sangat tergantung sekali pada konteks. Dalam kosakata bahasa Indonesia, kita mengenal banyak sekali kata yang penulisan maupun pengucapan yang sama, tetapi sebenarnya maknanya berbeda, salah satunya adalah pada frasa “ayam kampus” yang menjadi tajuk utama tulisan ini. Kita tahu bahwa frasa “ayam kampus” itu mempunyai makna yang tidak berkonotasi (makna yang netral) maupun makna yang berkonotasi negatif. Makna yang tidak berkonotasi dari frasa “ayam kampus”, selanjutnya disebut makna 1, adalah ayam yang ada di kampus, atau bisa juga bermakna ayam milik kampus. Sedangkan, makna yang berkonotasi negatif dari frasa “ayam kampus” , selanjutnya disebut makna 2, adalah mahasiswi yang nyambi jadi pekerja seks komersial, atau bisa juga bermakna mahasiswi yang mau dan bisa untuk diajak berhubungan badan atau wanita tuna susila. Karena memiliki lebih dari satu makna, frasa “ayam kampus” memiliki potensi untuk menimbulkan ambiguitas makna. Bagaimana cara membedakan apakah arti dari frasa “ayam kampus” itu adalah makna 1, atau makna 2? Caranya ya itu tadi, dengan melihat konteksnya.

Pada paragraf pertama sampai ke tiga, saya tidak akan menyalahkan teman-teman ketika teman-teman berpikir bahwa makna frasa “ayam kampus” yang digunakan adalah makna 2 karena memang saya sengaja membuat konteks penulisannya seolah-olah ini adalah tulisan untuk orang dewasa. Saya pada paragraf 1 mem-bold kata “dewasa”, dan pada paragraf 2 mem-bold frasa “rahasia umum” untuk menimbulkan kesan bahwa ayam kampus yang saya bicarakan di sini adalah ayam kampus dengan makna 2. Adapun paragraf 3 hanyalah paragraf penghubung. Pada paragraf 4 dan selanjutnya, mulailah terlihat bahwa makna frasa “ayam kampus” yang saya bicarakan di sini adalah ayam kampus dengan makna 1 karena saya mulai memunculkan setting latar kejadian yaitu Arboretum Unpad, yang kemudian mulai dapat meruntuhkan sense dari makna 2 karena dapat timbul pertanyaan, walaupun kemungkinannya ada, “emangnya ada wanita tuna susila di Arboretum siang-siang yang ngegangguin orang yang lagi makan nasi padang?”. Nah, dari sini kita dapat melihat bahwa sebenarnya konteks sangatlah berpengaruh sekali terhadap pemahaman kita akan makna suatu kata, frasa, klausa, atau kalimat. Frasa “ayam kampus” dapat memiliki makna berbeda apabila ditempatkan pada konteks tertentu yang berbeda pula, sama halnya seperti arti kata bunga yang pastinya akan berbeda maknanya ketika digunakan antara dalam konteks perbankan dengan konteks pertamanan. Dalam Linguistik (ilmu tentang bahasa), ilmu yang mempelajari makna yang berhubungan dengan konteks disebut Pragmatik.

Ada Yang Punya Hobi Yang Sama Dengan Hobi Saya Kah?

Nonton Masih Dunia Lain (Live) mengingatkan saya pada hobi saya waktu masih berstatus mahasiswa angkatan muda. Dulu saya memang hobi menguji nyali saya ke daerah di sekitar kampus yang emang ceritanya sih serem-serem. Jujur aja dulu saya bukan orang yang termasuk berani, malah bisa dibilang penakut. Dulu tuh saya suka parno sendiri kalo lagi nonton tv malem-malem di rumah. Saya suka parno kalo suatu saat ada sosok yang turun dari tangga rumah (rumah saya 2 tingkat), atau ada yang tiba-tiba menegur dari ruang tamu yang memang kalo malam lampunya selalu dimatiin. Tapi, walaupun saya tergolong penakut, saya sangat tertarik sekali dengan dunia mistis. Saya suka buka-buka situs web yang serem-serem, ngeliat gambar setan, baca cerita serem, maen ke forum supranatural di Kaskus, dll.

Semua berubah sejak saya lulus SMA dan memutuskan kuliah di Unpad ini. Saya yang tadinya penakut, jadi lebih berani untuk berhadapan dengan makhluk dari dunia lain. Awalnya memang dari rasa penasaran saya yang gak terbendung terhadap dunia gaib. Dimulai waktu semester satu kuliah saya nemu sama salah satu thread di kaskus yang judulnya kumpulan cerita seram Unpad Jatinangor yang kemudian saya ikut terlibat dalam perekapan setiap cerita yang ada di saya. Saya ngebantuin TS-nya waktu itu, teh Nia, dari Sastra Jepang 2006 untuk ngerekap cerita yang dibagikan oleh kaskuser di sana biar gampang buat di baca. Karena saya yang ngerekap, mau ga mau saya jadi salah satu orang yang dulu paling lengkap banget pengetahuannya tentang cerita keangkeran dari kampus Unpad dan sekitarnya. Sayapun dulu gak sungkan untuk menceritakan kembali cerita-cerita tersebut pada teman-teman kuliah saya yg lain yang memang penasaran juga sama hal-hal begituan.

Semakin saya tahu, semakin saya penasaran. Dari yang tadinya penakut untuk terjun langsung, saya sedikit demi sedikit mencoba berani untuk terjun langsung uji nyali, atau sekedar jalan-jalan malam ke tempat-tempat yang katanya angker yang ada di Unpad ini. Udah banyak tempat yang katanya angker di Unpad yang saya sambangi. Mulai dari Kantin FISIP, Kampus Keperawatan, FIKOM, Pertanian (yang katanya ada kuntilanak merahnya), Kampus FISIKA, Lapangan Merah, Hutan Arboretum (yang katanya ada kepala buntung), jalan UKM barat dan depan FISIP (yang katanya banyak pocongnya), PEDCA, Bale Santika, Depan Gor Pakuan, Jembatan Cincin, Kuburan Cincin, Kampus Sastra dan PSBJ (wah kalo ini sih udah paling khatam banget deh hehe), dan lain-lain. Sendiri atau banyakan saya pernah. Rata-rata sih saya jalan di atas jam 9 malam dan pernah sampai jam 3 subuh. Kalo dibilang takut sih ya pasti takut, cuma ya mau gimana lagi, kalo udah penasaran sih ya sikat aja deh. Tidak sedikit juga hal pengalaman menarik yang saya dapatkan dari hobi saya yang satu ini terutama ketika tim wisata mistis Kaskus dateng ke Jatinangor, dan saya yang menjadi semacam tour guidenya gitu. Kalo cerita sekarang ga sanggup ah, udah malem, dan mau nonton Masih Dunia Lain, dan udah ngantuk juga sih. Mungkin lain waktu akan saya bagikan di sini pengalaman saya berwisata mistis ria di kampus Unpad. Selamat malam dan selamat beristirahat 🙂

Nb: By the way saya ngetik tulisan ini sambil nonton Masih Dunia Lain Trans TV. Kemajuan banget deh sekarang reality show ini udah ada yang versi Live-nya. Episode kali ini bertempat di sebuah gedung tua di Jakarta. Aktivitas makhluk gaibnya luar biasa banget, dan saya salut sama peserta uji nyali di sana, terutama sama peserta yang ke-3. Berani banget dia, empat jempol deh! Anyway, udah mulai nih sesi uji nyali yang ke-empat. Saya undur diri dulu ya mau nonton. Wassalam 🙂

Apa Yang “FlappyBird” Ajarkan Kepada Kita Mengenai Hidup

image

FlappyBird. Bagi teman-teman yang memiliki perangkat ber-Operating System Android atau iOS pasti udah ga asing lagi sama game yang satu ini yang sekarang emang lagi populer. Tapi, kalo ada yang belum tau, dan nanya “FlappyBird itu game apaan sih?” mungkin gambar di bawah ini dapat memberikan teman-teman pencerahan FlappyBird.

image

Yup, FlappyBird itu emang game yang menantang ketangkasan kita untuk maenin burung. Game-nya itu menurut saya simple banget. Kita cukup tap-tap-tap atau nyentuh layar biar burungnya terbang ga jatuh ke darat atau ga nyentuh pipa-pipa ijo. Kalo nyentuh pipa ijo, atau jatuh ke darat, berarti kita mati.Tapi, setiap ngelewatin pipa ijo, nanti kita dapet satu poin yang kalo kita kumpulin terus nanti dapet medal: bronze, silver, gold, platinum. Sangat simple memang gameplay-nya. Tapi, siapa sangka kalo di balik sederhananya game FlappyBird ini ternyata ada pelajaran tentang hidup yang terselip loh. Penasaran? Yu kita simak.

1. Selalu bersiap dalam hidup.

Sebelum permainan dimulai, kita bakal dihadapkan dengan layar yang isinya seruan “Get Ready!” Saya yakin tulisan “Get Ready!”ini dipasang bukan tanpa ada maksud. Yang saya tangkap, dengan tulisan ini developer game ini ingin kamu bersiap-siap sebelum mulai main.

image

Maksudnya, sebelum mulai, dia ingin memastikan sudahkah kamu membereskan segala hal atau kewajiban yang memang harus segera dibereskan seperti contohnya udah ke kamar mandi atau belum, udah ibadah apa belum, udah makan apa belum, udah ngerjain skripsi tugas apa belum, udah ngebalesin sms, BBM, WA, atau Line yang masuk apa belum, udah matiin koneksi apa belum. Hal ini untuk memastikan ketika nanti kamu main kamu ga ada gangguan, kamu bisa fokus, bisa konsentrasi penuh buat ngelewatin rintangan pipa ijo buat ngedapetin poin sebanyak-banyaknya. Bayangin kalo misal lagi asik-asiknya main, tiba-tiba ada telepon masuk, atau kebelet mau ke WC, pasti kan bakal ganggu banget. Begitu pula dalam hidup. Sebelum memulai hidup kita, tiap paginya, kita juga harus dalam keadaan siap. Kita harus siap-siap sebelum menghadapi rintangan yang akan datang menghadang tiap waktunya. Contoh simple-nya sih ya sebelum memulai aktivitas hari ini, kita harus sarapan dulu biar ada tenaga, atau kalo kita nanti siang ada kuis, ya seengganya kita harus buka-buka lagi catetan kuliah kita.

image

2. Dalam hidup kita harus selalu bergerak.

Dalam game ini, si burung ga ada berhenti-berhenti terbang ke depan. Walaupun dia harus menghadapi rintangan pipa ijo yang kalo ditabrak bisa bikin benjol, dengan gagah beraninya dia terus terbang ke depan, dia terus bergerak. Nah, dalam hidup juga kita harus terus bergerak ke depan, gak boleh diam, karena waktu berjalan, dan dunia ini pun bergerak. Sebentar saja kita diam, maka kita akan tertinggal oleh yang lain. Toh, dalam pelajaran Biologi pas SMP juga kan kita diajarin bahwa salah satu ciri makhluk hidup adalah bergerak. Kalo kita sudah gak bergerak, ya berarti kita mati, kalo mati ya dikubur terus abis itu ditinggal sendiri deh di kuburan sama yang lain.

image

3. Bisa karena biasa.

Saya yakin ketika awal-awal kita bermain game ini kita pasti akan ngerasa kalo kita sedang bermain game yang sebenarnya secara gameplay itu sederhana namun ternyata susah juga buat dimaininnya. Bagaimana tidak, kita harus menyeimbangkan terbang si burung dengan menyentuh layar secara taktis. Salah-salah nyentuh layar malah bisa bikin burung kita kejedot pipa ijo. Di 20 game pertama saya, saya cuma bisa mencetak 1 sampai 3 poin, gagal dalam rintangan pertama (tidak dapat poin satupun) bahkan adalah hal yang lumrah. Sempet mikir untuk uninstall game ini karena bikin stress dan kesel (malah ada yang bilang bisa bikin kamu banting HP). Tapi, ternyata setelah saya mencoba lebih sering, perlahan tapi pasti skor akhir saya terus meningkat, 5, 20, 23, 44, 60, dan yang sekarang yang tertinggi adalah 81. Skor rata-rata yang awalnya per-game itu paling cuma 1 sampai 5, sekarang jadi bervariasi menjadi 20 sampai 40an. Pelajaran yang dapat kita ambil adalah terkadang kita terlalu awal untuk menggap sesuatu itu sulit sehingga kita cepat menyerah. Padahal, sebenarnya hal tersebut tidaklah sulit untuk dilakukan, hanya kita saja belum terbiasa untuk melakukannya. Kalian tahu dukun? Saya yakin dukun manapun di dunia ini pasti awalnya takut sama yang namanya setan. Tapi, semakin sering mereka berinteraksi dengan setan, semakin hilanglah rasa takutnya. Kalo ditanya kenapa, pasti jawabannya karena sudah terbiasa, dan karena udah tau ilmunya pastinya. Bayangkan dulu kalo si dukun itu pas pertama ngeliat setan dia takut terus nyerah gitu aja (uninstall aja), saya yakin dia ga bakal jadi dukun dan akan terus takut sama yang namanya setan. Untung dipaksain, jadinya berhasil deh jadi dukun. Ya, bisa karena biasa, biasa karena dipaksa.

image

4. Kesuksesan itu butuh proses.

Di game FlappyBird ini, kita tidak memulai permainan dari poin 40 atau 70 atau 100, kita semua memulai permainan dari poin 0 “nol”. Dari poin nol inilah kita memulai, lalu mengumpulkan poin. Setiap melewati tantangan, kita hanya mendapat satu poin, tidak langsung 100. Kita mengumpulkan poin satu demi satu yang nantinya menentukan dapat medali apakah kita: bronze, silver, gold, atau platinum yang masing-masingnya tentu saja mencerminkan kesuksesan kita dalam bermain game ini. Udah mah ngumpulin poinnya satu satu, pas udah ngumpulin banyak, eh di tengah jalan nabrak pipa, dan harus mulai dari nol lagi, tidak ada checkpoint! Ini butuh kesabaran, dan tentu saja melelahkan. Nah, dalam hidup juga seperti itu. Kalo kita mau sukses, kita harus sabar dalam melewati tiap-tiap proses dalam mencapai kesuksesan kita. Jangan jadi pribadi yang pengennya apa-apa instan, termasuk dalam meraih kesuksesan, karena biasanya yang seperti itu akan menghalalkan segala cara agar dia sukses. Sukses yang instan dengan menghalalkan segala cara, atau kalo dalam game ini maen game-nya pake cheat, adalah sukses yang palsu, gak bakal bertahan lama. Jadi, kalo mau sukses ya nikmati aja perjuangan kamu, nikmati aja prosesnya walau kamu harus jatuh bangun. Ingatlah bahwa kesuksesanmu itu berbanding lurus dengan kadar lelahmu, jadi kalo mau sukses jangan takut buat berlelah-lelah.image

5. Kalo kamu jatuh, ya bangkit lagi.

Game FlappyBird ini emang bikin kecanduan banget. Walaupun burung kita mati nabrak pipa terus, kita kayanya ga ada bosen-bosennya buat main lagi dan lagi dari nol buat ngelampauin Best Score kita sendiri yang udah kita cetak sebelumnya. Best Score itu ibarat napak tilas kesuksesan yang pernah kita torehkan dalam permainan ini, yang senantiasa kita coba untuk lampaui walaupun harus ngebuat burung kita benjol-benjol nabrak pipa.

image

Nah, beginilah seharusnya kita memperlakukan hidup kita. Kalo kita pernah sukses, dan tiba-tiba kemalangan menimpa kita sehingga kita menjadi “bangkrut”, kita harus optimis untuk memulai mencapai sukses kita kembali karena kita tahu bahwa kita pernah sukses. Ibaratnya sih gini “dulu aja bisa sukses, kenapa sekarang engga? Pasti bisa dong!” Orang yang pernah sukses pasti tahu caranya agar jadi sukses, dan untuk menjadi lebih sukses lagi, dia hanya perlu untuk mengambil pelajaran dari kejadian yang membuat dia dulu jatuh. Tetap bersemangat, ambil pelajarannya, perbaiki, niscaya kita bisa menjadi lebih sukses.

image

6. Teladani FlappyBird, jangan Angry Birds.

Poin 6 ini saya tujukan kepada bangsa burung, tidak dianjurkan untuk dibaca oleh kaum manusia. Karakter utama dari game ini adalah seekor burung. Burung jenis apa saya tidak tahu, yang jelas, dari yang saya lihat, Flappy Bird ini adalah burung yang sangat malang. Bayangkan saja, burung ini cuma punya kepala dan sayap saja, tidak punya leher, tidak punya badan, dan tidak punya kaki atau dengan kata lain burung itu mengalami -maaf- cacat fisik.

image

Dengan segala keterbatasannya, burung itu terus mengepakkan sayapnya menghibur siapa saja yang memainkannya. Bahkan, salah satu sumber mengatakan bahwa burung tersebut, di tengah keterbatasannya, mampu membuat pembuatnya menghasilkan Rp600juta per hari. Luar biasa sekali bukan? Jadi, sepantasnya bagi kalian burung-burung yang lain untuk mencontoh FlappyBird yang tidak pernah malu dengan keterbatasannya tampil di hadapan 50juta orang yang sudah mengunduhnya di PlayStore maupun APP Strore sehingga dapat membuat hal yang baik bagi pemilik kalian. Janganlah mencontoh Angry Birds, karena dia adalah burung pemarah yang hanya gara-gara telurnya dicuri jadi menyerang bangsa babi dengan mengorbankan sanak familinya Jangan contoh Angry Birds, karena pemarah merupakan sifat syaitan. Wallahualam.

image

Itulah kira-kira pelajaran yang dapat kita ambil dari permainan FlappyBird ini. Pelajaran memang dapat diambil dari manapun, asal kita mau berpikir dan jeli melihatnya. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi saya. Selamat ber-FlappyBird ria.

Nb: Baru kemaren tenar, kayanya game ini bakal dapet saingan dari game yang serupa yang bernama Iron Pants. Ada yang udah main Iron Pants?